JOMBANG – Tidak pernah terbayangkan perjalanan karirnya saat ini akan berakhir menjadi seorang penilik untuk jenjang pendidikan non formal. Begitu pula ketika menjadi Juara I di sektor penilik pada Seleksi Penilaian Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang 2019.

“Awal ikut seleksi itu karena didorong oleh Pak Sudarsono selaku Ketua Ikatan Penilik Indonesia (IP) Kabupaten Jombang. Beliau berkata bahwa kami yang muda-muda, penilik-penilik baru ayo berani mencoba untuk mengikuti Seleksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi. Dari situ akhirnya nekat ikut dan malah jadi juara,” ujar Juara I Penilik Seleksi Penilaian Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang 2019, Lasto Subagyo, S.Pd.

Pria yang menjadi penilik pendidikan non formal sejak 2018 mengembangkan metode yang diramunya sendiri yakni Amplas (Jawa: Alat Penghalus). Amplas sendiri memiliki kepanjangan Amati, Pahami, dan Laksanakan. Metode itu pun diterapkan metode tersebut kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menjadi binaannya. Harapannya selain lebih maksimal dalam menjalankan pembelajaran kepada peserta didik, setidaknya mencapai nilai minimal dari delapan standar yang telah ditetapkan sehingga lembaga dapat mengajukan akreditasi.

Baca Juga: KB IT Robbani Ploso Biasakan Menghafal Surah Pendek

“Istilah amplas ini dipilih karena nilai filosofinya yang sesuai. Dalam dunia pertukangan, amplas digunakan untuk memperhalus permukaan kayu. Kehendak saya juga bisa membuat kualitas lembaga PAUD yang saya bimbing menjadi lebih baik,” harap Lasto Subagyo.

Namun dibalik prestasi yang sudah dicapainya saat ini, bungsu dari lima bersaudara ini sebenarnya tidak pernah menyangka akan menjadi penilik pendidikan non formal. Karena cita-cita awalnya hanyalah menjadi seorang guru ekonomi SMP/SMA sesuai dengan pendidikan terakhir yang ditempuhnya di Universitas Negeri di Surabaya.

Meski sekarang menjalani pekerjaan yang berbeda dari yang diharapkannya dulu, namun pria 47 tahun ini justru mengaku sangat menikmati. Bertemu beragam orang, ia bisa berbagi dan saling bersinergi untuk memajukan pendidikan non formal lebih baik lagi.

Uniknya dalam menjalankan tugas pokok utamanya menjadi seorang penilik, Lasto Subagyo tidak secara konservatif. Selain memberikan pembimbingan sesuai delapan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan, ia juga membagikan pengalaman lain pada lembaga-lembaga binaannya.

“Jika waktu dan kesempatannya memungkinkan, saya seringkali juga mengajari ibu-ibu wali anak didik di lembaga PAUD untuk memasak. Masakan yang saya ajarkan tentu yang sederhana, sehat dan bergizi. Harapannya bisa meminimalisir anak jajan sembarangan atau bisa juga dijadikan sebagai modal bagi para ibu untuk berwirausaha,” ungkap Lasto Subagyo sambil terkekeh.

Ditanya lebih jauh, ternyata keterampilan memasak tersebut diperoleh Lasto Subagyo saat ia bekerja di sebuah restoran Chinese Food tidak lama setelah lulus kuliah sebelum melamar menjadi PNS. Dari pengalamannya itu, Lasto Subagyo saat ini kerap mengkombinasikan berbagai jenis Chinese Food dengan bahan-bahan lokal dan sederhana.

“Dari yang awalnya hanya di lembaga binaan, saat ini sudah merambah ke lembaga-lembaga lain. Saya senang ternyata sedikit ilmu di luar tugas utama ternyata bisa menambah nilai lebih kepada orang lain,” tutup Lasto Subagyo.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Aditya Eko P.
Sebelumnya Berikutnya