Suasana Temu Pendidik Daerah (TPD) 11 KGB Jombang. (Istimewa)

JOMBANG – Belajarlah sejak dari dalam kandungan hingga liang lahat. Peribahasa ini menujukkan bahwa untuk belajar tidak dibatasi oleh usia. Selain itu belajar juga tidak terbatas pada profesi, ruang, dan waktu. Belajar bisa dari siapa saja, di mana saja, serta kapan saja.

Begitu pula dengan guru yang meski tugas utamanya adalah mentransfer ilmu kepada peserta didik, namun seharusnya masih terus belajar agar bisa menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik dan memaksimalkan penyerapan materi oleh peserta didik.

“Seorang guru harus terus mengembangkan potensinya dengan belajar. Guru dalam kegiatannya semestinya bisa menentukan cita-citanya, menguasai kompetensi, membangun kolaborasi, dan membuahkan karya yang mencerminkan karier secara individual maupun komunitas,” ungkap Ketua Komunitas Guru Belajar (KGB) Jombang, Alfi Lailatin.

Baca Juga: Pagelaran Seni Sabtu Paingan Wadahi Atraksi Pelajar

Perempuan yang akrab disapa Alfi atau Fifi ini menambahkan bahwa dalam proses belajarnya, seorang guru seharusnya tidak membatasi diri dengan hanya belajar kepada narasumber ahli atau pada pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang tetapi dapat lewat rekan sejawat. Pengalaman yang berbeda satu sama lain bisa dijadikan sebagai sumber belajar.

Begitu pula dengan metode belajarnya yang sudah tidak lagi harus bergantung pada tatap muka. Pemanfaatan teknologi, penggunaan media sosial dan platfom yang bisa diikuti oleh banyak orang bisa digunakan sebagai ruang belajar. Menggunakan cara ini, waktu dan tempat belajar bisa dilaksanakan lebih efisien.

“Dalam KGB sistem yang diterapkan mirip dengan kuliah atau diskusi-diskusi online yang sudah lebih dulu ada. Memanfaatkan grup di WhatsApp atau Telegram, kami mendiskusikan beragam permasalahan yang di alami. Saling berbagi pengalaman dari yang baru saja dilakukan. Jika ada topik permasalahan yang ingin dibahas lebih mendalam, penggagas akan memilih tema, menentukan waktu diskusi dan mengundang narasumber. Jika di grup internal daerah sedang tidak ada pembahasan dan di grup daerah lain ada pembahasan yang menarik akan disampaikan pada anggota supaya bisa ikut bergabung berdiskusi di sana. Jadi belajarnya bisa dengan siapa saja,” jelas Alfi Lailatin.

Meski lebih aktif berdiskusi melalui online, kegiatan diskusi secara tatap muka juga tetap dilaksanakan secara berkala. Untuk skala lokal (tingkat kabupaten), kegiatan Temu Pendidik Daerah (TPD) disesuaikan dengan jadwal anggota. Sementara untuk skala regional (tingkat provinsi) yang diwadahi dalam Temu Pendidik Regional (TPR) dan Temu Pendidik Nasional (TPN) dilakukan setiap tahunnya tentunya dengan tema yang berbeda-beda.

Mekanisme pertemuan dalam TPR dan TPN pun berbeda dengan workshop pada umumnya. Dalam TPR dan TPN, peserta bisa memilih kelas sesuai dengan keinginan pengembangan kompetensi diri yang didasarkan pada empat aspek pengembangan guru. Materi yang disampaikan membahas praktikal hingga pendekatan secara psikologi sehingga guru mendapatkan bekal secara menyeluruh.

Kepala Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Plus Al Fattah, Jogoroto, Khuzaimatul Bariroh, mengemukakan bahwa bergabung dalam KGB membawa banyak manfaat dalam proses pembelajaran di lembaganya. Ia lebih mantap sewaktu membebaskan anak didik untuk berkreasi, memberikan ruang bermain yang memadai tanpa memaksakan kehendak untuk menguasai kemampuan Baca, Tulis, Hitung (Calistung).

“Selama beberapa waktu, metode pembelajaran yang saya terapkan banyak dikritik karena seperti hanya membiarkan anak bermain. Padahal bermain itu sesuai dengan materi pembelajaran dan tumbuh kembang anak. Sempat merasa sendiri, akan tetapi setelah ikut KGB dan bertemu guru-guru yang juga memiliki konsep yang sama bahkan ada yang dengan berbagai pengembangan saya kembali yakin dan percaya diri terhadap apa yang sudah saya terapkan,” urai Khuzaimatul Bariroh.

Hal senada juga disampaikan oleh guru MISS Ar Rohman, Nglaban, Diwek, Ubaidillah Baihaqi. Semenjak bergabung dengan KGB, metode pembelajaran yang diterapkan pada peserta didiknya ia ubah. Jika sebelumnya ia menerapkan pola konvensional dan cenderung memaksa, saat ini ia ubah menjadi pembelajaran menyenangkan dan berorientasi pada peserta didik.

“Keanggotaan KGB yang lintas jenjang, lintas lembaga, bahkan lintas sektoral membuat ilmu dalam proses pembelajaran menjadi sangat beragam. Hal tersebut menjadi meluaskan pengetahuan,” ungkap Ubaidilah Baihaqi.

Kedepannya baik Alfi Lailatin, Khuzaimatul Bariroh, dan Ubaidillah Baihaqi berharap akan semakin banyak guru yang bisa bergabung dan belajar bersama dalam KGB. Meski sifat keanggotaannya sukarela, namun banyak manfaat yang bisa diambil dari komunitas ini. Sasaran kedepannya pun diharapkan mampu mendukung dan menyukseskan program dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem terkait Merdeka Belajar.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa
Sebelumnya Berikutnya