PLOSO –
Menghafal surah-surah dalam Alquran kini banyak diterapkan oleh lembaga pendidikan guna selain terekam baik oleh anak didik, tentunya memahami maknanya. Meskipun demikian tidak harus dipaksakan yang akan berdampak buruk, melainkan dengan cara di ulang berkali-kali dengan menirukan gurunya.

Kepala Kelompok Bermain Islam Terpadu (KB IT) Robbani Ploso, Yuni Ainur Rohmawati, S.Pd. mengatakan bahwa anak usia dini pada hakikatnya belum mampu membaca ayat Alquran. Namun dapat menggunakan cara agar anak didik bisa menghafal dengan metode meniru. Anak didik akan meniru yang diucapkan oleh guru pada saat mengajarkan ayat-ayat tersebut.

Hal tersebutlah yang juga diterapkan kepada anak didiknya di KB IT Robbani Ploso. Seperti yang tertera pada visi lembaga yang berfokus pada generasi muslim dengan berpedoman Alquran dan As-Sunnah menjadikan anak didik di lembaga yang berdiri sejak tahun 2014 tersebut selalu mengedepankan keagamaan.

Baca Juga: Hendra Koestanto Menyimpan Kenangan Kecilnya didalam Mainan

“Poin terpenting dalam metode menghafal adalah pengulangan. Pembiasaan pengulangan yang dilakukan secara intensif, anak didik akan mudah menghafal surah-surah pendek dalam Alquran dan tersimpan dalam memori jangka panjang. Seperti halnya orang dewasa yang kini dengan mudahnya membaca surah Al-Fatihah tanpa mengingat-ingat ayat yang akan di baca. Hal itu merupakan contoh pembiasaan pengulangan yang dilakukan di masa kecilnya,” papar ibu satu anak tersebut.

Cara mengajarnya pun tidak serta merta langsung menghafal surah meskipun surah tersebut tergolong pendek, tambah Yuni Ainur Rohmawati. Melainkan dengan bertahap, diulang-ulang dan diperjelas lafal pengucapannya. Selain menghafal surah pendek, anak didik juga belajar tentang hadist. Hal itu penting karena sesuai dengan Nabi Muhammad SAW dalam perkataan, perbuatan ataupun taqrirnya.


Selain menggunakan metode meniru, KB yang saat ini memiliki anak didik berjumlah 83 tersebut juga menggunakan metode Wafa. Metode Wafa ialah anak didik ditumbuhkan dahulu semangat belajarnya, dibangkitkan motivasi belajarnya kemudian setelah semua siap diberi materi. Guru dapat mengawalinya dengan cerita, pertanyaan atau permainan.

“Metode Wafa merupakan pelatihan tentang upaya mengenalkan Alquran dengan cara yang mudah. Selain itu pembelajaran Alquran saat ini perlu mengadaptasi perkembangan zaman dan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih mudah diterima generasi milenial,” ujar Yuni Ainur Rohmawati.

Penggunaan metode Wafa saat ini dinilai bagus karena lebih dekat dengan anak karena dalam pembelajarannya mengguankan bahasa ibu yang mudah dan familiar bagi anak. Pengenalan huruf hijaiyyah dalam metode Wafa dibagi menjadi beberapa konsep kelompok huruf hijaiyyah yang membentuk kata yaitu (ma, -ta, -sa, ya, -ka, ya,- ra, da), (a, da, -tho, ha, -ba, wa, -ja, la), (Sho, fa, -na, ma, -qo, ta, -la,ma), (Dza, sya, -gho, za, -ba, wa, -ka, dho), (ha, tsa, kho, dzo, sa, ma, dho, ‘a) dan metode Wafa mencakup stimulasi perkembangan anak, melalui penggunaan model variatif, diantaranya peraga besar buku wafa KB, flashcard warna-warni dan bergambar dilengkapi tulisan hijaiyyah yang tersusun dalam sebuah kata.

Reporter/Foto: Aditya Eko P.

VISI:

Terciptanya generasi muslim yang cerdas dan berkualitas, mandiri, serta berjiwa inovatif dibawah bimbingan Alquran dan As-Sunnah.

MISI:

1. Menjadi lembaga dakwah berbasis pendidikan yang berwawasan global

2. Menjadi lembaga pendidikan yang memberi teladan dalam membumikan nilai-nilai Islam

3. Menjadi sekolah Islam unggulan dan model di Kabupaten Jombang
Sebelumnya Berikutnya