BARENG –
“Sun Miwiti Andalang Wayangku Bambang Paesan”, itulah kata-kata pertama yang keluar dari Sang Dalang saat memulai pergelaran. Jika diartikan “Saya mulai mendalang wayangku bagus rupawan”. Syair yang diucapkan Dalang seolah berbaur dengan alunan Gending Gondokusumo yang ditabuh pengrawit lebih kurang 15 orang dan waranggono atau pesinden 5 sampai 10 orang.

Di Jawa Timur khususnya Jombang, selain memiliki pertunjukan wayang kulit pakeliran gaya Jawa Tengahan, ada jua Wayang Kulit Purwa gaya Jawa Timuran dengan spesifikasi menunjuk gaya daerah Trowulan (Cek-Dong). Bukan merupakan hal aneh jika pakeliran Jawa Timuran ala Trowulan (Majapahitan) tetap bertahan dan eksis sampai sekarang, karena dahulu Jombang adalah pintu gerbang Kerajaan Majapahit yang notabene dikatakan berbudaya “arek”, serta ada beberapa peninggalan dan nama tempat yang mengekor pada Majapahit.

Salah satu dalang Wayang Cek-Dong dari Jombang yang masih eksis hingga saat ialah, Sareh Budi Utomo. Laki-laki kelahiran tahun 1956 ini telah menekuni dunia perdalangan Wayang Cek-Dong selama hampir 45 tahun. Tak ayal, kepiawaiannya bermaian wayang ketika pentas tidak diragukan lagi.

Baca Juga: DWP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang Buka Tahun Baru dengan Berbagi

“Ketika itu saya masih kelas empat SD. Sepulang sekolah saya melihat sebuah pementasan wayang amen di Kecamatan Bareng ini. Kebetulan yang menjadi dalang pada waktu itu adalah Ki Suwadi dari Desa Grobogan-Mojowarno. Semenjak saat itu saya mulai tertarik dengan perwayang, khususnya dalang,” kata Sareh Budi Utomo yang berdomisili di Dusun Kuwik, Desa/Kecamatan Bareng tersebut.

Saking tertariknya Ki Sareh sapaan akrabnya itu, dirinya rela mengikuti Ki Suwadi amen kemanapun. Sampai-sampai dia bolos sekolah hingga dua minggu dan cita-cita nanti setelah lulus SD dirinya ingin ngangsu kaweruh (berguru) sebagai dalang kepada Ki Suwadi. Maka pada tahun 1970, Ki Sareh dengan disertai kakeknya menemui Ki Suwadi untuk mendaftar sebagai cantrik. Namun lamaran tersebut ditolak karena Ki Sareh belum cukup umur untuk ikut nyantrik.

Sebagai pelampiasan atas ditolaknya, Ki Sareh langsung pergi merantau ke Surabaya untuk bekerja. Satu tahun kemudian dia kembali menemui Ki Suwadi untuk menjadi cantrik. Mungkin karena kasihan akhirnya Ki Suwadi menerima Ki Sareh sebagai cantrik.

“Ki Suwadi tidak mengajari saya secara intens, beliau mengajari saya tatkala sedang ngamen. Jadi saya harus meniru apa yang dilakukan Ki Suwadi. Apabila saya kantuk atau tertidur pada waktu beliau ndalang, maka akan ketinggalan, sehingga besuknya pasti tidak bisa meniru apa yang dilakukan Ki Suwadi tadi malam,” ujar kakek dua cucu itu.

Baru pada tahun 1976, Ki Sareh mendapat pekerjaan pertamanya di rumah seorang kepala dusun di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro. Terdapat cerita menarik manakala Ki Sareh harus memilih menjadi dalang wayang kulit gaya Jawa Timuran, itu tidak lebih karena pada waktu itu wayang gaya Jawa Timuran lebih sering ditanggap orang karena harganya lebih murah dari pada gaya Jawa Tengahan, perbedaan harga itu dikarenakan jumlah pengrawitnya lebih sedikit.

Permasalahan yang dihadapi wayang Gaya Jawa Timuran ini menurut Ki Sareh ialah gaya wayangannya tidak dapat diterima secara luas di daerah-daerah lain. Hal ini dikarenakan karena gaya Jawa Timuran lebih ke budaya “arek”, yaitu di daerah Mojokerto, Lamongan, Surabaya, Gresik Sidoarjo, Pasuruan, bahkan masih sampai di Jombang.

“Pementasannya biasanya masih di kawasan tersebut saja. Pernah ada pementasan di Kertosono itu pun sepi penontonnya karena mereka tidak paham dengan wayang Gaya Jawa Timuran. Mereka lebih paham dengan Gaya Jawa Tengahan. Karena di wilayah tertentu itu terkadang masyarakat juga bosan dengan gaya-gaya yang seperti itu saja,” keluh Ki Sareh.

Sebenarnya dalang harus melakukan inovasi-inovasi dalam penyajiannya, lanjutnya, maka perkembangan pedalangan khususnya gaya Jawa Timuran akan lebih baik lagi. Permasalahannya sekarang ini banyak dalang yang enggan melakukan itu, mereka sudah merasa cukup puas dengan gayanya sendiri. Hal lain yang perlu dilakukan adalah semestinya para dalang yang ada di Jombang, sering melakukan silahturahmi dengan tujuan menimba ilmu dan bertukar pendapat, sehingga saat ini banyak dalang yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Tidak heran kalau orang yang mengapresiasi atau nanggap juga enggan karena tidak ada kemajuan yang berarti.

“Unsur entertainment harusnya sudah menjadi kebutuhan saat ini. Mustahil kesenian tradisi akan masuk di hati penikmat seni kalau tidak ada unsur hiburan yang lagi digemari saat ini, misalnya campursari. Tapi seorang dalang harus juga bisa memainkan perannya sebagai seorang sutradara, artinya jangan sampai kesenian tambahan atau hiburan tersebut justru mematikan seni wayang itu sendiri. Saya berharap ke depan pemerintah daerah, memberi ruang yang cukup untuk para dalang mengekspresikan kemampuannya melalui pementasan secara periodik,” ungkap ayah dua anak tersebut.

Reporter/Foto:
Aditya Eko P.
Sebelumnya Berikutnya