Judul : Diorama Mimpi

Ukuran : 14,5 x 21 cm

Tebal buku : vi + 120 halaman

Cetakan : Pertama, Februari 2020

ISBN : 978-623-90508-9-4

Penulis : Nur Lailatul Maghfiroh, dkk

Penerbit : Jombang Institute

JOMBANG – Membaca Diorama Mimpi seperti merasakan betul kebersamaan beberapa penulis yang ada di dalamnya. Baik itu pengalaman peristiwa yang dialami, lingkungan tumbuh, hingga imajinasi yang terbangun sebagai jendela utama membangun sekaligus mengembangkan cerita.

Pengalaman yang sama timbul karena bisa jadi merupakan teman sebaya. Sehingga pengalaman yang terhimpun dari serangkaian peristiwa yang dilakukan bersama itu memiliki keserupaan. Demikian dengan lingkungan tumbuh sangat mempengaruhi dari penceritaan yang digambarkan. Mulai dari latar yang digunakan tak jauh dari Kota Santri hingga kepada pilihan kata yang digunakan tak ubahnya dialek khas Jombang. Berangkat dari dua unsur itu boleh jadi kalau ditarik sebuah benang merah, struktur imajinasi yang tercipta bisa saling berkesinambungan. Hanya penggambarannya yang berbeda-beda.

Secara umum penceritaan cukup menarik dan tidak menemui kesulitan berarti. Penyampaian terbilang lugas dan ringan dengan alur penceritaan yang sepenuhnya juga sudah dipahami oleh pembaca. Dampak positifnya, pembaca telah memiliki bekal sebelumnya. Sehingga sewaktu membaca rangkaian cerita dapat tersambung dengan gemilang. Baik di dalam satu karya cerita pendek atau antar cerita pendek yang terdapat dalam satu buku.

Baca Juga: TK Dharma Wanita Plumbon Gambang Rujukan TK Inklusi

Memang sebagian besar amanat yang dapat dikulik adalah perihak kebaikan. Mulai dari proses merefleksikan diri untuk selalu melihat ke dalam diri sendiri sebelum menengok individu lainnya. Begitu juga dalam bertutur maupun bertindak, harus dipikirkan secara masak agar terhindar dari beragam hal yang berdampak buruk. Seperti yang tergambar dalam judul Pantulan Cermin, belajar dari fungsi cermin yang mampu mewakili kehidupan manusia.

Demikian dengan Pendakian Gunung Arjuno, menjadikan aktivitas mendaki gunung sebagai muatan berarti sehingga menjadi amanat yang mendalam serta bermanfaat bagi pembaca. Mulai cara berinteraksi dengan semua mahluk hidup, cara yang elok dan tepat, sekaligus mengurai kepedulian kepada sesama.

Seperti diketahui dalam proses pendakian sangat dekat dengan alam. Selain penting sekali membaca perubahan alam, tentunya juga patut menanamkan kecintaan. Sehingga dalam berprilaku saat mendaki, tak sampai merusak alam. Begitupun sewaktu menjumpai pendaki yang sedang mengalami kesulitan, bagaimana empati itu tumbuh dan lekas menolong. Meski secara pribadi tak saling mengenal. Hal itu pula yang patut diteladani oleh pembaca bahwa ketika hendak menolong tidak harus mesti mengenal terlebih dulu.

Lengkap dengan gaya bahasa yang ditata sedemikian rupa sehingga ada kesan rasa kesusatraan walaupun dibawakan secara lugas. Akhirnya pembaca masih menemukan kesejukan ketika membaca tiap kata, kalimat, paragraf, hingga satu judul. Selain itu juga tidak rumit, sehingga langsung dapat ditangkap maksud yang hendak disampaikan.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya