Aksi Gerakan Gemar Makan Ikan Cegah Stunting dan Gizi Buruk

Foto : Rangkaian kegiatan gerakan edukasi ‘Makan Ikan Cegah Stunting di PAUD’, oleh Lembaga PAUD di Jombang.

Gerakan edukasi ini direalisasikan dalam kegiatan secara menyeluruh di duapuluhsatu kecamatan di Kabupaten Jombang. Kegiatan tersebut diisi dengan membuat poster terkait dengan ajakan makan ikan. Selanjutnya sebagai aksi nyata, anak didik diajak untuk sarapan bersama dengan menu ikan dan sayur.

JOMBANG – Himpunan Pendidik dan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini (Himpaudi) Kabupaten Jombang gencar melakukan sosialisasi dan gerakan mendorong Gerakan Gemar Makan Ikan (Gemari). Baik melalui sebuah poster ajakan yang terpampang di pelbagai lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Se Kabupaten Jombang serta dengan aksi langsung mengajak anak-anak makan ikan melalui ragam olahan atau dikombinasikan bersama lauk maupun syuran lain.

Hal ini tak lepas dari himbauan yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) guna membiasakan mengkonsumsi ikan supaya terhindar dari stunting. Lantaran bekerjasama dengan Himpaudi Seluruh Indonesia, maka di Kota Santri tak pelak melaksanakan serentak pada tiap lembaga yang ada pada Kamis (21/11) di tempatnya masing-masing.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Baca Juga: Rasanrasan Boenga Ketjil Mempertanyakan Makna Radikalisme

Stunting diakibatkan oleh banyak faktor, seperti ekonomi keluarga, penyakit atau infeksi yg berkali-kali. Kondisi lingkungan, baik itu polusi udara, air bersih bisa juga mempengaruhi stunting. Tidak jarang pula masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, seperti masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan.

“Gerakan edukasi ini direalisasikan dalam kegiatan secara menyeluruh di duapuluhsatu kecamatan di Kabupaten Jombang. Kegiatan tersebut diisi dengan membuat poster terkait dengan ajakan makan ikan. Selanjutnya sebagai aksi nyata, anak didik diajak untuk sarapan bersama dengan menu ikan dan sayur. Seperti salah satunya di lembaga KB Alvi Hidayah, Mojokrapak Tembelang dengan temanya ‘Sehat, cerdas, dan pintar karena makan ikan’,” terang Ketua Himpaudi Kabupaten Jombang, Tita Aniqohwardani, S.Pd.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang hitungan dalam prosentase angka stunting jika melihat perubahannya cenderung menurun pada tahun 2018 ke 2019. Jika pada tahun 2018, Kabupaten Jombang terdata sebanyak 22% dengan kalkulasi 16.566 anak alami stunting. Tetapi di tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 19% atau 15.237 anak dengan ciri stunting. Data tersebut dihitung sejak periode hitung di bulan timbang pada setiap Posyandu per Februari 2019.

Jika melihat usia dari anak didik jenjang PAUD, menurut ketentuan pencegahan stunting sudah terlambat. Pendapat ini disampaikan secara teori berdasarkan kacamata Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Dinkes Kabupaten Jombang, Titik Ulfah, S.St.,M.Si.

“Sebab pencegahan stunting itu seharusnya di mulai sejak seribu hari pertama kehidupan dalam kandungan hingga lahir pada usia maksimal dua tahun. Bahkan sebagai program pendukung untuk menggalakkan nol persen angka stunting, secara berkesinambungan sejak saat usia remaja (usia 12 tahun s.d 18 tahun) dengan diberikan obat penambah darah untuk menghindari anemia. Kemudian asupan gizi cukup bagi calon pengantin, dan pada ibu hamil (1.000 hari sejak hari pertama kehidupan),” ungkap Titik Ulfah saat ditemui di ruangan kerjanya.

Berdasarkan ulasannya, secara praktiknya saat ini melihat pada ketentuan atau syarat usia menjadi anak didik jenjang PAUD mayoritas melebihi dua tahun. Terbilang sudah terlambat jika muaranya untuk pencegahan stunting.

Sementara itu melihat dengan kegiatan ‘Gemari’ merupakan gagasan program yang bagus dari pemerintah untuk gemar makan ikan. Meski sudah mengalami stunting, atau kekurangan gizi, terdapat asupan makanan yang mengandung protein tinggi dari lauk pauk yang dikonsumsi yaitu ikan.

Perempuan yang sering di panggil Titik ini menuturkan, “Kegiatan tersebut mampu membantu menurunkan angka anak dengan masalah gizi buruk. Sehingga kalkulasi angka berkurang untuk indikasi gizi buruk jika memang terdapat saja dari beberapa anak didik tersebut terindikasi.”

Semua jenis ikan yang direkomendasikan untuk anak bahkan termasuk ikan teri, ikan asin, ikan pindang, serta ikan air tawar layaknya ikan lele, mujair, gurame, bawal, dan lain sebagainya. Tetapi tidak direkomendasikan untuk ikan yang berpengawet misal saja ikan dengan kemasan kaleng.

“Tak wajib harus memilih ikan laut dengan harga yang cukup mahal seperti salmon. Melihat harganya saja menjadi pertimbangan karena harga serta proses untuk mendapatkan barang tersebut cukup sulit kecuali membelinya di pasar modern layaknya toserba yang menjajakan lapak ikan laut segar. Sehingga tak hanya berandai-andai atau berencana tetapi juga melaksanakan dengan praktiknya secar langsung,” sahutnya sembari melempar tawa. chicilia risca