Penganugrahan gelar panglima merupakan keinginan Lazisnu memberikan identitas yang lain. Supaya gerakan tersebut masif dan terstruktur maka pimpinan tertinggi Jombang harus Panglima (pemimpin pasukan) sehingga dilapangan tokoh-tokoh agama dan masyarakat itu bersinergi membangun masyarakat Jombang gemar bersedekah.

JOMBANG – Bupati Jombang Mundjidah Wahab meluncurkan Gerakan Jombang Bersedekah yang diinisiasi Pengurus Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Jombang. Gerakan Jombang Bersedekah (GJB) ini menjadi tonggak pembangunan masyarakat yang berkarakter.

Ketua NU Care-Lazisnu Jombang, Ahmad Zainudin mengatakan bahwa memang perlu adanya dorongan kesadaran akan kepedulian sosial yang dimiliki oleh berbagai lapisan masyarakat. Salah satunya melalui gerakan bersedekah ini yang nantinya bisa dikelola oleh Lazisnu sebagai lembaga yang berkompeten. Selain itu GJB bisa menjadi solusi apabila sewaktu-waktu terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor dan banjir. Dana hasil sedekah masyarakat juga bisa disalurkan kepada mereka yang membutuhkan karena keterbatasan ekonomi.

GJB yang dimotorinya adalah gerakan membudayakan sedekah sebagai karakter masyarakat Jombang. Gerakan ini melibatkan semua komponen masyarakat Jombang, baik pejabat maupun rakyat di semua tingkatan, mulai kabupaten sampai dengan warga di desa-desa di seluruh Kabupaten Jombang. 


Baca Juga : Unduh-unduh GKJW Bongsorejo Wujud Syukur dan Keharmonisan Beragama

“Peruntukannya tidak hanya untuk warga NU tapi semua masyarakat di Kabupaten Jombang, melalui kaleng-kaleng sedekah,” ungkapnya.

Pria yang kerap disapa Gok Din ini menambahkan, gerakan tersebut tidak menargetkan jumlah nominal, melainkan merupakan gerakan pembentukan karakter gemar bersedekah, saling menolong dan saling membantu dengan uang sedekah yang terkumpul.

“Sehingga target dari GJB ini adalah terbentuknya karakter masyarakat Jombang yang gemar bersedekah sebagai salah satu bentuk ikhtiar agar Jombang terhindar dari bala, karena Asshodaqotu tadfaul bala', sedekah itu bisa menolak bencana. Di samping itu diharapkan Jombang diberkahi oleh Allah SWT,” pungkasnya.

GJB sendiri merupakan upaya edukasi NU Care-Lazisnu kepada masyarakat yang sesuai dengan visi kepemimpinan bupati saat ini, yakni membentuk Jombang berkarakter dan berdaya saing. Gerakan ini merupkan wujud sebagai nilai dari karakter kota Santri, selain itu juga untuk keselamatan bangsa secara umum dan masyarakat Jombang sendiri.

Oleh sebab itu, PC Lazisnu Kabupaten Jombang, mengangkat Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab sebagai Panglima Gerakan Jombang Bersedekah. Pengangkatan tersebut berlangsung ketika Lazisnu menyelenggarakan Rapat Koordinasi Se Jombang di Pendopo Kabupaten Jombang, Jumat (3/5).

Wakil Ketua PCNU Jombang, H. Didin A. Solahuddin menjelaskan bahwa diangkatnya bupati adalah sebagai upaya Lazisnu untuk menyinergikan berbagai elemen di Kabupaten Jombang dalam membentuk karakter masyarakat Jombang yang gemar bersedekah. Baik itu di lingkungan masyarakat ataupun di pemerintahan.

“Terhitung sejak 2016 lalu, melalui PC Muslimat NU Jombang Hj Mundjidah Wahab seringkali menginstruksikan jajaran pengurusnya menjadi donatur tetap Lazisnu. Itu berlanjut sampai saat ini. Terlebih komitmen bupati dengan Lazisnu dalam mengedukasi warganya agar gemar bersedekah tidak diragukan lagi. Maka wajar bila beliau menjadi panglima memimpin GJB di Kabupaten Jombang,” ujar laki-laki yang akrab disapa Gus Didin itu.

Penganugrahan gelar panglima, tambah H. Didin A. Solahuddin, keinginan Lazisnu memberikan identitas yang lain, karena sudah biasa dengan gelar, duta, pelopor, tokoh, dan lain sebagainya. GJB merupakan gerakan aplikatif bukan hanya seremoni. Supaya gerakan tersebut masif dan terstruktur maka pimpinan tertinggi Jombang harus Panglima (pemimpin pasukan) sehingga dilapangan tokoh-tokoh agama dan masyarakat itu bersinergi membangun masyarakat Jombang gemar bersedekah.

Secara simbolis, pengangkatan bupati menjadi panglima tersebut ditandai dengan penyerahan tongkat. Hadiah tongkat yang diberi nama ‘Tongkat Macan Ngamuk’ itu menurut H. Didin A. Solahuddin memiliki makna jika harus benar-benar kuat dalam mewujudkan Jombang bersedekah ini.

“Ini merupakan simbolis saja. Kami mencontoh ketika dahulu KH. Hasyim Asy’ari ingin mendirikan NU, Kiai Cholil Bangkalan juga memberikan tongkat kepada KH. Hasyim Asy’ari. Oleh karennya kami juga ingin tularkan ke bupati sebagai penggerak utama,” tutup H. Didin A. Solahuddin. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya