Sejarahnya memang tujuan PR adalah memberikan kesibukan peserta didik di luar pembelajaran formal, harapannya peserta didik semakin memiliki kualitas pemahaman yang matang terhadap materi ajar dari guru.

Rahmat Sularso Nh.*)

Pekerjaan Rumah (PR) seringkali menjadi bekal peserta didik sebelum hendak pulang ke rumah sesuah menghabiskan waktu seharian pembelajaran di sekolah. Sejarahnya memang tujuan PR adalah memberikan kesibukan peserta didik di luar pembelajaran formal, harapannya peserta didik semakin memiliki kualitas pemahaman yang matang terhadap materi ajar dari guru. Namun perkembangannya, PR dianggap kegiatan yang memberikan beban tambah terhadap peserta didik. Hasilnya mulai tumbuh kebijakan pemerintah daerah yang melarang adanya pemberian PR. Seperti yang terjadi di Purwakarta, Jawa Barat dan Blitar, Jawa Timur.

Alasannya pun relatif sama, tiada lain memberikan kesempatan kebersamaan antara peserta didik dan keluarga. Dengan demikian, sangat diimpikan hubungan yang baik dengan keluarga juga mengantarkan peserta didik memiliki prilaku yang baik. Sebagaimana yang ditekankan dalam penguatan pendidikan karakter.

Konsep yang diusung Bupati Purwakarta, Didi Mulyadi ialah menggeser konsep PR sebelumnya mengerjakan tugas guru dan mengumpulkan keesokan harinya atau saat jam mata pelajaran tersebut menjadi wujud aktualisasi konkrit dalam impletasi di kehidupan. Misalkan saja, PR matematika. Peserta didik sewajarnya mampu membuat ukuran kandang hewan ternak sesuai dengan kebutuhan sehingga berikutnya menjadi sebuah upaya membuka jiwa interprenurshipnya. Sedangkan bila mata pelajaran Bahasa Indonesia, peserta didik diberikan kebebasan membuat cerita atau puisi berdasarkan kondisi di sekitarnya.

Tidak jauh berbeda, di Blitar pun demikian. Meski sejak tahun pelajaran lalu sudah di himbau guru tidak diperbolehkan memberikan PR, karena kenyataannya masih ada beberapa yang menghadiahkan PR kemudian di tahun pelajaran 2018/2019 secara tegas sudah dilarang.

Lantas bagaimana cara menyikapi PR? Sementara di Jombang sendiri belum lahir sebuah kebijakan tegas tentang PR. Bahkan kajian saja terkait baik-buruk PR pun belum terjadi, sehingga sejauh ini masih berjalan seperti biasanya.

Sebenarnya tujuan utama PR yakni agar peserta didik belajar di rumah karena jika 100% ditiadakan peserta didik pasti akan malas untuk belajar. Terutama peserta didik di Indonesia yang memiliki minat membaca yang sangat jauh dibawah negara lain seperti Finlandia, Norwegia, Jepang, Denmark dan lainnya. Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara, sungguh menyedihkan. Peserta didik di Indonesia akan belajar hanya kalau sedang ada ujian saja, model belajarnya kejar smalam atau sehari sebelum ujian. Biasa disebut dengan sistem kebut semalam.

Tentunya guru tidak menginginkan hal tersebut terjadi, tapi yang menjadi masalah ialah ketika PR yang diberikan berjumlah banyak atau dianggap sulit untuk peserta didik. Kedua masalah tersebut akan membuat efisiensi PR menjadi tidak ramah. Andai diberikan dalam jumlah banyak dan ditimpali dengan PR mata pelajaran lainnya peserta didik akan terbebani. Secara fisik tubuh serta pikiran akan kelelahan, sementara mentalnya bisa terganggu lantaran tekanan terlalu besar tetapi tiada perimbangan guna memberikan jeda aktivitas yang menyegarkan semacam bermain ataupun bercengkrama dengan keluarga.

