Rumah Joglo Perak Cermin Strata Sosial


Rumah Joglo Jawa Timur sendiri memiliki dasar filosofi yang tidak jauh beda dengan rumah adat Joglo di Jawa Tengah. Filosofinya berupa makna pengaruh Agama Islam, Hindu dan Budha yang menjadi satu dan mengakar pada bangunan tersebut.

PERAK – Indonesia merupakan negara dengan beragam budaya yang beraneka ragam. Kekayaan budaya yang dimiliki menjadikan nilai yang sangat luhur dan mencirikan identitas bangsa itu sendiri. Salah satu ciri budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah rumah adat dengan nama khas di setiap daerahnya. Seperti halnya rumah adat Jawa Timur dikenal dengan nama Joglo. Joglo identik dengan bentuk limas dengan atap yang megah. Sebutan Joglo adalah dimaksudkan untuk atapnya yang besar dengan mengambil stilasi model sebuah gunung.

Rumah Joglo Jawa Timur sendiri memiliki dasar filosofi yang tidak jauh beda dengan rumah adat Joglo di Jawa Tengah. Filosofinya berupa makna pengaruh Agama Islam, Hindu dan Budha yang menjadi satu dan mengakar pada bangunan tersebut. Joglo pada tempo dulu dibangun untuk menunjukkan strata atau status sosial tertentu dalam masyarakat. Mayoritas Rumah Joglo dimiliki oleh para bangsawan dengan salah satu tujuan untuk menerima tamu dengan jumlah yang besar. Namun setelah mengalami perkembangan zaman, Joglo diidentitaskan sebagai rumah adat yang boleh dimiliki semua orang.


Baca Juga : Aktris Terbaik Pekan Cipta Seni Jawa Timur 2019 Berkat Kedisiplinan Saat Latihan

Sama halnya dengan bangunan Rumah yang berada di Jalan Raya Ngrandu, Perak ini. Rumah Joglo milik pasangan Arif dan Wanda memiliki keunikan tersendiri yang membedakan dengan rumah adat lainnya. Salah satu keunikannya adalah bahan pembuatan rumah yang dominan dengan menggunakan kayu jati.




“Rumah ini merupakan peninggalan dari kakek nenek. Untuk awal dibangunnya rumah ini kami kurang begitu paham, tetapi yang jelas sejak zaman penjajahan sudah berdiri. Bangunannya juga memang sedikit berbeda dari Joglo pada umunya, seperti atapnya yang tidak menghadap ke halaman. Namun secara keseluruhan arsitekturnya sama,” jelas pemilik rumah, Arif. 

Rumah Joglo umumnya dimiliki oleh masyarakat kalangan menengah keatas, baik itu bangsawan atau priayi. Hal ini dapat dengan mudah dipahami mengingat untuk membangun rumah Joglo membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan lahan yang lebih luas. Tak ayal pemilik pertama rumah tersebut (kakek Arif) adalah pemimpin desa kala itu.

Jika dilihat dari jenisnya, rumah tersebut merupakan Rumah Joglo Pangrawit karena memiliki halaman rumah lebih luas dengan jumlah pilar banyak. Rumah Joglo Pangrawit memiliki atap yang menjulang dan mengerucut dengan setiap sudutnya yang memiliki pilar.

Dibagian depan rumah terdapat pendopo dengan ruangan yang sangat luas tanpa sekat. Terdapat pilar-pilar penyangga di setiap sisi dan sudutnya. Empat pilar utama penyangga yang ada di tengah dinamakan saka guru dan mewakili keempat arah mata angin. Bentuk pendopo ini adalah bujur sangkar dengan bahan-bahan berkualitas tinggi yang digunakan pada bagian atap.



Menuju kedalam, Arif menjelaskan terdapat pringgitan (lorong masuk) terletak di antara pendopo dan omah jero (rumah bagian dalam) dan difungsikan sebagai jalan masuk pada rumah bagian dalam. Setelah itu terdapat omah jero yang merupakan ruangan khusus di bagian dalam sebagai tempat untuk bersantai bagi keluarga. sifatnya yang privatif, tidak semua tamu dibolehkan masuk pada ruangan ini.

Omah jero juga dilengkapi dengan penyekat atau pembatas antar ruangan. Penampilannya, banyak kursi dan atribut-atribut lain yang menghiasi pada ruangan ini. Omah jero juga merupakan akses jalan masuk menuju beberapa ruangan. Ruangan tersebut dapat difungsikan sebagai kamar tidur, gudang, atau tempat menyimpan persediaan makanan.

“Secara keseluruhan kami belum merehab rumah ini. Hanya saja menambahkan atap teras bagian depan agar tidak panas,” ujar Arif. aditya eko