Nama tokoh atau pahlawan nasional yang diabadikan sebagai nama jalan sering kita jumpai di sejumlah kota di Indonesia. Cara ini merupakan sebagai bentuk penghargaan karena sudah berjasa untuk memerdekakan dan mengharumkan negeri ini.

Misalnya di Jakarta, terdapat Jalan Sudirman sebagai penghormatan bagi jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa perang revolusi tersebut. Namun, Jalan Sudirman tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga ada di kota-kota lain seperti Palembang dan Bandung.

Penggunaan nama jalan sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan Indonesia tidak hanya terjadi di dalam negeri. Di sejumlah negara, mulai dari Asia hingga Eropa juga menempatkan nama pahlawan Indonesia sebagai nama jalan.

Baca Juga: Aktris Terbaik Pekan Cipta Seni Jawa Timur 2019 Berkat Kedisiplinan Saat Latihan

Tidak usah heran, karena hal ini ada sangkut pautnya dengan sejarah dan hubungan diplomatis Indonesia dengan sejumlah negara tersebut. Alasannya pun tidak jauh berbeda, pemberian nama jalan dimaksudkan untuk mengapresiasi dan bentuk penghormatan dari mereka untuk tokoh nasional kita.

Jalan Sukarno di Rabat, Maroko
Hubungan Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Sukarno, sangatlah baik dengan negara-negara Asia dan Afrika yang pernah terbelenggu oleh imperialisme barat. Salah satu negara yang memiliki kedekatan dengan Sukarno ialah Maroko.


Negara asal Afrika Utara itu merupakan negara jajahan Perancis dan baru merdeka pada 1956. Setahun sebelum menggapai kemerdekaan, Maroko diundang dalam Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung, Jawa Barat. Dari sinilah hubungan kedua negara tercipta. Setelah merdeka, ibu kota Maroko, Rabat, dikunjungi Sukarno pada 2 Mei 1960. Ia disambut oleh Raja Muhammad V, para menteri dan pembesar Maroko disertai militer dan korps diplomatik.

Pada kunjungannya tersebut secara langsung Sukarno meresmikan nama jalan yang memakai namanya. Semula jalan ini bernama Sharia Al-Rais Ahmed Soekarno, tetapi sekarang dikenal dengan Rue Soekarno atau Avenue Soekarno. Lokasi jalan yang berada tepat di depan kantor pos pusat Maroko ini berada di tengah pusat kota Rabat. Bila kita membuka Google Map, lokasi ini ditandai sebagai destinasi foto wisatawan Indonesia.

Selain mengabadikan nama Sukarno sebagai nama jalan, Maroko juga menggunakan Jakarta sebagai nama jalan. Sebagai gantinya pada pertengahan tahun 1990, nama Casablanca, sebuah kota pesisir di Maroko dipakai sebagai nama jalan di sebuah wilayah di Jakarta Selatan.

Jalan Mohammad Hatta di Haarlem, Belanda
Mantan Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta tercatat pernah melanjutkan pendidikannya di Belanda. Sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang pernah menimba ilmu di Negeri Kincir Angin tersebut, pemerintah Belanda mengabadikan nama Mohammad Hatta sebagai nama jalan.

Nama Mohammad Hatta diabadikan sebagai nama jalan di Haarlem, Belanda. Nama jalan yang dikenal dengan sebutan Mohammed Hattastraat berada di kawasan perumahan Zuiderpolder yang dibangun pada tahun 1987.

Mengutip dari Seri Buku TEMPO, menurut pejabat bagian pengembangan dan pembaruan kota Haarlem, R.H. Claudius menjelaskan nama Mohammad Hatta ditetapkan oleh Wali Kota Smiths kala itu. Saat nama ini ditetapkan, tak ada sanggah menyanggah atau adu argumen yang terjadi.

Sama seperti tokoh-tokoh lain yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Belanda, Hatta dipilih karena kontribusinya dalam berjuang memerdekakan bangsanya. R.H. Claudius mengatakan Mohammad Hatta adalah orang yang berjasa, berjuang demi pembebasan atau kemerdekaan negaranya, serta memiliki reputasi yang baik.


Mohammad Hatta muda bersekolah di Handels Hogeschool, yang sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam. Pria kelahiran Bukit Tinggi itu menuntut ilmu di Belanda selama 11 tahun, yakni mulai dari tahun 1921 hingga 1932.

