Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, SMA Negeri Jogoroto, Suparmi bila mendorong peserta didik guna berkarya (menulis, red) butuh pelbagai macam metode. Diantaranya adalah memberikan hadiah supaya makin termotivasi.

JOGOROTO – Bisa karena terbiasa, sangat tepat disematkan untuk pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri Jogoroto. Pasalnya selain mempelajari matari yang ada dalam mata pelajaran tersebut, peserta didik juga didorong untuk menghasilkan karya. Tentunya bukan semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih menulis, ibarat orang lapar maka harus makan. Demikian dengan menulis, ketika tidak memiliki referensi bacaan yang cukup maka akan mengalami kesulitan. Jangankan mengembangkan, mengawalinya pun bisa jadi membuat kepala pusing.

Diungkapkan oleh Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, SMA Negeri Jogoroto, Suparmi bila mendorong peserta didik guna berkarya (menulis, red) butuh pelbagai macam metode. Diantaranya adalah memberikan hadiah supaya makin termotivasi. Misalkan saja memberikan nilai plus kepada peserta didik yang mampu menghasilkan serta menyelesaikan karyanya.

Sesuai dengan kompetensi dasar yang dipelajari, maka peserta didik diminta membuat novel. Tetapi tidak sekedar memberikan tugas begitu saja, Suparmi terlebih dahulu meminta peserta didik membaca ragam novel. Dikandung maksud akan memberikan peserta didik untuk membuat karya serupa namun tidaklah sama.

Baca Juga : Asyiknya Bersepeda Lipat

Perempuan berhijap ini menjelaskan, “Terlebih dahulu peserta didik diminta membaca novel yang disenangi. Berikutnya merangkum isi dari novel tersebut kedalam beberapa paragaf. Selanjutnya menjadi tugas mandiri membuat novel dari pengalaman yang pernah dirasakan.”

Lebih lanjut, Suparmi menerangkan bahwa peserta didik tidak diminta mengarang novel yang jauh dari dirinya sendiri. Justru pengalaman yang pernah dilewatkan, baik senang, sedih, maupun amarah dapat dijadikan sebagai ide dasarnya. Alhasil peserta didik akan lebih leluasa dalam menumpahkan perasaannya kedalam tulisan sekaligus menyesuaikan dengan teknis menulis novel.

Agar proses menulis novel ini mampu berjalan dengan istiqomah dan ajek, maka diperlukan pendampingan. Setidaknya guru berkewajiban dalam mengkontrol perkembangan peserta didik. Sehingga apabila ditemukan suatu kendala bisa segera diatasi. Contohnya saja mood atau kemalasan yang seringkali menjadi kerikil penghambat. Dari situ guru harus mampu mengolah mood peserta didik lebih baik. Selain iming-iming nilai lebih, pastinya keuntungan lain yang diperoleh ketika memiliki kemampuan menulis dengan baik.



Kini, pengembangan budaya literasi di SMA Negeri Jogoroto dikalkulasi sudah meningkat antara 45% hingga 50%. Tentu hal ini sebagai hasil nyata koordinasi dengan seluruh guru di Jurusan Bahasa pada empat mata pelajaran bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan Jepang.

“Melalui kegiatan tersebut, kunjungan ke perpustakaan lebih meningkat. Peserta didik semakin aktif meminjam buku. Keseluruhan terdata rapi dalam jurnal literasi yang disediakan. Jurnal ini kemudian menjadi cacatan tambahan bagi ke empat guru bahasa dalam pemberian apresiasi nilai akademik,” ucapnya.

Cara ini mampu melahirkan penulis novel muda yang sudah bekerjasama dengan percetakan buku nasional. Kini alumni SMA N Jogoroto tahun 2018, Velicia Aprilia Nur Qolby mengampu pendidikan di salah perguruan tinggi negeri di Malang dan masih berkarya dengan novel ‘Catatan Kecil Velia’.

“Bentuk apresiasi lainnya ialah dengan memasang karya tulisan peserta didik di sudut baca sekolah secara bergiliran selama dua minggu satu kali. Dengan begit, peserta didik memiliki kebanggaan tersendiri atas karyanya dan peserta didik lainnya termotivasi untuk menulis,” tutupnya. chicilia risca