Ploso – Dua lembar kasur busa menghampar di lantai ruang perpustakaan SDN Kebonagung, Kecamatan Ploso, Jombang. Supriono (42) bersama istri dan anaknya tiduran santai di kasur tersebut. Di depannya, televisi tabung ukuran 14 inchi menyala di atas meja.

Hanya televisi itulah yang menjadi hiburan Supriono berikut keluarganya selama menjalani masa karantina 14 hari. “Ya bosan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Aturannya seperti ini. Saya sudah empat hari di ruang karantina,” kata Supriono sembari menunduk, Rabu (15/4/2020).

Supriono datang ke kampung halamannya untuk bertemu dengan keluarga. Namun upaya untuk melepas dahaga kerinduan itu harus tertahan sementara waktu. Dia tidak boleh langsung bertemu dengan keluarganya. Supriono beserta istri dan anaknya harus menjalani masa karantina selama 14 hari.

Baca Juga: Bagi Masker dan Berikan Tandon Cuci Tangan Berharap Memutus Penyebaran Covid-19

Pemerintah desa setempat menerapkan aturan seperti itu. Pemudik yang masuk ke Desa Kebonagung harus ditampung di ruang karantina. Tujuannya, untuk memutus rantai penyebaran virus corona atau Covid-19. Supriono tak bisa berbuat banyak. Ia tahan dulu rasa rindunya. Masa karantina pun dijalaninya.

Supriono berkisah, dia datang dari Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (12/4/2020). Pria berusia 42 tahun ini juga mengajak istrinya Rodiyah (37) dan sang anak Novita (12). Sebelum pulang, Supriono dihajar dilema. Pulang kampung susah, tidak pulang kampung makin susah.

Betapa tidak, sejak merebak wabah corona, usahanya bertambah sepi. Saat di Makassar, penghasilan pria yang sehari-hari berjualan bakso keliling ini terjun bebas. Itu karena adanya pembatasan kegiatan serta physical distancing. Jalan-jalan di kota banyak yang tutup. Para pelanggan bakso enggan keluar rumah. Kondisi yang serba sulit itulah akhirnya memaksa bapak dua anak ini kembali ke tanah kelahiran.


Dia kemudian menghubungi keluarganya. Namun kabar di kampung juga tidak jauh beda. “Pilihan yang serba sulit. Namun, akhirnya saya memilih kembali ke kampung halaman, meski harus menjalani karantina. Karena di Makassar juga sepi. Tidak bisa jualan,” urai Supriono sembari membetulkan letak maskernya.

Begitu tiba di kampung halaman, Supriono langsung menjalani pemeriksaan. Suhu badannya dicek menggunakan thermo gun oleh petugas. Begitu juga dengan istri dan anaknya. Sejak itu keluarga yang sudah 15 tahun merantau di Makassar ini menghabiskan hari-harinya di ruangan berukuran 5 x 7 meter.

Untuk mengusir rasa jenuh, Supriono dan keluarga melakukan olahraga. Setiap pagi, mereka lari-lari ringan mengelilingi lapangan sekolah. Jika sudah capek, Supriono berjemur di bawah terik matahari. Puas berolahraga, dia kembali ke ruangannya. “Kalau soal makan, dikirimi oleh keluarga. Ya setiap hari seperti ini kegiatannya. Bosan juga sebenarnya,” kata Supriono mengulang.

Saat Supriono sedang mengusir rasa bosan dengan menonton televisi, Kepala Dusun Bakalan, Desa Kebonagung Lilis Novitasanti (46) sibuk menuliskan laporan di Posko Covid-19. Dia mencatat hasil pemeriksaan kesehatan tiga orang yang sedang menjalani karantina itu.

“Setiap hari kita periksa suhu tubuh mereka menggunakan thermo gun. Hasilnya kita laporkan ke Puskesmas. Alhamdulillah, semuanya normal. Kesehatan keluarga Supriono bagus. Suhu tubuh mereka 36 derajat celsius,” kata Lilis yang hari itu kebagian piket di Posko.

Lilis menjelaskan, selama ruang karantina dibuka, keluarga Supriono adalah penghuni pertama. Mereka masuk ruang karantina pada Minggu (12/4/2020). Sejak itu, petugas piket melakukan pemantauan. Mulai pemeriksaan suhu tubuh, hingga menyemprot ruang karantina menggunakan cairan disinfektan tiap tiga hari sekali.

“Kami tidak mau kecolongan. Ada tiga titik jalan yang kita tutup total. Hanya ada satu akses jalan masuk desa. Selebihnya kita lockdown. Untuk penyemprotan tingkat desa, kita lakukan satu minggu sekali. Semua itu untuk memutus rantai penyebaran corona,” ujar Lilis.

Reporter/Foto: y. wibi mao
Sebelumnya Berikutnya