Pawai Budaya Jombang 2019 Jombang Banget


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, selaku ketua penyelenggara PBJ menjelaskan, “Diakui secara tidak langsung PBJ memberikan kontribusi besar terhadap penanaman pendidikan karakter kepada peserta didik. Tingkatan peserta yang sekitar 80% adalah sekolah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengolah rasa.

JOMBANG – Keberadaan Pawai Budaya Jombang (PBJ) seakan sudah menjadi hajat seluruh masyarakat Jombang dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Hal itu lantaran dalam kegiatan yang dulu dikenal dengan sebutan karnaval, menampilkan aneka-ragam kreativitas peserta. Terlebih beberapa perhelatan terakhir sudah mulai mengarah pada bentuk pagelaran yang memiliki identitas. Apalagi tidak hanya sebagai uforia belaka, namun PBJ merupakan pendidikan alternatif dalam menguatkan karakter peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, selaku ketua penyelenggara PBJ menjelaskan, “Diakui secara tidak langsung PBJ memberikan kontribusi besar terhadap penanaman pendidikan karakter kepada peserta didik. Tingkatan peserta yang sekitar 80% adalah sekolah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengolah rasa. Sehingga mewujudkan dalam penampilan yang apik agar menghipnotis penonton dan memperoleh apresiasi dewan kurator (baca: Juri).”

Ditambahkan Budi Nugroho, bila tahun kemarin penyelenggaraannya sudah terbilang baik dan berbeda. Peserta diperhatikan serius dari konsep penampilan hingga pendampingan agar mampu menampilkan sajian yang elok. Oleh karenanya, momentum ini sebagai wujud mengintrepretasikan pemikiran serta mengambil bagian selaku masyarakat Kota Santri.


Baca Juga : Festival Kuliner Ndeso Bentuk Identitas Lokal dan Diplomasi Internasional

Melalui persiapan tentu sudah dipikirkan secara matang oleh peserta didik berikut dengan sekolah. Kemudian mempersiapkan diri dengan pembuatan dan pemilihan kostum sekalius tata gerak. Berpijak pada konsep sebelumnya, memang menitikberatkan pada tata rias, busana, dan koreografi. Sehingga kesemuanya harus selaras dan mencerminkan tema yang diusung.

Dipertegas dengan aturan yang diberlakukan bahwa seluruh penampilan, baik properti yang digunakan haruslah ramah lingkungan. Alhasil membuat berpikir keras mengolah penampilan dengan menggunakan barang bekas supaya hasilnya berkualitas. Dari sana akhirnya peserta didik memiliki satu karakter yakni peduli lingkungan.

“Jadi dikatakan PBJ sebagai pendidikan alternatif memang benar adanya. Bukan selaiknya pendidikan di kelas, semua sudah terukur dalam kurikulum. Namun keterlibatan dalam PBJ menuntun mereka memiliki karakter yang baru. Termasuk bangga atas budaya lokal dan pastinya tehadap bangsanya,” terang Budi Nugroho saat ditemui di sela kesibukkannya.

Corak PBJ 2019

Tahun ini PBJ penyelenggaraannya masih dipercayakan kepada Disdikbud Kabupaten Jombang. Diakui oleh Budi Nugroho kalau konsep dasarnya tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya yaitu berjalan kaki tanpa menggunakan kendaraan bermotor. Sejauh ini sudah dibicarakan konsep dasarnya sebelum mengarah kepada bentuk oleh Bidang Kebudayaan, Disdibud Kabupaten Jombang bersama stakeholder terkait dari Dewan Kesenian Jombang hingga pegiat kesenian hingga pemerhati festival kebudayaan.




“Mengusung tema besar Jombang Banget diharapkan peserta mampu untuk mencerminkan segala aspek yang berkaitan dengan Jombang. Utamanya ragam kekhasan yang menjadi karakter dari kota tercinta ini melalui ragam budayanya,” terang Budi Nugroho.

Berangkat dari hasil rekomendasi evaluasi pelaksanaan PBJ 2018, maka salah satu kendala yang menjadi pekerjaan rumah setiap penyelenggaraan yakni ketertiban penonton akan diatasi dengan diberikan pagar barikade disepanjang jalur. Dengan demikian, penonton bisa lebih terkendalikan dan tidak sampai merangsek ke jalur peserta.

“Pelaksanaan yang direncanakan pada Minggu (22/9). Jauh hari sudah dibicarakan karena peserta akan diberikan workshop agar semakin matang. Jadi PBJ 2019 lebih mempunyai corak yang kental dan khas. chicilia risca