“Harapannya tentunya mampu menarik minat peserta didik dan memberikan wadah dalam mentransformasikan keinginannya. Jangan sampai ketika keinginan sudah ada, namun kesulitan disalurkan kemana,” -Heru Cahyono, S.Sn.-

JOMBANG – Walapun terkenal dengan sebutan sebagai Kota Santri karena banyaknya pondok pesantren di Jombang, namun juga menyisakan jejak kesenian tradisi yang relatif banyak. Mulai dari Tari Remo, Tari Wayang Topeng Jatiduwur, Bantengan, Sandur Manduro, Gambus Misri, Ujung, Besutan, dan lain sebagainya. Sayang nasibnya kini tinggal menunggu waktu untuk punah tergerus oleh kemajuan zaman.

Seperti diakui oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Heru Cahyono, S.Sn. bila kemajuan disegala bidang saat ini tidak dibarengi dengan penyesuaian terhadap kesenian tradisi tersebut. Selain tidak lagi dikenal oleh genereasi mileneal, mereka generasi milenial telah memiliki dunia atau permainannya sendiri sesuai konteks eranya.

Walaupun demikian, lelaki yang juga menjadi seroang dalang ini masih optimis. Ibarat burung dara yang terbang tinggi melalang buana di udara, juga bakal kembali ke rumahnya (baca: Bakupon). Oleh karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang berinisiasi menyusun program Kesenian Kerakyatan dengan melibatkan peserta didik.

“Harapan utamanya tentu mampu menarik minat peserta didik dan memberikan wadah dalam mentransformasikan keinginannya. Jangan sampai ketika keinginan sudah ada, namun kesulitan disalurkan kemana,” terang Heru Cahyono.

Demikian tentang anggapan bahwa kesenian tradisi yang lekat akan nuansa magis. Hal ini perlu diluruskan agar tidak berbenturan dengan keyakinan atau terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan. Selain itu masih banyak seni tradisi yang menitikberatkan pada keelokan gearakan maupaun alur penceritaannya.

Langkah awalnya mengumpulkan para budayawan Jombang untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya, guna menginfentarisir ragam budaya dan kesenian yang masih ada. Berbekal informasi dan data tersebut, akan diklasifikasikan mengenai kesenian tradisi yang bakal dikenalkan.

“Melalui langkah uri-uri seni tradisi seperti ini, diharapkan mampu membuka wawasan peserta didik supaya lebih mengenali kesenian-kesenian lokal dan bangga untuk mempelajarinya sebagai identitas asal daerahnya. Kata lainnya bangga menjadi bagian dari kabupaten yang didiami banyak pesantren,” ujar laki-laki yang gemar menyanyi itu. fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya