JOMBANG - Merdeka Belajar (MB) sebuah konsep pembelajaran baru yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makarim dalam menyongsong masa depan Indonesia lebih gemilang. Pada prinsipnya MB mengajak seluruh aspek yang terkait dengan pendidikan untuk bebas dalam berpikir sehingga akan menjumpai kebahagian. Baik ketika melakoni maupun tatkala mempungkasi.

Walupun tidak tergolong baru, di tengah cemarut keadaan pendidikan bangsa sekarang ini yang dihantam wabah Korona seolah menjadi angin segar. Ki Hajar Dewantara pun pada tahun 1922 ketika mencetuskan Taman Siswa menyebutkan salah satunya azasnya ialah kemerdekaan dalam berpikir.

Ketika menggelar pembelajaran, semua harus terbebas tanpa adanya beban yang membelenggu. Menjadikan pendidikan sebuah wadah yang nyaman dalam menimba keilmuan hingga pada mengaktualisasikan. Oleh karenanya, konsep MB sudah lahir sebelum pembelajaran di mulai. Baik itu suasana di sekolah, strategi yang hendak digunakan, proses pembelajaran, hingga di akhir saat penilaian harus berbahagia dengan diberikan kebebasan dalam menjalankannya.

Hal ini pun diamini oleh Guru Besar Universitas Negeri Malang (Unisma), Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M.Pd. bahwa sudah seharusnya di sebuah laju pendidikan diberikan kebebasan dalam berpikir. Jangan membiasakan peserta didik mengikuti jejak cara berpikir orang dewasa maupun guru begitu saja. Biarkan peserta didik menentukan cara berpikir yang tepat menurutnya sendiri. Begitupun sewaktu memahami pembelajaran yang sedang diikuti.

Baca Juga: TK Al-Husaini Jujur Membuahkan Keuntungan


“Secara tidak langsung MB mengajak untuk mengenali potensi Sumber Daya Manusia (SDM) peserta didik. Hal ini akan berimbas pada kemajuan suatu negara kedepannya,” ungkan Zainuddin ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

MB sudah sesuai dengan substansi guna memberikan kebebasan dalam menginterpretasikan kompetensi dasar dalam kurikulum, tambah Zainuddin. Sekaligus memberikan penilaian sendiri sesuai dengan cakupan pembelajaran yang telah berlangsung. Langkah ini patut mendapatkan apresiasi karena mengupayakan mengurangi permasalahan yang ditimbulkan akibat model pembelajaran sebelumnya.

Lelaki yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Blitar ini menegaskan meski adanya kebebasan dalam berpikir, tetap dalam jangkauan koridor ketercapaian yang telah ditentukan. Sebab dalam setiap pembelajaran pasti ada yang hendak di raih, jangan sampai dasar itu terlupakan sehingga membuat pembelajaran langkahnya tidak terarah sebagai akibat pemaknaan yang keliru tentang MB.

Pengamat Pendidikan Jombang, Yusron Aminullah juga sependapat, baginya MB akan membuka ruang interaksi antara guru dan peserta didik semakin terbuka. Kondisi itu semakin mendukung pembelajaran lebih interaktif sekaligus komunikatif. Terlebih lagi peserta didik sudah membekali diri sebelumnya dengan pelbagai referensi penunjang sebagai sumber alternatif pemerolehan informasi mengenai tajuk pembelajaran tersebut.

Oleh karenanya, masing-masing civitas yang terkait harus memahami sepenuhnya peranannya agar tak sampai melampaui dari inti MB. Sudahi dulu penguatan karakter dasar terhadap peran yang di ampu mulai dari hulu hingga hilir. Dengan begitu maka tidak sampai terjadi pengulangi konsep pembelajaran yang diwariskan oleh pendahulu yakni sekadar menggurui.

Yusron Aminullah mengatakan, “Sebenarnya memposisikan diri dalam MB adalah setara. Selaiknya dengan teman, sehingga interaksi yang terjalin lebih hidup. Pembelajaran tak searah, sebaliknya peserta didik bisa memulai terlebih dahulu dengan menyampaikan pandangannya terkait kompetensi dasar yang di bahas. Baru kemudian guru memberikan arahan, simpulan tak usai di rangkai. Biarkan setiap peserta didik mengakumulasikan sendiri hasil pembelajarannya itu. Walaupun berbeda intinya tetap serupa.”

Ketika kebebasan dan kesadaran terhadap kapasitasnya masing-masing, berikutnya ialah menciptakan kebahagiaan yang paripurna. Artinya tidak sebatas bahagia dengan melemparkan sebaris senyuman, namun bahagia yang sesungguhnya. Meresap hingga ke pori dan palung terdalam jiwa setiap komponen pembelajaran di sekolah.

Dosen Luar Biasa Universitas Ciputra Surabaya, FX. Wigbertus L. Halan menyampaikan kebahagiaan dalam pembelajaran terlebih dahulu tersusun dalam pikiran. Hal itu dapat tercipta dari lingkungan yang ada. Atmosfer yang terbangun di sekolah jangan melulu birokratis, sebab pada sarinya manusia adalah makhluk yang multidimensional. Dengan kata lain, dinamisasi yang ada di sekolah harus terbentuk. Membuat setiap makhluk yang di sana nyaman dan benar-benar seakan merasa terlindungi.

Terlindungi bukan didefinisikan terhindar dari kekerasan fisik dan non-fisik. Melainkan meneduhkan sehingga tak terbentuk sebuah beban yang pada akhirnya ke sekolah seakan menelusuri sebuah tempat yang menyeramkan.

