MOJOAGUNG – Cinta datang dari mana saja, bahkan ketakterdugaan sekalipun. Laiknya Zaenal Faudin, kolektor tape yang saat duduk di SD sempat merasa suntuk. Memilih mendengarkan musik klasik untuk memecah kebosanannya itu, akhirnya jatuh hati dengan barang yang kini jarang dijumpai.

Ditemui sepulang kerja, lelaki yang kerap disapa Om Jay oleh temannya ini menceritakan kalau dulu harga tape terbilang mahal. Apalagi ia masih sekolah sehingga tidak memiliki penghasilan tetap. Satu-satunya yang menjadi andalan adalah menyisihkan uang jajan. Akhirnya Om Jay mencari tape bekas di pasar loak Mojoangung. “Saya membeli tape pertama saat duduk di bangku SMA, yakni sekitar tahun 2005,” jelas Zaenal Faudin.

Baginya membeli barang zaman dulu (Jadul) tidaklah boleh sembarangan. Harus diperiksa dengan baik dan teliti. Juga harus dipastikan bahwasannya masih dapat digunakan dengan baik. Yang tidak kalah penting adalah memastikan keasliannya, sebab tape lama selalu disertai dengan nomer seri. Oleh karenanya, ia selalu mencari referensi terlebih dulu ketika akan memburu tape bekas.

Baca Juga: TK ABA Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno Koperasi Sekolah Jadi Program Inovasi

Bagaimana perawatannya? Menurut Zaenal Faudin, perawatannya tak terlalu sulit. Cukup dibersihkan dengan pembersih terlinga ataupun tisu. Hanya saja kalau sampai karet pemutar atau motornya rusak, agak sulit memperbaikinya. Selain onderdil tersebut tidak dijumpai di pasaran, alternatifnya adalah mengkanibal dari tape lain. Itu pun sukar didapat dan harus mencocokan juga.

Zaenal Faudin mengungkapkan, “Sekarang pun tukang memperbaiki tape sangat jarang. Kalaupun ada belum tentu mampu memperbaiki. Andaikan bisa, harga yang dipatok sangat menguras kantong.”

Untuk itu ia berusaha dengan serius menjaganya. Mulai menjaga suhu udara tempat penyimpanan hingga rutin membersihkan. Selain itu terpenting adalah menghindari kelembaban. Karena kondisi tersebut dapat merusak komponen di dalam tape, terang pegiat kesenian di kelompok Alief Mojoagung ini.

Sekarang ini Zaenal Faudin memiliki koleksi sekitar duabelas buah tape. Paling tua produksi tahun 1967 merk Sony, yang ia beli dengan harga Rp 50.000. Sedangkan terbaru buatan LG tahun 2003 berharga Rp 125.000. Ada keasyikan tersendiri ketika berburu barang jadul tersebut. Makanya, Zaenal Faudin tidak hanya berburu tape di pasar loak yang ada di telatah Kebo Kicak, namun juga beberapa daerah di Jawa Timur. “Kerap juga berselancar di lapak online melalui media sosial,” pungkas lulusan SMK Jurusan Teknik ini.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.
Sebelumnya Berikutnya