Narasumber Manajemen Seni Pertunjukan Agraris, Aris Setiawan, M.Sn., mendeskripsikan bahwa kegiatan yang perdana dilakukan ini memiliki gagasan yang baik dalam jangka menengah dan panjang guna mengangkat citra petani dan agraris.

JOMBANG – Guna meningkatkan kreativitas, kualitas sumber daya manusia dan peran masyarakat khususnya pelaku seni, kreator, dan generasi muda dalam seni pertunjukan budaya agraris. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melaksanakan Workshop Seni Pertunjukan 2019 Budaya Agraris pada Selasa sampai Rabu (15 s.d 16/10) di Hotel Yusro Jombang.

Kegiatan ini sebagai bentuk promosi perkembangan kesenian daerah yang ada di kawasan agraris sebagai potensi wisata budaya. Hal tersebut bertujuan agar terjalin kerjasama antar seniman daerah kawasan budaya agraris sehingga muncul wacana baru yang memiliki nilai positif dan bermanfaat bagi pemerintah kabupaten/kota setempat.

Baca Juga :
Diksar GTK PAUD Penyetaraan Kualitas GTK


Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Drs. Handoyo, M.Pd. mengungkapkan, “Gagasan ini memberi makna dan inspiratif serta berkontribusi bagi perkembangan seni tradisi di Jawa Timur. Maka keterlibatan dari pihak pejabat dinas terkait, penata seni pertunjukan, panggung pertunjukan, busana atau desainer batik, pameran yang masing-masing satu perwakilan diundang dalam satu kegiatan sebagai peserta. Terdapat lebih kurang seratus peserta yang terdiri dari enambelas kabupaten/kota perwakilan.”

Narasumber Manajemen Seni Pertunjukan Agraris, Aris Setiawan, M.Sn., mendeskripsikan bahwa kegiatan yang perdana dilakukan ini memiliki gagasan yang baik dalam jangka menengah dan panjang guna mengangkat citra petani dan agraris. Kemasan sajiannya diolah sesuai pasarnya, artinya berkembangnya hasil garap penyajian seni pertunjukan lebih digemari oleh generasi muda sesuai perkembangan zaman yang semakin pesat ini. Dampak manfaatnya secara aktif dapat menghasilkan pertunjukan yang baik pada kegiatan festival budaya agraris tahun 2019 di Kabupaten Ngawi nanti pada (28 s.d 30/11).


“Hal tersebut sebagai refleksi diri bahwa kehadiran masyarakat tak akan lepas dari budaya agraris. Sehingga bertujuan mengangkat citra budaya agraris ke ‘panggung’ agar dinikmati oleh masyarakat umum. Hal ini akan merubah penciptaan seni semala ini yang masih berdasarkan atas kebutuhan yang mengacu pada kebudayaan daerah lain misal saja budaya keraton. Sementara kita melupakan, bahwa dibalik itu masih banyak eksistensi kebudayaan yang tidak pernah dibaca oleh masyarakat dengan baik, salah satunya budaya agraris,” tutur Aris Setiawan.

Laki-laki berdomisili di Surabaya ini menambahkan untuk penting diingat bahwa dalam berkarya itu tak hanya sekedar enak untuk dilihat dan didengar, tetapi juga mengandung wacana pemikiran dan ilmu pengetahuan. Wujudnya dengan melihat pertunjukan di atas panggung dengan menikmati dan memahami bahwa budaya agraris adalah sebuah kebudayaan yang kaya akan tafsir dan makna.

“Keterlibatan yang harmoni dari masyarakat setempat (petani) yang berperan sebagai subjek atau narasumber. Hal ini penting untuk diperhatikan, bahwa masyarakat sekitar miliki peran dan bukan hanya para seniman setempat saja yang menjadi penguasa,” terang pria yang sering dipanggil Aris itu. chicilia risca
Sebelumnya Berikutnya