Foto : Istimewa
Langkah tandur padi dengan tengkurap ini pada dasarnya tidak berbeda dengan tandur padi pada umumnya, hanya saja posisi petani yang melakukan penanaman padi harus tengkurap di atas alat biasanya sebuah pelepah pisang. 

JOMBANG – Kegiatan menanam padi, identik dengan istilah tanam mundur (tandur). Metode menanam ini dilakukan agar tanaman padi yang ditanam tetap rapi dan tidak rusak akibat langkah kaki. Namun di Dusun Gedangkeret, Desa Banjardowo, Jombang ada sebagian masyarakatnya yang melakukan tandur bukan dengan posisi berdiri menunduk, melainkan dengan tengkurap.

Langkah tandur padi dengan tengkurap ini pada dasarnya tidak berbeda dengan tandur padi pada umumnya, hanya saja posisi petani yang melakukan penanaman padi harus tengkurap di atas alat biasanya sebuah pelepah pisang. Hal ini dilakukan untuk menghindari terperosoknya sang petani ke dalam tanah.

Diketahui beberapa tanah di wilayah ini memang memiliki struktur yang berbeda dibanding tanah pada umumnya. Tanah di wilayah ini seolah ‘bergoyang’ ketika dipijak. Salah warga Dusun Gedangkeret, Damun mengatakan bahwa kemungkinan tanah tersebut adalah rawa. Sehingga kandungan airnya lebih banyak ketimbang unsur tanahnya menyebabkan kepadatan tanah sangat rendah.


Baca Juga :
Pendidikan Nonformal Maju Teknologinya dan Inovasi Jemput Bola

“Masyarakat menyebutnya Rowo Jali. Merujuk pada banyaknya pohon jali yang dulu ditemui di wilayah tersebut,” jelas Damun ketika ditemui di kediamannya.

Pohon Jali atau yang bernama latin Coix lacryma-jobi adalah sejenis tumbuhan biji-bijan (serelia) tropika dari suku padi-padian. Asalnya dari Asia Timur dan Malaya namun sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Bijinya dapat dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat dan obat.

Damun lantas mengisahkan asal muasal Rowo Jali ini diyakini berhubungan dengan Rowo Tunggul, Pertapan Sumbernongko, Watudakon, Makam Gedangkeret, hingga ke Sambi Gereng. Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang dianggap keramat oleh warga sekitar. Sehingga keberadaan Rowo Jali juga tidak dapat dipisahkan dengan hubungan tempat-tempat keramat tersebut.

“Menurut cerita juga, konon katanya dulu sebelum tahun 1965 pernah terjadi guntur yang menyebabkan perubahan struktur tanah menjadi berlumpur. Mulanya berawal dari Dusun Sumbernogko kemudian meluber ke arah Barat hingga Buk Putih, Banjardowo,” cerita Damun.


Ditambahkan Damun, ada fenomena lain juga disamping bergoyangnya tanah yakni tidak bisa bercampurnya air sungai dan air yang ada di area persawahan. Sehingga ada bagian ketika air diambil, airnya tetap bening tidak keruh bercampur tanah.

Pensiunan guru ini kemudian juga menyebutkan bahwa luas area Rowo Jali ini dulunya sangat luas bahkan sampai lebih dari satu hektar. Namun seiring waktu, areanya semakin menyempit hingga kini tinggal 10x15 meter dari titik yang dianggap sebagai sumber air (rawa).

Sementara itu menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilansir dari CNN Indonesia menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi di Banjardowo ini bukan merupakan sesuatu yang asing dan perlu untuk dikhawatirkan. Fenomena itu terjadi karena air yang masuk ke dalam tanah ‘terjebak’ dan tidak bisa mengalir keluar. Salah satu faktornya karena kondisi di bawah tanah sudah jenuh akibat pori-porinya tertutup karena volume air yang melebihi batasnya.

Untuk mengatasinya, salah satu caranya dengan memperbaiki sistem saluran air (drainase) atau menggunakan pompa agar air bisa keluar dari dalam tanah. Disisi lain, masyarakat juga harus tetap waspada bahwasanya jika tanah yang ‘bergoyang’ itu sering diinjak-injak bisa beresiko retak bahkan jebol meski tidak akan menyebabkan longsor. fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya