Rica-rica Entok Bu Sahar di Desa Tebel, Kecamatan Bareng. Walapun asalnya dari Manado, Sulawesi Utara namun dengan racikan pas cepat menjadi primadona bagi masyarakat Kota Santri.

BARENG – Kuliner dalam perkembangannya sekarang ini seolah menjadi bahasa pemersatu. Tidak memandang latangbelakang dari mana asalnya, kalau lidah sudah sesuai maka langsung bisa diterima. Seperti Rica-rica Entok Bu Sahar di Desa Tebel, Kecamatan Bareng. Walapun asalnya dari Manado, Sulawesi Utara namun dengan racikan pas cepat menjadi primadona bagi masyarakat Kota Santri.

Walau daging entok dikenal alot, tetapi pengolahan yang tepat dapat menjadikan lunak. Kuncinya adalah pemilihan daging entok yang berkisar usia tiga bulan. Agar tidak sampai salah pilih, bahan dasarnya selalu dibeli dalam kondisi hidup. Alasan lain bisa melihat langsung kondisi sekaligus kesehatannya. Barulah disembelih, dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran.

Sementara untuk menghilangkan bau amis, lendir yang menempel pada burit daging mesti dibersihkan hingga tiada tersisa. Termasuk bagian pantat harus dibuang lantaran sulit dibersihkan. Barulah dioles irisan jeruk nipis di seluruh bagian termasuk sela-sela lipatan daging. Kemudian didiamkan beberapa waktu untuk meresap.

Sambil menunggu bisa juga menyiapkan bumbu rica-rica. Bahannya antara lain bawang merah dan putih, cabai rawit merah, jahe, lengkuas, daun salam, kunyit, merica, kemiri serta air secukupnya. Berikutnya sejumlah rempah-rempah itu dihaluskan. Setelah itu di tumis hingga keluar bau harum, baru masukkan serai, daun salam dan jeruk.



Diikuti potongan daging entok di campur kedalam bumbu dan diaduk sebentar. Ditunggu beberapa waktu agar bumbu benar-benar merasuk ke seluruh bagian sehingga ketika di nikmati, tiap gigitan selalu meninggalkan jejak yang nampol (menampar).

Meski sudah banyak yang mengikuti jejak Bu Sahar menjajahkan menu rica-rica entok, tetapi soal rasa tidak bisa dibohongi. Cerita lisan yang berkembang dahulu bahwa masakan menjadi sedap dan enak selain bahan serta jenisnya, tentu tidak bisa dilepaskan dari keahliaan tangan dalam meraciknya.

Terbukti selama sepuluh tahun terakhir ini menawarkan menu yang agak lain yakni rica-rica entok, pelanggannya bukan semakin berkurang malah bertambah. Termasuk saat pindah lokasi berjualan, banyak yang mencari dan tetap setia menikmati masakan khas Bu Sahar ini.

Kalau ingin merasakan sensasi pedas khas Rica-Rica entok Bu Sahar jangan terlalu siang datang dijamin bakal kehabisan. Selain nagihi sampai gobyos saat menikmati, harganya pun ramah di kantong. Cukup 16.000 rupiah sudah memproleh beberapa potong daging dan nasi hangat. fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya