Festival Kuliner Ndeso Bentuk Identitas Lokal dan Diplomasi Internasional


Pengenalan makanan tradisional kepada generasi muda diharapkan dapat menjadi penguatan identitas budaya lokal.

PLANDAAN – Setelah merampungkan ibadah di Bulan Ramadan, maka berganti Bulan Syawal untuk merayakan kemenangan dan saling bermaafan. Momentum ini pun dimanfaatkan oleh sebagian kalangan umat muslim untuk bersilahturahmi. Bukan sekedar meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, tetapi juga untuk meningkatkan hubungan antar manusia melalui silahturahmi. Hal ini disebabkan dalam bersilahturahmi akan mempertemukan, berkomunikasi, dan merekatkan hubungan yang terpaut akan jarangnya pertemuan.

Hal tersebutlah yang mendasari Sehat Tentrem (ST) Shiddiqiyyah Jombang menyelenggarakan acara yang bertajuk ‘Gelora Idul Fithri’ dengan tema Sambung Roso Rukun Guyub Deso. Acara tersebut digelar di area parkir Pesantren Cinta Tanah Air Indonesia Jati Diri Bangsa yang terletak di Desa Puri Semanding, Kecamatan Plandaan.




Panitia penyelenggara acara, Anang Makruf mengungkapkan bahwa acara yang dihelat pada 12 syawal 1440 H ini merupakan kali pertama yang diadakan di desa tersebut. Sekaligus sebagai ajang silaturahmi untuk warga Jombang khususnya Kecamatan Plandaan untuk saling bermaaf-maafan dan saling membangun rasa kekeluargaan.

Baca Juga : Berbagi Seni Menjaring Bakat Seni Pelajar

“Alhamdulillah antusias warga sangat bagus. Terlebih pada malam kemarin (15/6) sangat banyak yang datang. Ragam hiburan yang disajikan, diantaranya Ludruk Suara Blokosutho, Live Musik Metafakta Oxytron, Nobar Film WAGE. Dilanjutkan pada keesokan harinya Erwin Prasetya & Friendstar Besut's,” kata Anang Makruf.

Tidak hanya itu karena yang menjadi sorotan masyarakat adalah Festival Kuliner Ndeso sebagai bagian menu acara tersebut. Terdapat delapanbelas pelapak kuliner khas tradisonal dari desa-desa di Plandaan dan sekitanya. Kuliner ndeso tersebut meliputi ketan bubuk, ketan kacang, klanting atau cenil, tiwul, kacang, sumsum pandan, srawut singkong, blendung jagung, dan masih banyak lagi.

Anang Makruf menambahkan, “Ada juga beragam minuman seperti es cincau daun pandan, kolak singkong, es blewah, dawet kelor. Selain kudapan pelbagai jenis makanan seperti urap-urap, lodeh cepit, steak celor, pecel juga siap disajikan untuk pengunjung.”



Makanan tradisional yang mulai ditinggalkan atau tidak dikenal dan digemari lagi, khususnya para generasi muda, menjadi permasalahan yang menarik untuk diperhatikan. Pengenalan makanan tradisional kepada generasi muda diharapkan dapat menjadi penguatan identitas budaya lokal. 

Salah satu pelapak kuliner ndeso, Yunita menjelaskan bahwa makanan tradisional sebagai salah satu wujud keragaman budaya di Indonesia menjadi hal yang menarik untuk dikenal lebih jauh, khususnya para generasi muda penyambung tongkat estafet pembangunan bangsa. Melalui makanan tradisional, bangsa Indonesia dapat dikenal dunia melalui diplomasi kuliner.

“Pada dasarnya makanan tidak hanya berfungsi untuk memuaskan rasa lapar, akan tetapi membawa serta kebiasaan lokal, lingkungan, dan adat istiadat masyarakatnya. Makanan tradisional sebagai hasil budaya masyarakat dimungkinkan memiliki kekuatan komunikasi personal antara alam dan pengolahnya, bahkan antara yang menyantap dan masyarakat pemiliknya. Hampir di setiap daerah mempunyai makanan tradisional yang menjadi ciri khas daerah tersebut dan tentu saja makanan khas tersebut berhubungan dengan kondisi lingkungan alam sekitarnya,” ujar Yunita. aditya eko