Foto : Istimewa
Perkembangan masyarakat saat ini diakui atau tidak memang berpengaruh pada keberadaan kesenian ludruk. Di masa lalu, masyarakat memilih ludruk sebagai satu di antara hiburan di tengah hiruk pikuk pekerjaan sehari-hari.

NGUSIKAN – Seiring perkembangan zaman keberadaan ludruk sebagai satu di antara kesenian khas Jawa Timur khususnya di Jombang terus terpinggirkan. Pentas-pentas ludruk sudah tidak lagi mudah ditemui. Ludruk semakin terpinggirkan di kota kelahirannya sendiri. Padahal ludruk pernah melahirkan seniman besar semacam Cak Kancil, Cak Markeso, dan Cak Kartolo.

“Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa. Justru kita sebagai orang Jawa Timur sejatinya punya tanggung jawab bersama untuk tetap menghadirkan Ludruk sebagai tontonan maupun sebagai bagian dari ciri khas Kabupaten Jombang ini,” terang jelas Didik Purwanto pimpinan Ludruk Budhi Wijaya.

Didik Purwanto menambahkan, perkembangan masyarakat saat ini diakui atau tidak memang berpengaruh pada keberadaan kesenian ludruk. Di masa lalu, masyarakat memilih ludruk sebagai satu di antara hiburan di tengah hiruk pikuk pekerjaan sehari-hari. Dampaknya adalah munculnya beberapa grup-grup ludruk yang semakin banyak pada kala itu dan menjadi tontonan yang menarik di antara hiburan lainnya.

Baca Juga :
Gawat! Penyebaran Narkoba Kian Marak di Sekolah

Selain sebagai pengungkapan suasana kehidupan masyarakat, ludruk juga dapat berfungsi sebagai penyaluran kritik sosial, dan sekaligus sebagai hiburan. Karenanya muatan lawak menjadi perhatian khusus pada setiap pementasan. Pembeda kesenian ini dengan kesenian tradisi yang lain seperti ketoprak misalnya, adalah bahwa pemain ludruk semuanya laki-laki, baik untuk pemeran laki-laki maupun untuk pemeran wanita, terkecuali jika mengudang bintang tamu sebagai terobosan untuk mendatangkan penonton.

“Namun saat ini grup-grup ludruk tersebut hilang dan gulung tikar dengan sendirinya seiring dengan semakin menurun dan sepinya pengunjung atau penontonnya. Belum lagi gerusan dan infiltrasi siaran televisi dan maraknya layar bioskop menjadikan ludruk makin terpuruk dan terus terpinggirkan dari masanya sendiri. Akhirnya Ludruk magak (Jawa: patah semangat),” kata Didik Purnomo ketika ditemui saat melatih ludruk cilik.

Memperkenalkan kepada generasi muda atau generasi milenial menjadi sesuatu yang perlu dilakukan sebagai upaya tetap menjaga marwah ludruk agar masih tetap ada di Kabupaten Jombang seperti pada masa emasnya dulu. Oleh karenanya beberapa penyesuaian ludruk juga perlu dilakukan agar minat generasi muda saat ini ingin mempelajari.

“Bisa diubah ceritanya dan dipersingkat waktunya. Secara umum ludruk memiliki lima unsur pokok yang meliputi Tari Remo, Kidungan, lawak, alur cerita utama, dan musik karawitan (Jula-juli). Cerita utama mengambil tentang kehidupan rakyat sehari-hari yang mengandalkan pada spontanitas kehidupan rakyat. Dialog atau pun monolog dalam ludruk menggunakan bahasa Jawa lugas logat Jawa Timuran, sehingga mudah dipahami oleh masyarakatnya. Itu bisa disesuaikan dengan kondisi saat ini,” lanjutnya.

Langkah kecil yang dapat ditempuh untuk melestarikan ludruk saat ini menurut Didik Purnomo adalah dengan mengadakan pargelaran Festival Ludruk, seperti yang dilaksanakan di Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan (22/12). Setidaknya dengan menampilkan ludruk ditengah-tengah masyarakat dapat mengambalikan kenangan masyarakat yang sudah lama hilang dan menyajikan hal baru untuk anak muda.

“Acara Festival Ludruk ini sudah dilaksanakan kali kedua. Pertama dilaksanakan di Sendang Made dan yang ke dua ini di Dusun Simowau ini. Festival Ludruknya disatukan dengan sedekah desa dengan menampilkan Kesenian Patrol, ancak tumpeng warga, pentas Besut, Ludruk Anak Tunas Wijaya, Ludruk Budhi Wijaya, dan Ludruk Baru Jaya,” papar Didik Purnomo.

Dirinya berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang dapat turut andil dalam pelestarian Ludruk khususnya di Jombang ini. Selain itu, untuk mengenalkan kepada peserta didik alangkah baiknya jika dari beberapa sekolah dapat membentuk grub Ludruk agar generasi saat ini dapat belajar dan mencintai kesenian ludruk. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya