Ilustrasi pembeli memilih jajan untuk lebaran. (aditya)

JOMBANG – Idul Fitri selalu disambut dengan pelbagai macam aneka kudapan dan menu makanan. Kalau tidak membatasi diri dengan menyesuaikan kondisi tubuh, bukannya kegembiraan yang didapat, malah sakit yang akan datang. Untuk itu penting selalu menjaga kesehatan dengan mentertibkan makanan maupun minuman yang dinikmati.

Hal itu di akui oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang, Dr. drg. Subandriyah, M.KP bahwa pola makanan mesti dijaga saat menyambut hari penuh kesucian tersebut. Diantaranya, teratur dalam mengkonsumsi makanan walau sedang berkumpul dengan orang-orang terkasih, maupun sewaktu bersilahturahmi ke sanak saudara serta tetangga.

“Kalau sampai tak teratur dalam mengkonsumsi makanan/minuman maka terjadi reaksi kimia berlebihan, akhirnya tubuh kita mengalami kekacauan. Apalagi dengan kebiasaan yang berbeda daripada biasanya. Untuk itu mulai menjalankan ibadah di Bulan Ramadan hingga Idul Fitri harus benar-benar ditakar sesuai dengan kebutuhan tubuh,” ungkap Subandriyah saat ditemui di ruang kerjanya.

Baca Juga: Dampak Wabah Virus Corona Dalam Dunia Pendidikan Kita

Subandriyah menjelaskan, “Sajian kue saat lebaran selain manis pasti ada rasa asin serta gurih. Lengkap dengan minuman manis, sehingga perlu dibatasi sendiri. Jangan karena mengundang selera dan sungkan (Jawa: Tidak Enak) kemudian bebas dan lepas kontrol.”

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Dinkes Kabupaten Jombang, Titik Ulfah, S.ST. menjelaskan bahwa selama berpuasa, tubuh didetoksifikasi secara natural. Sangat disayangkan jika saat lebaran pola makan menjadi tak terkendali. Terlebih kue-kue khas lebaran yang menggoda seperti nastar, kastengels, lapis legit, bahkan chiki-chikian yang dinilai banyak mengandung lemak.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Titik Ulfah, S.ST. (dok. MSP)

“Boleh saja memakan makanan tersebut, asal diperhatikan jumlah kalori yang masuk. Bukan tidak mungkin berat badan akan naik saat mengkonsumsi makanan berlemak dan tinggi kalori. Terlebih mengkonsumsi chiki-chikian. Kami tidak menganjurkan untuk memakan jajanan tersebut secara berlebih,” tutur Titik Ulfah ketika ditemui di ruangannya.

Chiki-chikian mengandung banyak kalori tetapi nihil zat gizi, sehingga jika mengkonsumsi terlalu banyak dapat memicu kenaikan berat badan. Kue kering yang terbuat dari gula dan tepung terigu juga bisa memicu hal serupa. Semisal, kue nastar, kastengel, dan lain sebagainya.

Kalori yang terkandung dalam kue-kue tersebut sangat tinggi, yakni kurang lebih 120 sampai 140 kalori. Sebagai bahan perbandingan nyata, tiga buah nastar sebanding dengan kurang dari 100 gram nasi putih. Rinciannya, 100 gram nasi mengandung 175 kkal, sedangkan untuk satu cetakan nasi (seperti untuk nasi kotak) sekitar 200-250 gram dan kalorinya lebih banyak lagi.

“Karena itu kami menganjurkan untuk menyuguhkan buah-buahan. Sebab kaya vitamin, daripada kandungan zat lain yang kurang diperlukan bagi tubuh. Buah-buahan juga dapat dikreasikan untuk membuat bahan dari kue kering. Menggunakan buah sebagai bahan membuat kue, dapat mengurangi penggunaan gula dan menambah aroma dari kue tersebut,” tegas ibu tiga anak ini.

Menyuguhkan kudapan tradisional juga dapat menjadi pilihan dalam lebaran kali ini. Pasalnya, menurut Titik Ulfah, menu makanan ini jarang ditemui, sudah begitu bahannya pun tidak terkontaminasi dengan zat kimia. Pihaknya saat ini juga sedang menggencarkan membuat makanan dengan menggunakan bahan lokal seperti tanaman-tanaman yang ada di sekitar.

Reporter/Foto: Aditya Eko P.
Sebelumnya Berikutnya