Foto : Guru menggunakan alat peraga ketika menyampaikan cerita pada anak.

Kebiasaan menghafal ini ternyata secara tidak langsung berdampak pada anak didik dalam konsentrasi, motivasi, dorongan belajar (menulis, membaca, dan berkreasi), daya pikir, serta daya ingatnya. Anak didik terlihat lebih mudah memahami materi pembelajaran.

PERAK – Beragam strategi dapat dilakukan oleh lembaga untuk memaksimalkan hasil pembelajaran pada anak atau peserta didik. Metode pembelajaran yang semakin bermacam-macam juga bisa dipilih untuk memudahkan pengajar dalam menggali potensi anak didik yang berdampak pada tercapainya target pembelajaran secara baik.

Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis (SPS) Nur Amin Ridwan, Perak memilih memadukan metode tahfidz atau menghafal Alquran dengan pembelajaran biasa. Metode ini dipercaya memudahkan anak didik dalam memahami.

“Setiap pagi, sebelum masuk pada materi pembelajaran umum anak didik diajak untuk menghafalkan satu ayat Alquran dari surat-surat yang ada di juz tigapuluh. Mereka menirukan yang dibacakan oleh guru serta melihatnya bentuk tulisannya pada buku. Meski secara harfiah anak didik belum bisa membaca huruf hijaiyah, tapi secara intuitif akhirnya bisa mengetahui dan memahami huruf hijaiyah,” jelas Kepala SPS Nur Amin Ridwan, Sih Maryati, S.Pd.

Baca Juga: Aksi Gerakan Gemar Makan Ikan Cegah Stunting dan Gizi Buruk

Kebiasaan menghafal ini ternyata secara tidak langsung berdampak pada anak didik dalam konsentrasi, motivasi, dorongan belajar (menulis, membaca, dan berkreasi), daya pikir, serta daya ingatnya. Anak didik terlihat lebih mudah memahami materi pembelajaran.

Lembaga yang telah berdiri sejak tahun 2011 dalam kegiatan pembelajarannya menerapkan metode pembelajaran sentra. Setiap harinya, anak didik bisa berpindah-pindah tempat atau ruangan belajar sesuai dengan materi apa yang tengah dipelajari. Pengenalan huruf dan angka dikenalkan melalui metode yang disebut Aku Cepat Membaca (ACM) yang dikemas dalam lagu (menyanyi).

SPS juga memberlakukan program Tri Sukses sebagai pondasi dalam menjalankan kegiatan yang ada membuat anak didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pembelajaran, melainkan juga terus belajar memiliki banyak ilmu serta yang terpenting berkenan mengerjakan, melakukan, hingga mengajarkan ilmu yang didapatkan atau yang dalam istilahnya disebut alim-faqih. Kemudian anak didik juga diharapkan memiliki sifat mandiri dan bersifat baik dan mulia (akhlakul karimah).

“Untuk mendukung pembentukan akhlakul karimah pada anak didik, kami juga mensinergikan dengan Pembelajaran Holistik Berbasis Karakter (PHBK). Di dalam pembelajaran ini terdapat sembilan pilar karakter yang dapat dikembangkan untuk membantu pembentukan karakter anak didik. Dalam pelaksanaannya dilengkapi modul pendamping yang bisa digunakan guru,” terang Sih Maryati.

Sih Maryati lantas menambahkan lantaran lembaga yang dibinanya berstatus sebagai SPS maka pelayanan pendidikannya pun seharusnya menyeluruh dari usia 0-6 tahun. Namun saat ini pihaknya masih fokus pada pendidikan usia 2-6 tahun atau setara dengan Kelompok Belajar (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK). Status SPS tersebut pun awalnya juga didapat untuk menyiasati sudah adanya lembaga TK yang lokasinya tidak jauh dari lembaga Nur Amin Ridwan berada.

“Izin awal pendirian memang hanya KB. Namun permintaan dari masyarakat yang menginginkan sekaligus ada TK maka kami mengajukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Namun pada saat itu tidak diizinkan karena sudah ada lembaga TK yang dekat dari sini. Sehingga untuk menyiasatinya status lembaganya diubah menjadi SPS. Semoga dapat melayani kebutuhan PAUD masyarakat di sini dengan baik,” harap Sih Maryati. fitrotul aini.

Profil Singkat Lembaga
Nama Lembaga : SPS Nur Amin Ridwan

Alamat : Jl. Mashur, Dsn. Mlaten Gg, Masjid No.21 Ds. Gadingmangu, Perak

Visi : Menjadikan dunia anak lebih bermakna

Misi :

1. Melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada anak.

2. Memberikan kegiatan pembelajaran yang membebaskan proses berkembangnya potensi anak.

3. Melakukan pembimbingan dan pengasuhan yang terbaik agar anak mendapatkan pembelajaran yang terbaik.

4. Melaksanakan kerja sama dengan pihak lain seperti orang tua, lembaga pengasuhan lain agar dunia anak dapat dimiliki anak sepenuhnya.

5. Melakukan kampanye pada masyarakat agar anak usia dini memperoleh pembelajaran dan pengasuhan yang terbaik.
Sebelumnya Berikutnya