Saiman Gambus Misri Sudah Mendarah Daging


SUMOBITO – Gambus Misri adalah sebuah kesenian asli Jombang yang kini diambang punah. Sudah tidak ramai lagi pagelaran tersebut, seperti pada masa keemasannya usai kemerdekaan Indonesia. Salah satu pelaku kesenian yang mengadopsi gaya Timur Tengah ini yakni Saiman. Lelaki yang memasuki usia senja tersebut masih mempertahankan hingga kini. Kalau ada yang memintanya tampil, dengan senang hati akan menerima tanpa berpikir panjang soal bayaran.

Saiman Abdullah, nama panggung yang kerap ia gunakan sejak muda. Seolah sudah mendarah daging, tokoh organisasi masyarakat Nadlatul Ulama di Kecamatan Sumobito ini enggan meninggalkan kesenian tersebut. Meski sekarang ini Gambus Misri sudah tergerus ragam kesenian modern lainnya.

Baca Juga: Cita-Cita Luhur Kartini Pendekarnya Kaum Perempuan

“Mulai dari penceritaan hingga lantunan musiknya sangat menghibur. Itu yang membuat saya sangat mencintainya hingga kini. Walaupun sudah banyak yang meninggalkan, namun saya tetap menerima permintaan tampil berapa pun nilainya. Saya mengajak anggota keluarga atau tetangga sekitar untuk tampil bersama,” terang Saiman yang tinggal di Dusun Kedungsari, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito.

Saiman masih ingat, pada era 1960-an Gambus Misri ditampilkan dalam rentang waktu empat hingga enam jam. Tetapi kini tampilan itu menyesuaikan selera penonton, bahkan dipangkas hanya sampai dua jam. Meskipun begitu Saiman tetap tampil penuh, terutama mengambil peran utama.



Untuk menjaga kualitas pertunjukkannya, Saiman bersama kelompok Gambus Misri Bintang Sembilan binaannya rutin menggelar latihan dua kali dalam satu pekan. Namun adanya penyebaran Virus Covid-19/Corona memaksanya harus rela meniadakan latihan untuk sementara waktu.

Saiman mengakui, “Selain ingin terus melestarikan Gambus Misri, kesenian ini juga senada dengan niat saya untuk berdakwah. Lantaran kisahnya banyak menyampaikan kebaikan laiknya dalam ajaran Agama Islam.”

Oleh karenanya, ia sangat ingin generasi muda di Kota Seribu Pesantren melestarikan kesenian tersebut. Setidaknya tahu dan mampu melanggengkan dalam pelbagai bentuk, mulai dari penulisan, musik, atau wujud yang lain. Sehingga, kedepannya Gambus Misri tidak sampai punah. Gambus Misri tetap bisa diketahui generasi mendatang.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.