KB Talia Insan Mulia Gunakan Metode Sentra dan Experiential Learning


Di Kelompok Bermain (KB) Talia Insan Mulia, Mojoagung anak dibebaskan untuk melakukan segala kegiatan yang diinginkan. Ruang kelas dibuat terbuka agar anak didik bebas melakukan beragam kegiatan.

MOJOAGUNG – Rentang usia tiga hingga lima tahun adalah masa anak tengah aktif memahami segala sesuatu. Namun di saat yang bersamaan pada rentang usia tersebut juga dalam masa sedang asyik-asyiknya bermain. Untuk itu, agar masa bermain juga belajar sekaligus memberikan bekal nilai-nilai untuk masa mendatang wali anak didik maupun lembaga pendidikan harus mampu mengkolaborasikan segala kegiatan yang sedang dijalani anak tersebut dengan menarik.

Di Kelompok Bermain (KB) Talia Insan Mulia, Mojoagung anak dibebaskan untuk melakukan segala kegiatan yang diinginkan. Ruang kelas dibuat terbuka agar anak didik bebas melakukan beragam kegiatan. Di ruang kelas yang terbuka ini terapat pojok-pojok sentra yang terdiri atas sentra peran dan persiapan yang berada di bagian depan. Bagian tengah berisikan pojok sentra ibadah, pembangunan, kreativitas dan seni, serta wall climbing, dan sentra alam yang ada bagian luar (halaman).




Sebelum pembelajaran dan saat jam istirahat, anak didik dibebaskan untuk bermain di pojok sentra yang berisi beragam permainan. Sementara saat proses pembelajaran berlangsung, pojok sentra tersebut dapat dikondisikan sesuai dengan materi pembelajaran yang diajarkan. Hal ini ditujukan untuk memaksimalkan perkembangan motorik anak disamping memberikan kebebasan anak dalam berkespresi dan bermain sesuai dengan keinginannya. 

Baca Juga : Menemukan Ide Berkarya Melalui Pertanyaan

Ketua KB Talia Insan Mulia, Mojoagung, Imrotul Ummah, S.Pd mengemukakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan di lembaganya adalah metode sentra yang digabung dengan Experiential Learning (EL). Kedua metode itu digunakan agar anak didik mendapatkan pengalaman langsung dari materi pembelajaran yang diajarkan.

“Karena pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada dasarnya adalah pembelajaran melalui proses melakukan. Anak didik akan jauh lebih paham dan memiliki kesan terhadap proses pembelajaran ketika mereka melakukan seperti apa yang dijelaskan oleh guru,” ungkap Imroatul Ummah.



Dalam proses pembelajarannya, setiap hari Senin hingga Kamis anak didik yang berjumlah total 39 orang anak dibagi kedalam tiga kelas berbeda. Satu kelas terdiri atas tigabelas anak didik dan didampingi satu orang guru. Setiap harinya kelas akan berada dalam sentra yang berbeda-beda dan diputar secara bergantian. Khusus di hari Kamis, semua anak didik melakukan satu kegiatan bersama misalkan berolah raga atau melakukan sebuah praktikum sederhana. Tujuannya anak didik mengenal satu sama lain, menciptakan kebersamaan dan kekeluargaan, hingga salah wujud upaya untuk menghindari perundungan (bullying) karena saat berkegiatan bersama diajarkan untuk saling memahami sesama teman juga antara kakak (anak didik yang berusia lebih tua) dengan adik (anak didik yang berusia lebih muda).

Memiliki visi Terwujudnya Anak Usia Dini yang Berkarakter, Kreatif, Mandiri, dan Berakhlak Mulia, Imroatul Ummah menambahkan bahwa seluruh kegiatan di lembaga tidak akan berjalan lancar dan maksimal tanpa bantuan serta dukungan dari wali anak didik. Kendati pada awal-awal banyak wali anak didik yang mempertanyakan metode pembelajaran yang seakan memperlihatkan anak lebih banyak bermain dibanding belajar, namun seiring berjalan waktu dengan pemberian pemahaman wali anak didik mulai memahami dan turut berperan aktif untuk mendukung prosesnya.

“Melalui paguyuban wali anak didik juga diajak untuk memahami proses pembelajaran yang diajarkan. Tiap bulan menjelang puncak tema wali anak didik dikumpulkan untuk dijelaskan kegiatan pembelajaran yang bakal dilakukan, barang apa saja yang dibutuhkan serta proses yang akan dilakukan.pada kegiatan di puncak tema. Sehingga disini yang sekolah dan belajar bukan hanya anak melainkan juga wali anak didik. Hal ini sesuai dengan salah satu misi sekolah yakni membangun kerja sama dengan orang tua dan masyarakat dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan tumbuh kembang anak,” tutup Imroatul Ummah. fitrotul aini.