Antologi Legenda Jombang Mengungkap Keberadaan Sejarah Desa


JOMBANG – Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan oleh manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya. Sejarah, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, juga memiliki tanggungjawab yang sama. Secara sosio-kultural, sejarah memiliki dua tanggungjawab utama, yaitu mewariskan identitas kultural dan menjaga kohesivitas sosial.

Sebagai media pewaris identitas kultural, sejarah bertanggungjawab menjadikan generasi baru memahami siapa diri mereka dan kemana hidup harus diarahkan, meyakini berbagai keutamaan yang dijadikan landasan untuk mengarungi dan memaknai kehidupan masa kini dan mendatang. Sejarah dituntut untuk melahirkan generasi baru yang bangga terhadap kebudayaan masyarakat di mana mereka tinggal.

Sejarah merupakan rentetan peristiwa yang mengisahkan suatu kejadaian. Walaupun hanya tergolong peristiwa lamapau, namun kalau menyangkut hal yang besar pastinya mempengatuhi kondisi saat ini. Laiknya keberadaan bangsa Indonesia maupun sebuah daerah seperti halnya Kabupaten Jombang.

Bung Karno pernah mengingatkan untuk selalu “Jas Merah” yakni jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, membuat pegiat seni, budaya, maupun sejarah di Kabupaten Jombang, Dian Sukarno membuat buku yang bertajuk Antologi Legenda Jombang #Sisik Melik 02. Buku tersebut merupakan lanjutan dari buku sebelumnya yang berjudul Antopologi Legenda Jombang jilid satu.

Baca Juga: MGMP Wadah Peningkatan Kualitas Guru

Sama seperti buku sebelumnya, buku karya Dian Sukarno tersebut berisi tentang legenda desa-desa yang ada di Kabupaten Jombang. Terbitnya buku lanjutan ini, dirinya berharap ada kebanggaan tersendiri bagi desa-desa yang telah memahami sejarahnya sehingga dapat menjadi daya dorong yang sangat kuat serta generasi penerus saat ini tahu akan sejarahnya.

“Awal ide saya memulai menggarap buku ini bermula dari sebuah keresahan akan tinggalan mutiara kearifan di sekitar ini. Akhirnya saya mencoba merekontruksi ulang remah-remah sejarah yang ada di Kabupaten Jombang,” kata Dian Sukarno ketika ditemui di Balai Perpustakaan Mastrip Jombang saat membedah bukunya, Sabtu (22/02).

Proses membuat legenda desa-desa di Jombang diakuinya mempunyai tantangan tersendiri. Ia mulai mengumpulkan data tentang desa-desa di Jombang sejak 2004 silam. Laki-laki yang juga mantan jurnalis sebuah radio swasta ini pun mulai mengumpulkan data-data desa dengan menggunakan enam pendekatan keilmuan yakni artefaktual, etnoarkeologi, etnografi, topografi, dan toponimi. Saat ini buku keduanya telah merampungkan 101 judul sejarah atau legenda-legenda desa yang ada di Jombang.

Tingkat kesulitan pada penyusunan buku tersebut diakuinya jika ada data yang terputus. Namun begitu, hal tersebut biasanya tidak terjadi lama karena ia telah memiliki data pendukung tentang desa-desa di Jombang yang hal itu sangat memberikan peran dalam upayanya mengupas sejarah desa-desa tersebut.

“Seiring berjalannya waktu kemudian saya ketemu dengan almarhum Pak Ngaidi Wibowo, pemimpin Ludruk Duta Kharisma, beliau punya ‘babonan’ Babad Jombang (Kebo Kicak), di dalamnya meengisahkan kurang lebih 20 desa di Jombang. Tetapi setelah saya telusuri ternyata lebih, mencapai hingga 30 desa.

Meski begitu secara umum penyusunan ‘Sisik Melik’ tentang desa-desa di Kabupaten Jombang ini masih belum selesai. Menurutnya, total membutuhkan 15 kali cetakan buku untuk memuat keseluruhan legenda desa di Jombang dengan asumsi, satu buku berisi 100 legenda dan satu desa bisa jadi terdiri dari lebih dari lima legenda.

“Jadi Jombang kalau dalam istilah arkeologisnya itu Historical Landscape. Jadi setiap bentang tanahnya mengandung sejarah. Selain itu dari pencairan tentang sejarah desa-desa di Kabupaten Jombang, ternyata keberadaan terkait erat dengan beberapa kultur seperti Mataram Kuno, Airlangga, Dhaha Kediri, Majapahit, Kebo Kicak, VOC, hingga era orde baru,” uangkapnya

Namun dari buku yang diterbitkan Dian Sukarno tidak sedikitpun menyatakan bahwa legenda tersebut benar atau salah, karena sejarah merupakan cerita tutur yang sulit diukur kebenarannya. Oleh karena itu terdapat juga beberapa versi dari narasumber yang ditampilkan secara bersamaan meski dengan versi yang berbeda.

Reporter/Foto: Aditya Eko P.
Powered by Blogger.