JOMBANG – Wabah Virus Corona atau Covid-19 membuat seluruh orang waspada. Bahkan untuk menghindari penyebaran virus ini semakin meluas, pemerintah memberlakukan kebijakan kepada peserta didik untuk belajar di rumah.

Kegiatan belajar di rumah tentunya berbeda dengan ketika berada di sekolah. Dengan kegiatan belajar di rumah, guru tidak bisa melakukan pengawasan secara langsung. Pola pembelajaran pun harus berubah dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Ketua Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG) SD Kabupaten Jombang, Adi Sihwoyo, S.Pd.SD menyatakan, “Kegiatan belajar dari rumah untuk anak-anak itu memang harus dilakukan sesuai prinsip belajar sepanjang hayat, di mana dan kapan saja. Sementara untuk pembelajaran di rumah, keterampilan utama yang harus dimiliki adalah literasi teknologi informasi. Perkembangan zaman yang seperti ini, sepertinya tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa mengoperasikan ponsel. Penggunaan aplikasi berkirim pesan seperti WhatsApp dengan fiturnya seperti WhatsApp grup sudah biasa digunakan. Dan itu dapat digunakan sebagai media selama pelaksanaan belajar di rumah.”

Pria yang juga mengajar di SDN Karangan I Bareng ini melanjutkan, untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan belajar di rumah, guru menyusun kisi materi pembelajaran yang selanjutnya dibagikan melalui WhatsApp grup kepada peserta didik dan orang tua untuk dijadikan sebagai pedoman. Dari kisi pembelajaran yang telah diberikan, peserta didik belajar di rumah dibantu dengan pemantauan orang tua. Secara berkala guru memantau dengan menanyakan progress belajar tersebut.

Baca Juga: SOP PEMUDIK/PENDATANG Selama KLB Covid-19 di Kabupaten Jombang

Bagimana untuk mengetahui ketercapaian target kurikulum? Adi Sihwoyo menjelaskan, ada tiga ranah yang dinilai sesuai ketentuan. Di antaranya, sikap keaktifan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, pengetahuan dari hasil tugas yang terkumpul, nilai ujian, keterampilan dari kinerja, serta produk maupun portofolio selama kegiatan belajar di rumah.

“Berdasarkan dari laporan yang dikirimkan, peserta didik tetap mampu menyelesaikan target pembelajaran. Bahkan di antaranya menunjukkan hasil lebih dari yang dibayangkan,” ungkap Adi Sihwoyo.

Namun demikian, bukan berarti pembelajaran di rumah tanpa kendala. Karena tidak dapat dipungkiri hingga saat ini masih ada keterbatasan akses internet. Juga ada peserta didik yang orang tuanya harus bekerja saat pelaksanaan belajar di rumah. Hal itu bisa disiasati menggabung atau belajar bersama teman. Apalagi, peserta didik SD yang ada di daerah kebanyakan tempat tinggalnya tidak berjauhan. Sehingga penyampaian pesan berantai dari satu orang ke yang lainnya masih memungkinkan untuk dilakukan.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala SDN Candimulyo III Jombang, Heri Purwanto, M.Pd. Bagi peserta didik yang mengalami kendala terkait keterbatasan akses internet, pembelajaran di rumah bisa dilakukan dengan kunjungan belajar dan kelompok kecil.

“Peserta didik membuat kelompok kecil kemudian guru bisa mencetak rangkaian tugas dan datang ke rumah peserta didik yang sulit terjangkau internet tersebut. Tidak harus tiap hari. Karena hanya untuk untuk memberikan rangkaian aktivitas belajar kepada wali peserta didik yang mendampingi. Selain itu kita juga bisa memberdayakan peserta didik terdekat yang memiliki ponsel dan jaringan untuk menyampaikan rangkaian belajar beserta tugasnya sekaligus untuk mengontrol pelaksanaannya,” ungkap Heri Purwanto.

Namun karena pelaksanaan belajar di rumah ini diambil untuk melindungi kesehatan peserta didik dari potensi sebaran Virus Corona, maka jika harus melakukan kegiatan tatap muka dalam kelompok kecil peserta didik tetap harus dilakukan sesuai dengan arahan dan petunjuk keselamatan kesehatan. Misalnya, tidak mengumpulkan terlalu banyak peserta didik dan selalu memantau kesehatannya. Karena hal yang terpenting adalah peserta didik senantiasa dalam kondisi sehat, sehingga jangan sampai tugas dari guru justru menyebabkan siswa menjadi kelelahan.

Terkait pembelajaran di rumah ini pria yang pernah menjadi pengajar di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) Sabah, Malaysia ini mengemukakan bahwa saat ini Indonesia sudah memasuki revolusi industri 4.0. Masuk ke era digital di mana semua informasi bisa diperoleh dengan sangat mudah dan cepat. Peran guru pun harus bergeser, dari yang awalnya sebagai sumber informasi menjadi fasilitator. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, guru harus mampu mengubah peserta didik dari yang biasanya hanya menerima materi menjadi seorang insan pembelajar.

Mewabahnya Virus Corona dipandang memiliki sisi positif, yaitu memaksa guru untuk bisa berinovasi. Dari yang awalnya tidak mau mengikuti perkembangan teknologi akhirnya mau belajar memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Namun yang tetap harus diingat adalah, peran guru tetap tidak bisa tergantikan terutama dalam hal menanamkan nilai karakter melalui model keteladanan dan pembiasaan.

“Pembelajaran di rumah harus benar-benar dipersiapkan dengan baik oleh guru. Harus ada program dan jadwal yang sama-sama diketahui oleh wali peserta didik sehingga bisa melakukan pendampingan secara efektif. Namun ada hal yang sebenarnya kurang tepat, ketika pembelajaran di rumah ini diterapkan guru lebih banyak memberikan tugas yang terkadang durasi waktunya bisa melebihi jam efektif di sekolah. Semestinya guru bisa memberikan pengalaman belajar yang bermakna misalnya peserta didik menemukan bentuk benda yang simetri, membandingkan volume berbagai macam benda (wadah), atau mencoba berbagai macam gaya untuk membuktikan sifat-sifat gaya,” jelas Heri Purwanto.

Perannya sebagai kepala sekolah membuat Heri Purwanto juga harus memantau aktivitas guru melalui Google Form. Sementara untuk peserta didik kelas VI ditambah dengan pemanfaatan aplikasi Google Classroom.

“Dengan demikian kami bisa memantau aktivitas guru dan peserta didik hingga berapa peserta didik yang tidak mengikuti pembelajaran. Semuanya bisa berjalan efektif dengan dukungan serta kerja sama yang baik antara guru juga wali peserta didik,” ungkap Heri Purwanto.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa
Sebelumnya Berikutnya