Di Indonesia peserta didik sudah belajar kurang lebih selama enam jam di sekolah, seharusnya pembelajaran diselesaikan di sana. Guru harus pandai-pandai menyusun strategi agar semua pembelajaran bisa terselesaikan. Waktu peserta didik di rumah biasa di gunakan untuk beragam aktivitas seperti kursus pelajaran, musik, bermain, mengaji atau mengikuti perkumpulan rohani. Padahal usia peserta didik SD masih membutuhkan waktu untuk bermain.

Jean Piaget mengemukakan teori cognitive-developmental yang mengungkapkan bahwa bermain mampu mengaktifkan otak, mengintegrasikan fungsi belahan otak kanan dan kiri secara seimbang dan membentuk struktur syaraf serta mengembangkan syaraf pemahaman yang berguna untuk masa datang. Kondisi otak yang aktif itulah momentum yang sangat baik untuk menerima pengalaman.

Para peneliti dari Duke University telah meninjau lebih dari 60 penelitian tentang PR dari 1987 hingga 2003, menyimpulkan bahwa PR dari para guru yang bersifat akademis tidak memiliki dampak positif pada prestasi belajar seorang peserta didik

Profesor dari Duke University, Harris Cooper mengungkapkan bahwa PR dapat mendorong perkembangan pendidikan peserta didik, tapi di sisi lain PR terkadang diberikan dengan jumlah yang banyak. Jumlah pekerjaan rumah yang banyak dapat menjadi kontra produktif bagi peserta didik.

Penelitian lain oleh Denise Pope, dosen di Stanford Graduate School of Education, Amerika Serikat menemukan tiga dampak bagi peserta didik sekolah yang mendapatkan PR dalam jumlah yang banyak. Pertama, akan menimbulkan stres. 56 persen pelajar mengungkapkan bahwa pekerjaan rumah menjadi sumber utama stres.

Kedua, mengganggu kesehatan. Banyak PR memaksa peserta didik untuk mengambil sebagian waktu untuk tidur guna menyelesaikan PR. Para peserta didik pun mengaku kurang tidur yang kemudian dapat berdampak pada kesehatan mereka. Ketiga, banyaknya PR akan membuat pelajar memiliki waktu yang sangat sedikit untuk berkumpul bersama keluarga, teman atau mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Hal ini kemudian akan membuat mereka enggan melakukan hal yang mereka sukai atau hobi.

Jelas bahwa dari penjabbaran di atas bahwa perlu ada reposisi PR secara bijaksana. Artinya ada beberapa titik kunci yang perlu disepakati tentang PR yakni relefansi tujuan, bentuk dan porsi. Maksudnya terkait dengan ketiga hal itu mulai dari relefansi tujuan masihkan sesuai bilamana dunia peserta didik sekarang sudah tidak bisa disandingbandingkan dengan era terdahulu. Kemudian bentuknya sewajarnya bukan akademisi, melainkan coba diberikan pilihan lain sebagai penguat. Contohnya penguatan pendidikan karakter. Jikalau di sekolah hanya di garap secara eksplisit saja, sebaliknya di rumah harus di pertegas. Jombang memiliki muatan lokal keagamaan yang menyentuh teori dan praktik. Sehingga dapat ditinjau penguasaan terori dan pelaksaan paraktiknya, guru atau sekolah tinggal menyediakan instrumen penilaian yang layak bagi orang tua maupun keluarga saat mengamati peserta didik di luar lingkungan sekolah.

Porsinya pun jangan sampai overload. Kadang tanpa disadari porsi yang diberikan terlampau berat untuk peserta didik. Oleh karena itu, guru bisa memastikan PR yang diberikan itu disesuaikan dengan usia belajar anak.

Senada dengan wacana yang sempat digulirkan oleh Presiden Joko Widodo, supaya PR diganti dengan kegiatan sosial di lingkungan masyarakatnya. Ada benarnya juga, banyak peristiwa yang terjadi peserta didik menjadi hebat di luar sana tetapi di lingkungannya sendiri merasa asing. Padahal sekembalinya dari sekolah, peserta didik akan menjalin kehidupan di lingkungan tempat tinggalnya. Sementara terjadi kegagalan dalam mempersiapkan peserta didik agar tidak gagap atas kehidupannya sendiri.

*) Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pendidikan.
Sebelumnya Berikutnya