Sendirinya bakal terstimulasi pikiran yang terbebas dari segala bentuk rasa yang memenjarakan. Itupun di akui oleh Dosen Teknologi Pendidikan Unisma, Arafah Husna, S.Pd., M.Med.Kom kalau ingin membahagiakan orang lain peserta didik terlebih dahulu harus bahagia juga. Dicontohkan di negara yang terbilang baik kualitas pendidikannya seperti Finlandia guru tak terbebani dengan sejumlah tugas tambahan di luar pembelajaran. Laiknya disebutkan dalam buku Tech Like Finland karya Timothy Walker sebelum memasuki kelas, guru tidak direpotkan dengan serangkaian tugas lain seperti laporan administratif hingga materi ajar yang hendak disampaikan kepada peserta didik karena belum siap.

Perempuan yang mengampu Matakuliah Kemampuan Dasar Pengajar ini mengatakan, “Para guru sewajarnya melakukan hal-hal yang menyenangkan baginya. tetapi tanpa melampaui batas etika dalam aktivitas pendidikan. Bisa bersantai menikmati kopi, membaca buku, berdiskusi santai dengan rekan kerja. Sewaktu masuk ke ruang kelas dengan situasi yang sangat bergairah untuk mengajar.”

Tidak hanya berlaku untuk guru tetapi seluruhnya sehingga kepala sekolah mesti jeli melihat keunggulan dan kekurangan yang ada di lembaga yang dipimpinnya tersebut. Dengan kata lain inventarisasi kelebihan serta keterbatasannya itu akan menjadi fondasi membuat suasana di sekolah berbeda. Tak terasa bahwa sesungguhnya sedang menempuh pembelajaran, kontaminasi pemikiran lain baik dari internal dan eksternal diri pelaku tidak terjadi. Seolah-olah dimurnikan kembali pemikirannya agar saat memasuki tahap pembelajaran bisa terpahami dengan maksimal

Tentunya juga merubah orientasi pembelajaran tidak semata-mata mengejar nilai yang baik. Walhasil ekplorasi dalam skala besar bisa muncul dari pelbagai sisi. Dituturkan oleh FX. Wigbertus L. Halan ketika tidak ada tuntutan yang besar dalam pencapaian hasil akhirnya, eksplorasi di masing-masing pelaku pendidikan di sekolah berjalan dengan optimal.

FX. Wigbertus L. Halan menyampaikan, “Eksplorasi tersebut tidak bisa dilepaskan juga dari kondisi sekolah itu sendiri. Bahkan jangan jauh dari lingkungan di sana dan sosialnya. Aspek kedekatan itu akan menjadi kunci, walhasil mampu terbahami dengan mudah.

Batasan Merdeka Belajar

Konsepsi batasan dalam MB pun harus tegas. Jangan setengah-setengah bahkan tak tampak sama sekali. Akhirnya menjadi liar dalam mendefinisikan makna merdeka hanya secara leksikal saja. Untuk itu Kemendikbud RI wajib mempersiapkan dulu hingga tuntas dalam penerapannya.

Laiknya yang terjadi dalam memaknai demokrasi seperti yang terjadi saat ini. Bebas hanya sebatas di pahami leluasa dalam melakukan sesuatu yang dikehendakinya. Tanpa mempertimbangkan pelbagai norma yang berlaku di masyarakat maupun aturan baku dalam Undang-undang.

Dikatakan oleh Yusron Aminullah batasan ini sangat penting dalam upaya merajut tujuan yang dicita-citakan di setiap pembelajaran. Kalau sampai diserahkan begitu saja kepada sekolah akan tidak terkendali. Akibatnya capaian yang diraih pun beragam, ada yang sukses selaiknya diterangkan dalam kompetensi dasar pembelajaran. Bisa juga sebaliknya lantaran merdeka sekadar diartikan bebas begitu saja target pembelajaran memuai.

“Kemendikbud RI bisa membuat aturan min yang jelas dan tegas. Tidak perlu sepenuhnya, cukup 80% saja dan sisanya 20% disesuaikan oleh tiap sekolah mengingat kompleksitas keadaan,” usul penggagas pariwisata edukasi di Kecamatan Wonosalam ini.

Sementara itu Pengurus Komunitas Guru Belajar (KGB) Semarang, Elvrida Rosalia Indraswari sepakat dengan wacana yang disampaikan Yusron Aminullah. Sewaktu di hubungi terpisah, Elvrida Rosalia Indraswari menuturkan kerangka pelaksanaannya harus jelas. Jangan sampai terjadi pembelokan bahkan menjauh dari tujuan pembelajaran. Dibutuhkan adanya tiga dimensi dalam menata jalur yang bakal digunakan mengimplementasikan MB, diantaranya satu komitmen pada tujuan, kemandirian penerapannya, dan refleksi.

“Tujuan disesuaikan dengan kebutuhan, jaring minat serta aspirasi, bukan sebatas didekte. Mendiri dalam menerapkannya pada muaranya akan menentukan prioritas, cara yang di ambil hingga memainkan ritma belajarnya. Termasuk langkah adaptasi dengan cara baru supaya pembelajaran efektif. Sedangkan refleksi menggugah kembali kesadaran pelaksanaan pembelajaran untuk menemukan kekurangan guna diperbaiki,” terang Elvrida Rosalia Indraswari.

Batasan yang ada akan mendorong adanya perubahan komposisi di setiap elemen. Baik kepala sekolah, guru, peserta didik, dan stakeholder sebab harus menyesuaikan pada arah pembelajaran. Bahkan sangat dimungkinkan terjadi kolaborasi antar elemen tersebut. Bukan melanjutkan pembelajaran saja, melainkan bisa saling menguatkan untuk menggapai target yang sudah dikomunikasikan di awal.

Reporter/Foto: Aditya Eko P., Chicilia Risca Y./Rahmat Sularso Nh.
Sebelumnya Berikutnya