Salah satu Cerita Panji mengisahkan percintaan Raden Panji Asmarabangun yang tidak lain adalah putera mahkota kerajaan Jenggala, dengan Dewi Sekartadji puteri kerajaan Panjalu atau Kadiri.

JOMBANG – Salah satu Cerita Panji mengisahkan percintaan Raden Panji Asmarabangun yang tidak lain adalah putera mahkota kerajaan Jenggala, dengan Dewi Sekartadji puteri kerajaan Panjalu atau Kadiri. Namun jalinan kasih sepasang sejoli ini tidak berjalan mulus, banyak romantika berupa petualangan dan penyamaran hingga cerita Panji kemudian melahirkan banyak versi.

Seperti garapan teater Mahasiswa STKIP PGRI Jombang, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015 dengan lakon Kethek (kera) Ogleng. Cerita ini menurut sang sutradara, Abiutomo, memadukan dua unsur cerita Raden Inu Kertapati (Raden Panji Asmarabangun) dari cerita Wayang Topeng Jatiduwur dan seni tari Kethek Ogleng dari Pacitan.

Dikisahkan dalam cerita tersebut bahwa untuk mewarisi tahta ayahnya dari kerajaan Panjalu, Dewi Sekartadji harus menikah terlebih dahulu. Tetapi sang kekasih (Raden Inu Kertapati) yang juga sebagai pewaris tahta kerajaan Jenggala belum siap karena harus memperdalam ilmunya. Dewi Sekartadji lantas lari dan mengungsi di desa terpencil.

“Kesempatan dimanfaatkan oleh Dewi Liku dan Ajeng untuk menyebar fitnah bahwa Dewi Sekartadji lah yang menyebarkan pagebluk. Ini tidak lain adalah untuk mengambil hati Raden Inu Kertapati,” kata Abiutomo.

Setelah Raden Inu Kertapati usai mendalami ilmunya, lanjut ceritanya, dirinya pun ingin menemui Dewi Sekartadji. Tetapi dalam pesannya dia harus menjelma sebagai kethek dan menuju ke Barat supaya dapat ketemu calon istrinya tersebut dan menikah dengannya.

“Cerita yang kami angkat ini mengambil struktur dari tarian Kethek Ogleng dari Pacitan dan spirit-nya dari Wayang Topeng Jatiduwur. Tetapi di sini kami tidak menggunakan topeng seperti karakteristik dari Wayang Topeng Jatiduwur sendiri karena kami lebih menonjolkan mimik wajah dan mengemasnya dalam teater modern,” kata Abiutomo ketika ditemui seusai pementasan (8/7).

Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, tambahnya, namun yang paling penting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa memiliki akan budaya tersebut.Dengan demikian ada keinginan untuk mempelajarai dan melestarikannya.

Sementara itu Budayawan Jombang, Nasrulillah mengatakan bahwa kebudayaan Panji merupakan kearifan lokal dari Jawa Timur yang kemudian mampu meyebar ke berbagai wilayah nusantara, bahkan sampai ke mancanegara, sejak beberapa abad yang lalu. Penyebaran Kebudayaan Panji sampai di luar Jawadwipa (Pulau Jawa) seperti Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga ke Negeri Semenanjung (Malaysia), Siam (Thailand), dan Kamboja.




Bentuk lain dari cerita Panji juga dikenal melalui dongeng yang sudah lama akrab dengan dunia anak-anak, seperti Andhe-andhe Lumut, Keong Emas, Enthit, Cinde Laras dan sebagainya. Bahkan di sejumlah Candi yang ada di Jawa Timur terdapat relief yang mengisahkan Cerita Panji. Sementara terdapat ratusan naskah Cerita Panji dalam berbagai bahasa yang tersebar di seluruh nusantara dan beberapa negara Asia hingga Eropa. Contohnya terdapat di Belanda juga Inggris. Keberadaan naskah-naskah inilah maka Cerita Panji kemudian mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) pada bulan Oktober 2017 yang baru lalu. 

“Di Kabupaten Jombang, jejak Budaya Panji masih terlihat, meskipun sebagian lamat-lamat. Jenis kesenian yang masih merepresentasikan Budaya Panji antara lain Wayang Topeng Jatiduwur, Sandur Manduro, Wayang Krucil, Kentrung, Geguritan, bahkan Ludruk pun tidak jarang mengambil lakon dari cerita Panji,” ujar Nasrulillah.

Seperti pertunjukan Sandur Manduro, lanjutnya, lebih banyak menampilkan filosofi dan nilai-nilai yang arif. Lakon Jaran Sembrani digambarkan secara komikal, betapa nafsu dua orang penggembala yang sama-sama ingin memiliki atau menggembalakan seekor kuda yang bernama Sembrani, berakibat fatal. Kuda yang seekor menjadi terbagi menjadi dua, alhasil sama-sama tidak bisa menggembalakan lagi.

“Keduanya menyesali apa yang telah dilakukan, dan mengharapkan mukjizat bagi keutuhannya kembali. Fragmen ini merupakan simbolisme sebagaimana cerita Panji lainnya, yang mengharapkan bersatunya kembali Kerajaan Daha dan Panjalu sebagaimana dalam kekuasaan Prabu Airlangga,” papar adik dari Emha Ainun Nadjib itu. ■ aditya eko
Sebelumnya Berikutnya