Peningkatan soft skill peserta didik utamanya dalam hal kreativitas dapat dilakukan oleh guru dengan memberikan stimulus. Diantaranya melalui diskusi menemukan sebuah ide produk yang menjadi tugas kelas.

JOMBANG - Kelahiran ekonomi kreatif banyak mengandalkan ide dan keluasan pengetahuan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menciptakan suatu hal baru bernilai ekonomi, tanpa disadari sebenarnya masyarakat Jombang telah lama menggeluti aktivitas tersebut. Hanya saja, minimnya pengetahuan mengenai istilah ini membuat masyarakat masih asing ketika mendengarnya.

Sebagian beranggapan industri kreatif harus menghasilkan sebuah karya, tetapi dilihat dari maknanya tidak bisa dikatakan industri kreatif apabila belum bernilai ekonomi. Sebab melalui kegiatan tersebut nantinya bisa menghadirkan lapangan kerja baru.

Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang melalui Kepala Bidang Perindustrian, Dr. Rika Paur Fibriamayusi, S.STP, M.KP., menuturkan, “Dilihat dari potensi masyarakatnya, pertumbuhan industri kreatif di Jombang berjalan cukup cepat. Hanya saja sebagian besar berjalan sendiri-sendiri dan belum terstruktur dengan baik”

Selaku badan pemerintahan yang menaungi perindustrian Kota Santri, Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang akan melakukan pendataan serta pemetaan terhadap pelaku maupun jenis industri kreatif. Para pengusaha tersebut akan dirangkul untuk bergerak bersama dikubangan perkembangan industri kreatif sampai di tahapan tertinggi dengan melambungkan brand masing-masing, agar keuntungan dapat dirasakan langsung oleh produsen bukan melalui perantara.

“Selain merangkul semua aktor industri kreatif, melakukan pelatihan keterampilan pemasaran dan kreativitas generasi muda juga menjadi poin penting di era generasi milenial ini, ijazah bukan menjadi hal mutlak untuk mendapatkan pekerjaan. Dari hasil survei menunjukkan jika lulusan SMK menjadi jenjang pendidikan penyumbang angka pengangguran terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu, adanya enambelas bidang industri kreatif bisa membuka peluang kerja baru,” tambah perempuan yang akrab disapa Rika tersebut.

Guna mensukseskan hal tersebut, persiapan harus dilakukan sejak dini. Contohnya di bangku perkuliahan, persiapan dapat dimulai sejak awal masa perkuliahan. Mahasiswa ditugaskan menjalankan sebuah usaha. Dari kebiasaan itu, mahasiswa akan semakin terbiasa dan mahir melihat segala kemungkinan peluang ekonomis melalui sebuah ide-ide kreatif.

“Usaha mandiri yang diusulkan mahasiswa bisa dimulai dari passion, melalui hal-hal yang disukai atau kegiatan sehari-hari. Jika sudah ditemukan ide awalnya, dilanjutkan menyusun proposal lengkap hingga wujud promosi dan pemasarannya. Nantinya di setiap langkah yang dijabarkan akan mendorong mahasiswa untuk berpikir banyak hal, mulai dari cara menarik konsumen melalui membuat kemasan, menciptakan produk yang mampu masuk di semua kalangan, menyusun bentuk promosi menarik, sehingga akan mendapatkan pengalaman tambahan dan sangat berguna dalam meningkatkan keterampilannya di bidang industri kreatif,” jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dan Kerjasama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) PGRI Dewantara Jombang, Chusnul Rofiah, SE., MM.

Ditambahkan oleh wanita berhijab tersebut, di awal penugasan memang terkesan memaksa. Beberapa mahasiswa terkendala kesulitan menemukan ide. Disitulah peran dosen membimbing mahasiswa menemukan idenya, mengarahkannya kearah positif dan bernilai ekonomi. Selanjutnya mahasiswa dibiarkan menjalankan usahanya sampai akhirnya menemukan sebuah kendala. Kendala yang ditemui, diyakini akan memancing munculnya ide kreatif baru dalam membenahi usahanya.

Selama memberikan pendampingan, dosen juga membentuk komunitas berisikan sesama pelaku industri kreatif. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa agar saling bertukar pendapat dan menyodorkan usulan sesuai pengalaman masing-masing dalam menjalani usahanya.

“Membiarkan mahasiswa saling bertukar pengalaman bukan tanpa alasan, melainkan sebagai penghilang kesan menggurui. Umumnya mahasiswa merupakan generasi muda dengan ego yang cukup tinggi. Mereka akan lebih menerima arahan atau usulan teman sebayanya ketimbang dari dosen yang usianya terbilang di atas mahasiswa,” ungkap Chusnul Rofiah.

Poin penting yang menjadi motivasi bagi seluruh generasi muda adalah dukungan orang tua. Bukan rahasia lagi jika orang tua lebih senang melihat buah hatinya mengenakan setelan seragam dengan gaji tetap di setiap bulan. Tetapi peluang menuju jalan tersebut tidak selalu tersedia.

Chusnul Rofiah berpendapat, “Untuk itu orang tua juga perlu diberi pengetahuan terhadap kewirausahaan hingga industri kreatif. Meski anak-anak muda sekarang sudah berani untuk mengembangkan ide usaha melalui kewirausahaan dan bergerak di industri kreatif, namun banyak orang tua memandang sebelah mata kegiatan positif yang dilakukan sang anak.”

Maka perempuan sekaligus enterpreneur itu berkeinginan mengadakan pelatihan kewirausahaan dan penggalangan industri kreatif pada para orang tua.

