JOMBANG – Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) mulai mengalihkan perhatian pada banyaknya kasus infeksi Covid-19 dengan pasien yang tidak menunjukkan gejala sakit. Seperti yang dilansir pada laman merdeka.com, NHC menyatakan sedang mengamati 1.541 pasien Covid-19 tanpa gejala. Hal tersebut membuat China khawatir gelombang kedua penyebaran virus corona setelah wabah ini mereda di Wuhan. Hingga awal April, China telah berhasil mengendalikan wabah dan mengurangi pembatasan perjalanan di tempat-tempat zona merah.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, DR. drg. Subandriyah, M.KP., mengimbau agar masyarakat menyadari bahwa virus khususnya Covid-19 tidak boleh diremehkan. Semua harus berhati-hati dan memperkuat perlindungan diri, memperkuat daya tahan tubuh, serta menerapkan pola hidup bersih. Salah satunya dengan membersihkan telapak tangan (mencuci tangan), kenakan masker untuk melindungi diri dari percikan batuk dan bersin serta jaga jarak agar tidak terpapar.

“Memang sekarang kasus positif Covid-19 terus meningkat di berbagai daerah di Jawa Timur khususnya di Jombang sendiri. Hingga saat ini akselerasi akan semakin naik bagi penderita, ini lazim karena terkait fase awal positif. Karenanya, masyarakat diimbau untuk menghindari keramaian dan kerumunan, mampu menjaga jarak dengan siapapun dan tidak pergi keluar rumah kalau tidak penting, serta menggunakan masker untuk meminimalisir penyebaran wabah Covid-19,” terang Subandriyah.

Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Jombang Gatut Wijaya mengatakan, penderita Covid-19 tidak semuanya menjalani perawatan di rumah sakit. Sebagian orang yang terinfeksi virus corona ini dirawat di rumah masing-masing. Sebagian besar penderita Covid-19 yang mengalami gejala ringan dapat dirawat di rumah setelah mendapatkan anjuran dari dokter.

Baca Juga: Tutor Sebaya Solusi Menciptakan Pembelajaran Efektif

Gatut Wijaya menambahkan diharapkan seluruh masyarakat yang baru datang dari daerah pandemi mematuhi masa karantina atau isolasi diri yang dianjurkan dokter. Sementara untuk pemakaman penderita yang meninggal akibat Covid-19, masyarakat tidak perlu takut. Hasil penelitian menyebutkan jenazah pasien Covid-19 berpotensi menularkan penyakit jika dimandikan, namun tidak berbahaya apabila sudah dimakamkan.

“Perlu digarisbawahi, risiko ini timbul ketika jenazah belum dimakamkan. Kalau sudah dimakamkan tidak ada lagi risiko tersebut,” jelas Gatut Wijaya

Menurut penelitian, belum ada satu pun organisme penyebab kematian massal yang bisa bertahan lama setelah jenazah dikubur. Organisme yang dimaksud adalah yang menyebabkan kematian massal di masa lalu, seperti wabah pes, kolera, tipes, hingga tuberkolosis. Tidak ada bukti ilmiah pula yang menyatakan bahwa organisme tersebut pada akhirnya dapat menginfeksi orang-orang di sekitar area pemakaman.

Terdampak Covid-19

Tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, penyebaran Covid-19 ini juga turut mempengaruhi sektor kehidupan lain. Sektor ekonomi kecil adalah yang terkena dampak secara langsung.

Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Luar Aloon-aloon Jombang Agus Coco mengungkapkan, munculnya kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang yang melarang PKL berjualan selama masa pencegahan penyebaran Covid-19 membuat sektor informal ini merasakan dampaknya secara langsung.

“Agar roda perekonomian keluarga bisa terus berjalan, kami harus kreatif untuk mencari alternatif lain. Itu juga bagi yang punya bisnis lain di luar berjualan kaki lima. Kalau yang tidak punya bisnis lain ya kasihan, karena tidak lagi memiliki pendapatan,” ungkap Agus Coco.

Agus Coco tidak mau menyebut secara rinci berapa kerugian yang dialaminya dalam sehari pasca terbitnya surat edaran mengenai pelarangan PKL Alun-Alun dan Kebon Rojo untuk berjualan. Agus hanya memberikan hitungan dalam sehari dia bisa menghabiskan lebih kurang 50 buah degan. Untuk satu buah kelapa muda tersebut, lanjutnya, bisa menghasilkan lebih kurang 14 gelas es degan. Nah, setiap gelas tersebut dijual dengan harga Rp 4.000.

Sementara itu dari sektor perdagangan, ketersediaan Barang Pokok dan Penting (Bapokting) seperti beras, gula, minyak goreng, gula, telur, daging di Kabupaten Jombang diprediksi masih aman dalam tujuh bulan mendatang. Fluktuasi harga juga tidak akan terjadi secara drastis. Sehingga masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap ketersediaan Bapokting selama masa penanggulangan penyebaran Covid-19, bulan Ramadan, hingga Hari Raya Idulfitri.

Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Bahan Pokok Penting, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jombang, Nursilah Cahyaningrum, S.E., S.H., M.Si mengemukakan, “Meski secara umum masih aman dan tercukupi namun perlu diwaspadai mengenai ketersediaan gula. Kemungkinannya ketersediaan gula cukup sulit di pasaran dan akan mengakibatkan harganya melonjak. Hal ini diperkirakan terjadi hingga Juni atau sampai masa giling di pabrik gula tiba.”

Untuk menyiasatinya, pemerintah sudah membuka kran impor guna memenuhi kebutuhan pasar. Pendistribusiannya melalui mekanisme pengadaan dari Bulog, distributor, dan ritel modern. Tujuannya, agar harganya tetap terjaga ketika sampai di pasaran.

Harga gula di pasaran sempat meroket di angka Rp 18.000 dari harga normal sebesar Rp 12.500. Sedangkan harga Bapokting yang lain seperti beras, telur, daging, dan minyak goreng terpantau stabil. Harga jual di pasaran tidak berbeda jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan.

Salah satu penjual Bapokting di Pasar Legi Citra Niaga Jombang, Tatak Khoirul Arif menngungkapkan, menjelang Ramadan biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk belanja banyak kebutuhan. Namun dengan adanya Covid-19, terjadi penurunan hampir 75 persen baik dari jumlah pembeli atau barang yang terjual.

“Jika biasanya untuk beras, menjelang Ramadan setiap hari bisa menjual satu hingga dua karung ukuran 50 kilogram. Per dua atau tiga hari bisa kulakan 500 kilogram sampai satu ton beras, kalau sekarang tidak sampai sebanyak itu. Jam buka kios juga biasanya bisa sampai sore bakda asar, sekarang maksimal jam dua siang sudah tutup,” ujar Tatak Khoirul Arif.

Sementara itu Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab mengatakan bahwa masyarakat yang terdampak langsung akibat Covid-19 akan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bantuan tidak hanya akan berasal dari pemerintah daerah, melainkan juga pemerintah pusat dan provinsi. Sehingga diperlukan data yang terperinci agar tidak terjadi tumpang tindih pemberian bantuan.

“Untuk sementara dana yang sudah dialokasikan sebesar Rp 84 miliar. Selain untuk membantu masyarakat yang terdampak langsung, anggaran tersebut juga digunakan untuk pengadaan alat kesehatan, logistik, dan konsumsi bagi para petugas posko penanganan Covid-19,” ungkap Mundjidah Wahab.

Reporter/Foto: Aditya Eko P./Fitrotul Aini
Sebelumnya Berikutnya