Allah Tidak Cerewet Seperti Kita


Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Najib, dalam bukunya kali ini menulis tentang pandangan-pandangannya agar kita menjadi orang yang bijak dalam beragama. Ia menyoroti fenomena yang kadang salah kaprah di masyarakat kita. Sebut saja saat ia menulis tentang syirik.

Identitas Buku

Judul Buku : Allah Tidak Cerewet Seperti Kita

Penulis Buku : Emha Ainun Nadjib

Penerbit Buku : Noura Books

Tanggal Terbit : 7 April 2019

Tebal Buku : 240 halaman

Ukuran Buku : 14 x 21 cm

ISBN : 6023858120

ISBN13 : 9786023858125

Kebijaksanaan merupakan buah dari ketekunan seseorang dalam mendalami dan mengamalkan agamanya. Namun bukan hal mudah orang beragama menjadi orang yang bijak. Faktonya tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga penglaman. Sebagai masyarakat, menjadi orang yang beragama saja tidak cukup, kita memerlukan sikap bijak dalam beragama. Sebab di negara kita tidak hanya orang beragama Islam, tetapi juga Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan lain sebagainya.

Cak Nun sapaan akrab Emha Ainun Najib, dalam bukunya kali ini menulis tentang pandangan-pandangannya agar kita menjadi orang yang bijak dalam beragama. Ia menyoroti fenomena yang kadang salah kaprah di masyarakat kita. Sebut saja saat ia menulis tentang syirik. “Syirik itu tidak tergantung bendanya. Anda bisa menjadi syirik dengan penampilan sangat Islam. Misalnya, umrah untuk money laundering, uang curian “disucikan” di Makkah.” Umrahnya perbuatan baik, tapi caranya menipu diri sendiri, menipu orang lain, menipu Allah, sama saja dengan syirik.

Baca Juga: Kardiyono Bersepeda Melatih Emosi

Bersama Maiyah Cak Nun juga menyampaikan pemikiran, renungan, serta pandangannya tentang Islam Indonesia. Ada candaan, ada nada serius, dan ada juga lontaran pertanyaan yang menantang para jamaah. Seperti yang dikutip pada ditulis berikut ini: “Hidup itu tidak tergantung Alquran, tapi tergantung manusianya. Sudah ada Alquran saja hidup masih kayak begini. Ini semua karena manusianya.” (h.81). Pernyataan Cak Nun ini tentu tak disetujui semua orang, akan tetapi pernyataan ini mengajak para pembaca untuk merenung, apa sebenarnya makna yang terkandung dalam tulisan tersebut.

Islam Indonesia adalah Islam yang mengayomi, memayungi, mencintai, bukan Islam yang membenci, saling menyakiti. Orang Islam itu omongan dan tindakannya membuat semua orang merasa aman. Itulah Islam (h.155). Karena itulah, jika ada orang yang mengaku islam tapi masih membenci, menyakiti, menebar takut kepada sesamanya, ia bukanlah Islam Indonesia. Kata Cak Nun, “Sekarang ini bukan zamannya mengurus agama orang lain. Agama itu ‘urusan dapur’, bukan urusan “depan rumah”. Agama itu hanya digunakan untuk mengompori matangnya akhlak Anda, agar kelakuan Anda baik, bagus.”

Banyak tragedi-tragedi di Indonesia ini mengatas namakan agama. Akibatnya, agama seolah dijadikan label atau cap semata. Organisasi, aliran seolah sudah menjadi agama tersendiri. Orang tak melihat sikap atau kelakuan, tapi melihat praktik beragamanya. Sehingga yang beda, yang dijalankan kelompok lain dianggap sesat, salah. Sikap inilah yang sebenarnya tak memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Orang kemudian terjebak pada pelabelan dan stigma agama. Ketika dosis atau tensinya meningkat, biasanya yang timbul adalah permusuhan.

Umat Islam saat ini sangat mudah terusik hanya karena berbeda pilihan politik. Fenomena ini menjadi fenomena yang memprihatinkan sekaligus menjadi gambaran umat Islam Indonesia yang masih terpaku pada pelabelan. Bila agama hanya dijadikan alat untuk saling membenarkan diri dan saling konflik, tentu nasib agama menjadi tersungkur.

Pada akhirnya, agama Islam adalah mudah, tapi tidak boleh dipermudah. Sejatinya Islam hadir untuk menyelesaikan persoalan manusia. Membebaskan manusia dari belenggu dan cengkeraman dunia. Tidak cukup menjadi orang Islam yang bajik saja tanpa bijak. Karena buah dari orang Islam yang baik adalah menjadi bijak. Sehingga ia akan menghadirkan kenyamanan dan kedamaian bagi orang sekitar. aditya eko