“Siapa tahu kedepannya anak dan orang tua bisa berkolaborasi menciptakan usaha bersama,” tutup Chusnul Rofiah.

Kepala Bagian Pusat Pengembangan Kewirausahaan dan Pembinaan Karir (PPKPK), STIE PGRI Dewantara Jombang, Nuri Purwanto, S.St menambahkan, “Mahasiswa tidak perlu ragu memulai usaha meski awalnya sederhana, karena dari yang sederhana itu bisa menjadi besar dengan usaha dan kreativitas.”

Dikaitkan dengan industri kreatif yang menurut data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tahun 2016 menyumbang kontribusi sebesar 7,44% terhadap total perekonomian nasional, pria yang juga mengampu mata kuliah Pemasaran Global ini berpendapat mahasiswa saat ini sudah bisa melihat peluang. Misalnya memadukan beragam media seperti fotografi dan videografi secara kreatif untuk memasarkan usahanya.

Saat ini, di STIE PGRI Dewantara sendiri berawal dari tugas kuliah telah muncul usaha-usaha yang berkaitan dengan industri kreatif seperti video editing for business, bucket creation (membuat bucket dari berbagai macam bahan, tidak hanya berasal dari bunga), sketch face, make up for party, food photography, eco-product (membuat barang-barang baru dari bahan-bahan daur ulang), dan endorsement.

Seakan setuju mengenai hal tersebut, salah satu dosen Pendidikan Ekonomi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Jombang, Cahyo Tri Atmojo, S.Pd., M.M. mengungkapkan, “Meski memiliki ijazah keguruan, mahasiswa harus tetap mengenal ekonomi kreatif sebagai bekal selepas menyandang gelar S.Pd. dari sekolah tinggi berlatar keguruan ini.”

Sebagai pertimbangan, kesempatan menjadi guru tidak selalu tersedia dan gaji guru honorer saat ini juga tidak bisa digunakan sebagai penopang pemenuhan kebutuhan sehari-hari, maka jalan terbaik adalah terjun di dunia industri kreatif. Meski memiliki dasar sebagai sekolah keguruan, dosen harus bisa memotivasi mahasiswa menggunakan keterampilannya yang masuk dalam enambelas subsektor industri kreatif.

Untuk mengenalkan ekonomi kreatif, dosen akan menginstruksikan mahasiswa melakukan analisa lingkungan. Mulai dari kebutuhan hingga tingkat daya beli masyarakat. Melalui kegiatan itu setidaknya sudah mengetahui pasarnya. Otomatis suatu ide kreatif akan mudah terjual kepada masyarakat.

Industri kreatif di sini tidak hanya berupa sebuah barang saja. Masih ada jasa, desain dan pengembangan aplikasi. Di bidang-bidang tersebut mahasiswa cukup mengandalkan skillnya mengoperasikan software yang ada sesuai kemampuan masing-masing. Artinya industri kreatif tidak harus memiliki modal besar, terpenting adalah kemauan serta kejelian seseorang.

Pengembangan Soft skill dan Dukungan Berbagai Pihak

Sementara itu, menurut Ketua Musyawarah Kelompok Kepala Sekolah (MKKS) SMK Swasta Kabupaten Jombang, Drs. Arief Sugiharto, MM. mengatakan, “Dasar anak bisa aktif, kreatif dan visioner (berpikiran ke depan) adalah dari soft skill-nya. Jika anak telah memiliki soft skill yang bagus, maka akan mudah dibentuk dan diarahkan. Namun perlu diingat, membentuk soft skill tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada peserta didik. Membentuk sikap mentalnya tergantung pada keluarga, lingkungan bermain (teman), dan masyarakat.”

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala SMK Dwija Bhakti 1 Jombang ini menambahkan bahwa pembentukan soft skill tidak bisa secara tiba-tiba, harus dikawal dengan sungguh-sungguh. Lingkungan sekolah beserta guru bersama institusi tertentu dapat membantu untuk membentuk soft skill.

Peningkatan soft skill peserta didik utamanya dalam hal kreativitas dapat dilakukan oleh guru dengan memberikan stimulus. Diantaranya melalui diskusi menemukan sebuah ide produk yang menjadi tugas kelas.

“Peserta didik diberikan kebebasan dalam menuangkan ide seluas-luasnya. Beragam ide dan informasi boleh dicari dari internet. Setelah dapat, dipresentasikan dan didiskusikan bersama,” ucap Arief Sugiharto.

Ditambahkan oleh Arief Sugiharto, kebebasan untuk mengembangkan produk yang ingin dihasilkan tidak hanya sebatas pada tahap penggalian ide. Tetapi juga dalam tahap produksi, pemasaran, hingga analisis pasca produksi dan pemasaran.

Arief Sugiharto berujar, “Peserta didik juga harus diajari eksis dalam pembuatan produk. Menganalisis kelebihan dan kekurangan produk yang dibuat. Terobosan pengembangan produk dengan menghadirkan guru tamu yang menguasai teknologi dan pasar.”

Untuk semakin memberikan pengalaman dan suasana kerja yang nyata, di SMK juga terdapat metode pembelajaran teaching factory. Pada metode pembelajaran ini, peserta didik dikondisikan dalam suasana pembelajaran yang sama dengan dunia industri. Merasakan suasana kerja yang sesungguhnya diharapkan dapat muncul kreativitas dari peserta didik. Selanjutnya guru Bimbingan Konseling (BK) akan membantu memberikan arahan sesuai dengan bakat dan kompetensi keahlian yang diambil peserta didik. Namun tidak menutup kemungkinan untuk menekuni bidang lain di luar kompetensi keahlian. fakhruddin / fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya