PLANDAAN – Walaupun perkembangan zaman sangat pesat, namun cobek (Jawa: Layah) merupakan piranti memasak yang tidak pernah tergantikan. Meski bermunculan peralatan dapur berbahan almunium hingga plastik, tetapi kemunculan mereka belum bisa menggeser posisi cobek. Peralatan berbahan tanah liat ini tetap hadir di sudut-sudut dapur.

Hal itu bukan tanpa sebab. Salah satunya adalah danya nggapan bahwa menghaluskan bumbu atau membuat sambal tidak menggunakan cobek, rasanya kurang mantap. Kekhasan pada masakan tidak muncul setajam kalau memakai cobek dalam meramu bumbunya.

Oleh karena itu, Semi, perajin cobek di Dusun Mambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan masih memproduksi peralatan dapur tersebut hingga kini. Meski usianya sudah memasuki senja, Semi masih terampil dan cekatan memproduksi cobek berbahan dasar tanah liat.

Baca Juga: Pasar Tradisonal Lesu Akibat Corona


Mulanya dia mencari bahan dasar tanah liat, kemudian mencampurnya dengan pasir dan air secukupnya. Proses pencampuran dilakukan secara manual, yakni menggunakan tenaga manusia. Kalau sudah dirasakan pas sebagai adonan, barulah dibentuk dengan ukuran diameter yang dikehendaki.

“Tanah liat ini saya dapatkan dari masyarakat sekitar. Sementara pasir bisa mudah diperoleh di toko material. Namun harga tanah liat berbeda tergantung musimnya. Kalau musim penghujan 25 kg hanya Rp 5.000. Tetapi kala kemarau bisa naik dua kali lipat menjadi Rp 10.000,” terang Mbok Semi, demikian panggilan akrab para tetangga kepada Semi.


Hebatnya, kendati menginjak usia 67 tahun, Semi masih mampu menghasilkan hingga 30 cobek dalam sehari dengan dibantu sang suami. Cobek yang dihasilkan Semi dengan ukuran beragam, mulai dimaeter15 cm, 20 cm, sampai 30 cm. Nah, ketika cobek sudah terbentuk, selanjutnya adalah proses penjemuran. Proses ini memakan waktu satu hingga tiga jam. Tahap selanjutnya adalah proses pembakaran.

Semi menjelaskan, “Kalau sudah terkumpul 150 cobek, kemudian dibakar secara bersamaan.”

Dari mana Semi memperoleh keterampilan itu? Dia menjelaskan, keterampilan tersebut diperolehnya secara turun menurun, yaitu dari orang tuanya. Bahkan termasuk alat-alat yang digunakan untuk pembuatan cobek merupakan peninggalan orang tua. Sekalipun masih menggunakan cara dan peralatan tradisional, ia menjamin kualitas cobek buatannya bisa diadu. Maka tidak heran, usaha yang digeluti Semi selama puluhan dekade itu masih bertahan hingga sekarang.

Soal pemasaran, menurut Semi, dirinya tidak menjual langsung ke konsumen. Melainkan sudah ada pemborong yang rutin datang untuk membeli semua buah karyanya tersebut. Harganya bervariasi, mulai Rp 2.000 hingga Rp 4.000. Sekali diborong, setidaknya Semi mampu mengantongi Rp 300.000 sampai Rp 350.000.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.
Sebelumnya Berikutnya