JOMBANG – Dunia kesehatan pada Desember 2019, dikejutkan dengan munculnya virus jenis baru. Virus yang kemudian diberi nama 2019-nCoV atau secara ilmiah bernama Novel Coronavirus ini mulai muncul dan mewabah di kota Wuhan, Tiongkok. Pada perkembangannya, virus ini juga menyebar ke beberapa negara lain mulai dari Hongkong, Vietnam, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Italia, Swedia, Swiss, Rusia, hingga Amerika Serikat. Indonesia sendiri baru mengkonfirmasi ada warganya yang tertular virus yang menginfeksi sistem pernafasan ini pada Senin (2/3).

Usai pernyataan resmi dari Presiden Joko Widodo terkait sudah adanya warga negara Indonesia yang tertular Virus Corona, beragam upaya dilakukan diantaranya dengan penunjukan lebih kurang seratus rumah sakit di seluruh Indonesia untuk rujukkan perawatan.

Kendati tidak termasuk dalam seratus rumah sakit yang ditunjuk secara langsung sebagai rumah sakit rujukan penanganan Virus Corona, namun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jombang telah bersiap jika nantinya ditemukan kasus penularan Virus Corona. Bahkan sudah mempersiapkan ruangan isolasi khusus untuk penyakit menular, termasuk juga Virus Corona.

Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Kabupaten Jombang, dr. Fery Dewanto menjelaskan, “RSUD Jombang sudah siap jika nantinya harus menangani kasus Virus Corona. Sarana dan prasarana hingga keterampilan tim medis juga pendukung sudah disiapkan dengan baik. Bahkan hingga saat ini sudah empat kali dilakukan pelatihan mengenai penanganan Virus Corona yang diikuti oleh seluruh karyawan RSUD, baik tenaga kesehatan ataupun yang bukan, semuanya diberikan informasi serta tata cara dalam penanganan Corona.”

Baca Juga: Izin Operasional Tersendat Dampak Akan Berkepanjangan

Fery Dewanto menambahkan, selain memberikan bekal pengetahuan kepada seluruh karyawan, penanganan proses penanganan pasien nantinya juga merujuk pada standar kesehatan yang telah diberlakukan. Pada bagian kegawatan juga sudah disediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang bisa segera digunakan ketika benar-benar menangani pasien dengan dugaan terpapar Corona.

“Dalam penanganan pasien, prosedur yang dilakukan adalah melihat ada atau tidaknya indikasi yang menjadi gejala utama terkenanya Virus Corona. Indikasi atau gejalanya meliputi batuk, pilek, dan sesak nafas. Serta yang paling utama adalah ada atau tidaknya riwayat kunjungan ke daerah terjangkit atau kontak dengan orang yang mungkin terindikasi terkena penularan Virus Corona. Jika seluruh indikator terpenuhi, maka akan dilakukan penanganan lanjutan dengan pemeriksaan laboratorium serta pemantauan intensif pada pasien,” jelas Fery Dewanto.

Senada dengan yang disampaikan oleh Fery Dewanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Wahyu Sriharini juga menekankan hal serupa. Menurutnya, penanganan terkait Virus Corona adalah pada riwayat kunjungan pada daerah terpapar atau adanya kontak dengan orang yang terindikasi tertular virus itu.

“Hingga saat ini belum ada kebijakan untuk memberlakukan pengecekan misalnya di terminal atau stasiun yang ada di Jombang. Karena di sini lingkupnya daerah yang kemungkinan interaksi dengan orang luar lebih sedikit jika dibandingkan dengan bandara atau pelabuhan. Karena dua tempat itu intensitas persinggungan dengan orang-orang dari luar masih cukup besar. Meski begitu yang bisa dilakukan dan dipesankan pada warga Jombang jika mengetahui ada orang-orang yang baru saja datang dari luar daerah atau bahkan luar negeri, diharapkan waspada. Jika orang tersebut menunjukkan gejala seperti batuk sakit tenggorokan, demam, bahkan sesak nafas harap segera disarankan untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat,” jelas Wahyu Sriharini.

