“Melalui media money card ini peserta didik juga secara tidak langsung telah belajar materi pembelajaran. Saat mereka menukarkan uang mereka miliki, diberikan keleluasaan untuk menukarkan dalam pecahan berapa. Misalkan uang lima ribu bisa ditukarkan dengan money card pecahan dua ribu satu lembar, seribu dua lembar, dan lima ratus dua lembar,” tambah Dedi Kasiono.

GUDO – Sekolah tidak hanya memiliki tugas untuk mengembangkan potensi peserta didik baik secara akademik maupun non akademik. Pengembangan secara akademik dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas, sementara dari non akademik dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk menyokong keberlangsungan kegiatan, selain mengandalkan dana yang diberikan pemerintah sekolah dapat mengusahakan sumber dana lain selama tidak bertentangan dengan peraturan. Salah satu usaha yang umum dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan wali peserta didik melalui paguyuban dan komite sekolah. Setiap kegiatan yang telah disusun pihak sekolah akan dikomunikasikan pada paguyuban dan komite sekolah untuk dibantu dalam pelaksanannya.

Sekolah bukan saja sekedar lingkungan belajar dalam mengembangkan potensi akademik maupun non-akademik peserta didik. Sekolah merupakan sebuah wadah dalam mempersiapkan peserta didik dengan pelbagai bentuk pembelajaran yang terkadang tidak tersusun dalam kurikulum. Namun justru itu sangat dibutuhkan oleh mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi dinamika dunia luar yang penuh dengan warna.


Baca Juga : Sate Kampret Pengobat Rindu Kampung Halaman

Seperti yang dilangungkan d SDN Sepanyul Gudo. Menjadikan kondisi yang ada di sekitar sekolah sebagai muatan pembelajaran yang saling menguntungkan. Lantaran menggandeng pedagang kaki lima di sekitar sekolah. Artinya, secara pembelajaran peserta didik memperoleh asupan yang bermanfaat dan sebaliknya pedagang pun memperoleh kesempatan meraih keuntungan.

“Wujudnya ialah money card. Jadi, peserta didik akan membeli dengan alat tukar yang disediakan oleh sekolah dengan nilai tertentu. Sehingga dengan demikian sekolah bisa membatasi uang jajan peserta didik sekaligus mengkontrol materi jualan pedagang,” ungkap Kepala SDN Sepanyul Gudi Dedi Kasiono, M.Pd.




Bentuknya sederhana, hanya terbuat dari banner tipis dengan desain simpel. Terdapat empat jenis money card yang disesuaikan dengan pecahan uang yakni pecahan lima ratus, seribu, dua ribu, dan lima ribu. 

Sehingga setiap pagi, peserta didik dan guru menukarkan uang tunainya dengan money card, sementara pada siang harinya para pedagang yang akan menukarkan kembali money card yang mereka dapat dari hasil penjulan dengan uang tunai sekaligus menyetorkan sepuluh persen pendapatannya. Hasilnya akan dipergunakan untuk mendukung ekstrakulikuler sekolah dan menjaga kebersihan.

Di awal pelaksanaannya, kepala sekolah yang menjabat sejak tahun 2016 itu mengemukakan bahwa banyak pedagang yang merasa keberatan dengan sistem yang diberlakukan oleh pihak sekolah. Namun setelah diberikan penjelasan dan pemahaman para pedagang itu bisa menerima dan bahkan mendukung. Hingga saat ini ada enam hingga tujuh pedagang disamping kantin sekolah yang berjualan di SDN Sepanyul.

“Melalui media money card ini peserta didik juga secara tidak langsung telah belajar materi pembelajaran. Saat mereka menukarkan uang mereka miliki, diberikan keleluasaan untuk menukarkan dalam pecahan berapa. Misalkan uang lima ribu bisa ditukarkan dengan money card pecahan dua ribu satu lembar, seribu dua lembar, dan lima ratus dua lembar,” tambah Dedi Kasiono.

Kedepannya, Dedi Kasiono berharap hubungan dengan berbagai pihak yang sudah terjalin tetap bersinergi dengan optimal. Sehingga beragam program sekolah dapat berjalan maksimal demi menyokong prestasi sekolah yang lebih baik. fitrotul aini.