“Pengalaman baru dan pertama kali saya mengikuti kompetisi tingkat provinsi menjadi motivasi tersendiri, bonusnya memperoleh penghargaan tersebut.” - Asfiatul Nadine Afrita -

MOJOAGUNG – Bertalenta, satu kata yang mampu menggambarkan seorang peserta didik asal SMP Negeri 1 Mojoagung, Asfiatul Nadine Afrita. Dirinya mampu membuktikan bahwa hobi serta bakatnya di dunia seni teater menorehkan penghargaan menjadi ‘Aktris Terbaik’. Penghargaan tersebut diraih pada ajang kompetisi Pekan Cipta Seni Provinsi Jawa Timur 2019, dan berlangsung di Gedung Gajayana Malang (26/4).

Penampilan Wadah Teater Remaja (Watera) SMPN 1 Mojoagung berjudul ‘Kelit’, tampaknya mampu memikat hati para juri hingga Jombang terpilih dalam penilaian aktris terbaik pada pemeran utama Timun Mas. Gadis cantik asal Desa Sukorejo, Sumobito itu merasa bangga serta menjadi keberuntungan bertubi jika dirinyalah yang mendapatkan penghargaan. Pasalnya dari 38 kabupaten/kota Se Jawa Timur jenjang SMP terdapat 2 kabupaten/kota yang menampilkan cerita yang serupa, tentang Timun Mas.

“Pengalaman baru dan pertama kali saya mengikuti kompetisi tingkat provinsi menjadi motivasi tersendiri, bonusnya memperoleh penghargaan tersebut,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara ini.

Baca Juga : PAUD PKK KB Nusa Indah Plandaan Agama Sebagai Pondasi

Perempuan yang sering dipanggil Nadin ini juga menambahkan, jika kelak saat lulus sekolah ingin menjadi seorang pelaku seni. Lantaran dirinya sangat menyukai seni tari, seni peran dan karawitan yang baru ditekuni sejak SMP. Terbukti, hanya tujuh hari saja waktu yang efektif digunakan latihan dalam mempersiapkan diri mulai dari nol hingga menjadi juara.




“Saya latihan sejak pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB di sebuah sanggar yang sekolah sewakan untuk kami yang berjarak lebih kurang 1,5 km dari sekolah. Saat itu memang sekolah sedang melaksanakan ujian sekolah, sehingga kami perlu latihan di tempat lain. Semakin terpacu pada H-1 kompetisi tiba, latihannya semakin ekstra, dari pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB,” terang peserta didik kelas VII B tersebut. 

Selama latihan berlangsung, kedisiplinan menjadi yang utama. Keterbatasan persiapan tidaklah menjadi halangan. Sehingga dengan sendirinya berdampak pada dirinya yakni tumbuh sikap kemandirian hingga kepercayaan diri. Praktis hal ini semakin menguatkan karakter yang ada pada perempuan berhijab ini.

Kesulitan yang dirasakan oleh peserta didik yang berusia 12 tahun ini saat latihan adalah memerankan adegan permainan masa kecil permainan tradisional Jawa lantaran kini sudah tumbuh remaja sehingga lama juga tidak memainkannya. Selanjutnya mau tidak mau, dia melakukan pendalaman karakter dengan mengenal serta memainkan permainan itu kembali seraya menggunakan pengucapan berbahasa ala Ludruk.

“Tetapi semuanya terasa mudah dan terbukti saat kami tampil di atas panggung. Kendala secara keseluruhan sirna karena melihat kekompakan tim serta para pemain dan juga guru pendamping,” tutup peserta didik yang menyukai pelajaran IPS tersebut. chicilia risca