Sastra pentas Jidor Sentulan pertama kali hadir di masyarakat pada kisaran tahun 1830-1840. Konon, kesenian ini dibawa oleh salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 Perang Diponegoro telah berhasil dipadamkan oleh kompeni.

Susi Darihastining*)

Kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional mengemukakan bahwa melalui literasi dapat menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan efektivitas secara sistematis serta dapat membangun kehidupan komunikasi dan informasi dalam menyelesaikan masalah. Dampak dari literasi baca-tulis dapat membawa peningkatan kemampuan seseorang bersosialisasi di masyarakat, melalui proses baca-tulis seseorang dapat mengolah informasi, memahami, kemampuan menganalisis, mampu menanggapi dan mempunyai kemampuan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi kemampuan menulis dan membaca dapat dikatakan merupakan pusat kemajuan vision paper.

Upaya pemerintah untuk menggerakkan kemampuan daya kreativitas dalam keterampilan berbahasa sedang digencarkan di Indonesia. Di seluruh sekolah-sekolah didengung- dengungkan literasi dalam berbagai bidang pendidikan. Seperti diungkapkan oleh Koichiro Matsuura Direktur Umum UNESCO, dalam bukunya yang berjudul “Global Monitoring Report” bahwa kemampuan literasi baca-tulis adalah langkah awal untuk membangun kehidupan dan peradapan yang lebih baik serta dapat partisipasi dalam berbagai kegiatan sosial, kultural,politis dan ekonomis pada zaman modern yang terbuka dengan masyarakat ekonomi ASEAN.

Wujud Penerapan Literasi

Sebagai usaha membuka informasi pengetahuan yang tertuang didalam huruf dan angka serta dibarengi dengan pemanfaatan Iptek menghadirkan kemahiran berliterasi yang bermuatan pendidikan kharakter. Literasi baca-tulis dapat berkembang dari waktu ke waktu. Literasi baca-tulis merupakan melek aksara dalam arti tidak buta huruf. Literasi merupakan sebuah aktivitas yang dapat dikembangkan melalui beberapa aspek, membaca,menulis, berbicara, menyimak, sain dan budaya. Pada aspek bahasa atau linguistik peserta didik atau mahasiswa seharusnya tidak hanya memahami linguistik tetapi disamping itu harus memahami aspek parole cara bertindak tutur, yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya. Baik budaya lokal maupun budaya nasional. Aspek budaya itulah yang mulai sekarang harus ditanamkan kepada anak didik kita. Sebelum aspek budaya itu terkikis dan terpengaruh oleh budaya negara asing.

Jidor Sebagai Sastra Pentas
Sastra pentas Jidor Sentulan pertama kali hadir di masyarakat pada kisaran tahun 1830-1840. Konon, kesenian ini dibawa oleh salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 Perang Diponegoro telah berhasil dipadamkan oleh kompeni. Pernyataan ini didukung oleh fakta pada tahun 1829. Pernyataan ini yang pernah dikemukakan oleh Peter Carey dalam bukunya berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 tahun 2012. Sastra pentas Jidor Sentulan sebagai sastra lisan. Sastra pentas ini mempunyai narasi, beda dengan sastra pentas yang lain. Sastra pentas ini menampilkan kisah-kisah narasi yang bersifat pakem, ada lima tokoh inti. Nilai-nilai yang terkandung dalam dialog narasinya meliputi nilai religius, nilai sosial dan nilai ekonomi. Nilai-nilai itu dapat dianalisis dari berbagai bidang ilmu. Pembukaan cerita diawali dengan salawatan dan diakhiri dengan adegan trans atau ndadi. Salawatan yang diiringi oleh alat-alat musik seperti Jidor, kendang, terbangan, kaset, tape recorder, dan pelantang. Bentuk artikulasi berkesenian ini mempunyai jumlah anggota pemain sebanyak 23 orang. Kelompok pegiat Jidor Sentulan yang diketuai oleh Satim sudah dilakukan secara turun-temurun. Walaupun saat ini penggenerasian dirasakan sangat susah. Pemertahanan sastra pentas dan kesempatan berkesenian dijalankan melalui acara-acara hajatan masyarakat setempat, mulai dari acara khitanan, pernikahan, dan acara-acara sosial lainnya.