Wahyu Sriharini juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak perlu panik berlebihan dalam menyikapi perkembangan berita yang ada. Ia memaklumi kecemasan yang timbul, namun kecemasan itu menurutnya tidak perlu sampai harus menimbulkan reaksi-reaksi berlebihan.

Perempuan berhijab ini menambahkan, “Seperti pembelian masker. Tidak perlu mengenakan masker jika tidak dalam kondisi sakit atau berada dalam lingkungan yang tidak diketahui kualitas kesehatannya. Semisal di tempat umum seperti terminal, stasiun, atau sebagainya. Lebih baik penggunaan makser tersebut diprioritaskan pada orang-orang yang sakit, seperti yang sedang flu dengan batuk, pilek, bersin”.

“Etika ketika bersin atau batuk di ruang publik saat seperti ini agar diperhatikan lebih baik lagi. Saat bersin atau batuk jangan hanya ditutup dengan telapak tangan. Lapisi dengan tisu atau jika tidak ada, lakukan dalam lipatan siku. Namun diantara semuanya, yang terpenting adalah penerapan kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang baik dan benar. Ini yang harus benar-benar digalakkan. Baik itu sebelum makan atau setelah memegang benda-benda yang ada di sekitar kita. Dengan CTPS yang baik, virus tidak akan sampai masuk ke dalam tubuh,” sambungnya.

Selain itu, menjaga kesehatan utamanya daya tahan tubuh juga sangat penting untuk diperhatikan. Kemudian memastikan makanan yang dikonsumsi mengandung gizi dan sudah dalam tahapan matang yang sempurna sesuai dengan anjuran. Selain itu, istirahat cukup dan olahraga juga menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mengindari tertularnya virus.

Sementara itu, terkait Virus Corona sendiri yang dihimpun dari berbagai sumber penularan atau penyebarannya melalui droplets atau partikel air kecil dari batuk atau bersin penderita. Masa inkubasinya lebih kurang selama empatbelas hari. Pasien yang terkena virus ini dimungkinkan untuk sembuh ketika daya tahan tubuhnya dapat ditingkatkan secara maksimal.

Peserta Didik Belajar di Rumah

Pada Minggu (15/3) Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengeluarkan instruksi kepada seluruh masyarakat Jawa Timur untuk melakukan sosial distance (pembatasan jarak sosial) untuk menghindari penularan Virus Corona. Hal ini juga merujuk pada instruksi Presiden Joko Widodo terkait jumlah pasien positif Corona di Indonesia yang semakin bertambah.

Menindaklanjuti instruksi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jombang yang diteruskan hingga instansi terkait termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang mengeluarkan kebijakan agar seluruh peserta didik belajar di rumah. Kegiatan pembelajaran yang sedianya dilakukan secara tatap muka dialihkan secara daring (dalam jaringan atau online).

“Pesannya selama pelaksanaan pembelajaran di rumah wali peserta didik agar memantau anaknya. Memastikan mereka untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru,” pesan Kepala Disdikbud Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, S.H., M.Si.

Untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran, Disdikbud Kabupaten Jombang juga mengeluarkan format kisi-kisi pembelajaran di rumah yang bisa dikembangkan oleh masing-masing guru di sekolah. Untuk sumber belajar, guru juga dapat memanfaatkan portal rumah belajar milik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) atau sumber belajar lain. Sedangkan sarana komuikasi antara guru dan wali peserta didik bisa dilakukan melalui aplikasi kirim pesan seperti WhatsApp atau sejenisnya.

Sementara bagi peserta didik di tingkat akhir yang harus mengikuti ujian, mereka diperbolehkan tetap masuk, namun sekolah harus menerapkan standar kesehatan yang ditetapkan. Diantaranya menyediakan sarana cuci tangan atau antiseptik.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa

Sebelumnya Berikutnya