Jalan Mohammad Hatta diresmikan pada 17 Februari 1987. Di sekitar Jalan Muhammad Hatta, ada juga nama tokoh bangsa Indonesia, Sutan Sjahrir. Di tengah Jalan Hatta, terdapat nama jalan yang diambil dari Proklamator Republik Maluku Selatan, Chris Sumokil.

Jalan Kartini di Amsterdam, Belanda
Dari Haarlem, mari kita ke Amsterdam. Di ibu kota Belanda itu berbagai nama jalan berbau Indonesia bisa kita jumpai. Terdapat banyak jalan dengan nama-nama kota dan pulau di Indonesia misalnya Jalan Jawa, Jalan Soembawa, Jalan Celebes, dan sebagainya. Tentu nama tokoh asal Indonesia juga ada di kota ini, salah satunya ialah Raden Ajeng Kartini.


Nama tokoh perjuangan wanita asal Jepara, Jawa Tengah, itu menjadi nama jalan di Amsterdam Zuidoost atau yang dikenal dengan sebutan Bijlmer. Pemerintah setempat menyematkan nama jalan ini dengan nama Raden Adjeng Kartinistraat.

Selain menggunakan nama RA Kartini, sejumlah wanita dari belahan negara lain yang mempunyai kontribusi dalam perjuangan wanita juga berada di kawasan tersebut. Salah satu contohnya ialah ekonom yang juga seorang revolusionis sosialis kelahiran Polandia yang kemudian menjadi warga negara Jerman, Rosa Luxemburg.

Jalan Munir di Den Haag, Belanda
Masih di Belanda, tetapi kini tepatnya di kota pemerintahan, Den Haag. Di kota ini nama tokoh Indonesia yang bisa ditemui ialah Munir Said Thalib Al-Kathiri.

Nama Munir dijadikan nama jalan pada 2015 setelah empat tahun sebelumnya diajukan ke pemerintah kota Den Haag. Sayangnya pada saat itu pemerintah kota belum merestui karena tidak ada kompleks perumahan baru di Den Haag sehingga sulit membuat jalan baru.

Munir sendiri merupakan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) asal Indonesia yang lantang menyuarakan perjuangannya pada pemerintah. Ia meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan Amsterdam pada 7 September 2004.


Demi mengenang jasanya, Amnesty Internasional Belanda berusaha keras menjadikan nama Munir sebagai nama jalan di Belanda. Beruntung, pemerintah Den Haag memiliki kebijakan baru berupa pembangunan jalan setapak dan sepeda. Agar mudah mengidentifikasinya, jalan setapak itu pun harus diberikan nama. Jadilah nama Munirpad diberikan pada jalan setapak di lingkungan Martin Luther King-Laan, dekat Salvador Allende Straat dalam kompleks perumahan Den Haag.

Jalan setapak ini diresmikan pada 14 April 2015 dan dihadiri Wali Kota Den Haag, Joziaas van Aartsen, istri munir Suciawati Munir, Direktur Amnesty Internasional Belanda Eduard Nazarski, mantan Tim Pencari Fakta kasus Munir Hendardi serta Rachland Nasidik. Sahabat Munir, mahasiswa dan warga Indonesia yang menetap di Den Haag juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Jalan Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan
Cape Town, Afrika Selatan terkenal sebagai kota perjuangan bagi Nelson Mandela. Tokoh antiapartheid itu pernah dipenjara di Pulau Robben, beberapa kilometer di seberang lepas pantai Cape Town. Selepas dari penjara, pertama kalinya Nelson Mandela berpidato di Cape Town.


Selain Nelson Mandela, pahlawan lain yang diingat penduduk Cape Town adalah ulama asal Indonesia Syekh Yusuf. Bagi warga Cape Town, Syekh Yusuf dikenal sebagai sosok yang membangun komunitas Muslim di negara itu. Dia tidak hanya diakui sebagai ulama, tetapi juga pejuang bagi rakyat Afrika Selatan karena menentang penindasan dan perbedaan warna kulit.

Syekh Yusuf mendapat gelar sebagai pahlawan nasional pada 2005 oleh pemerintah Afrika Selatan. Daerah tempat tinggal Syekh Yusuf di Cape Town diberi nama sebagai kawasan Macassar untuk menghormati tempat asalnya. Ada Jalan Macassar dan Sheikh Yusuf Road Jalan Syekh Yusuf di Cape Town untuk mengenang tempat kelahiran dan nama Syekh Yusuf.
Sebelumnya Berikutnya