Jidor sebagai Ikon dari Kampung Jidor


Sastra pentas Jidor Sentulan terus diupayakan oleh pegiat Jidor Sentulan untuk bertahan dan berkembang. Hanya saja untuk hal itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi upaya untuk semua diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Seperti pemerintahan daerah, masyarakat setempat dan penggagas-penggagas ide kreatif dari genarasi muda desa, pelajar,mahasiswa, guru, dosen, peneliti dan praktisi seni. Upaya keras pegiat seni Jidor Sentulan dalam merepresentasikan sastra pentas Jidor Sentulan membawa penulis tergelitik ingin ikut andarbeni untuk menggayutkan sisi budaya lokal dengan pendidikan. Penulis berasumsi bahwa Sumber Daya Masyarakat (SDM) dari pegiat seni Jidor Sentulan ini sangat potensi. Sehingga bisa mengangkat Desa Bongkot yang berada di Kecamatan Peterongan Jombang bisa menjadi desa wisata budaya nantinya. Sekaligus dapat menjadi ikon kota Jombang yang multikultural.

Jidor sebagai Media Pembelajaran

Proses menstimuli unsur-unsur budaya dalam masyarakat dan generasi muda kita dapat dimulai dari pengenalan, pemertahanan dan pelestarian budaya lokal. Sebagai pendidik kita perlu menggayutkan unsur-unsur budaya pada proses pembelajaran di sekolah maupun di kampus. Dengan hal itu akan dapat menimbulkan kepekaan kepada generasi muda kita untuk ikut bertanggung-jawab dalam perkembangan budaya daerah yang sekaligus akan menjadi budaya nasional. Unsur kebudayaan dapat dimasukkan dalam muatan kurikulum. Salah satu contoh aplikasi pada penggunaan media pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia pada aspek keterampilan berbahasa menyimak, guru atau dosen bisa berkreatif menggunakan CD pembelajaran yang berisi narasi budaya lokal. Begitu juga pada aspek keterampilan menulis peserta didik atau mahasiswa diajak untuk bereksplorasi menulis cerita budaya lokal. Pada aspek keterampilan berbicara misalnya juga dapat dimuati unsur budaya dengan cara peserta didik atau mahasiswa wajib bisa sebagai reportoar atau reporter menceritakan hasil observasi penggalian budaya lokal.

Pada bidang pendidikan lain misalnya mata pelajaran Kewarganegaraan atau PKn, peserta didik atau mahasiswa dituntun untuk dapat mengklasifikasikan bentuk-bentuk nilai religius, nilai sosial, politik dan ekonomi dari penelusuran aspek-aspek budaya yang terdapat di masyarakat setempat apakah itu dalam bentuk kesenian, alat-alat seni, destinasi wisata, situs yang bersejarah atau produk budaya lainnya. Penulis mencoba berupaya mengeliatkan mahasiswa untuk berkolaborasi memahami dan mengaplikasikan unsur budaya dalam mata kuliah keterampilan berbahasa. Melalui penggunaan media pembelajaran dengan CD pembelajaran yang berbasis sastra lisan saya ambilkan dari lokal Jombang sastra pentas Jidor Sentulan diterapkan pada keterampilan berbahasa, yaitu menyimak. Mahasiswa diajak untuk menyimak cerita-cerita budaya lokal atau daerah yang nantinya sebagai stimulan untuk menulis cerita atau narasi. Dengan begitu peserta didik atau generasi muda mempunyai skemata untuk khasanah budaya yang kita miliki.

Disamping unsur-unsur budaya itu masuk dalam kurikulum atau media pembelajaran, gagasan penulis bisa masuk juga pada kegiatan praktis misalnya perbanyak masukan-masukan budaya di ruang publik. Seperti saat acara Peringatan Kemerdekaan Indonesia, Upacara Hari Pendidikan Nasional, memasukkan program-program promosi keberadaan seni tradisional, atau munculkan festival atau olimpiade seni atau budaya. Hal ini dapat membangun rasa berbudaya, rasa memiliki budaya lokal dan berkesenian dalam masyarakat. Sehingga budaya kita tidak mudah terpengaruh oleh budaya negara asing.

*) Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.
Sebelumnya Berikutnya