KABUH – Air merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan. Bahkan dalam tubuh manusia pun ada kandungan air. Oleh karena itu, dibutuhkan kualitas air yang baik dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Baik untuk konsumsi ataupun kebutuhan lainnya. Sayangnya di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh kadungan airnya kurang baik dan tidak laik konsumsi.

Diungkapkan oleh Kepala Desa Manduro Jamilun bahwa ada rasa dan bau tersediri dalam kandungan air di wilayahnya. Tidak sama dengan air pada umumnya, setelah diuji coba, ternyata air tersebut mengandung besi. Selain tak aman jika dikonsumsi, tentunya juga merusak pipa penyalur air yang digunakan selama ini.

Kondisi ini diperkuat dengan penjabaran Sanitarian Puskesmas Kabuh, Elly Setyowati, SKM. Menurut Elly, bila air tersebut terus dikonsumsi akan menganggu proses metabolisme dalam tubuh. Dia membenarkan bahwa tubuh membutuhkan zat besi, namun menurutnya perolehan zat tersebut bukan dari air melainkan asupan makanan sehat.

Baca Juga: Corona Membuat Disdikbud Kabupaten Jombang Cermati Ulang Penggunaan Anggaran

“Bila terakumulasi dalam tubuh, maka dapat merusak dinding usus, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis ginjal, sembelitm diare, pusing, hipertensi dan banyak lagi lainnya. Termasuk pada bagian luar tubuh seperti iritasi mata dan kulit,” terang Elly Setyowati.

Muncullah alternatif yang sangat inovatif meski metodenya sederhana, yaitu dengan cara aerasi, sedimentasi, dan filtrasi. Mekanismenya sangat mudah, yakni dengan menyiapkan penampungan di bawah kran air pada setiap rumah. Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan alat tersebut bisa dicari di sekitar lingkungan.


Jamilun merinci cara membuatnya, “Saringan tradisional ini dibuat dari pasir, kerikil, batu, dan arang. Dilengkapi dengan ijuk yang terbuat dari serabut kelapa.”

Berdasarkan arahan dari Puskesmas Kabuh, memang tidak perlu sebuah standar khusus. Hanya saja serabut kelapa yang bakal digunakan harus direndam terlebih dulu dalam air mendidih selama satu jam. Selanjutnya dibilas dan dikeringkan. Tujuannya, untuk menghilangkan warna merah yang dihasilkan dari Zat Tannin.

“Kalau akan digunakan, arang juga harus dicuci terlebih dulu, supaya menghilangkan abu hitam yang menempel. Pasalnya, air yang laik konsumsi haruslah tidak berwarna, berbau, dan tidak berasa,” pungkas Elly Setyowati.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya