Rahmat Sularso Nh*

Mari sambut Merdeka Belajar dengan gembira!

Perubahan pasti terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. Hal itu tak lepas dari adanya perubahan zaman yang menuntut adanya kualitas lebih dari hasil proses pendidikan. Demikian pun ketika melihat mekanisme pendidikan yang berjalan selama ini, tak bisa dipungkiri bahwa memberikan sebuah tekanan lebih kepada civitasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI di akhir 2019 mengatakan bahwa akan diterapkannya konsep pendidikan yang dikenal dengan istilah Merdeka Belajar (MB). Disini baik itu setiap komponen pendidikan harus berbahagia, bukan semata bahagia karena mendapatkan hasil yang cemerlang. Namun dari awal, proses, hingga di akhir pembelajaran harus berbahagia.

Sementara diketahui dalam setiap persiapan yang dilalui penuh dengan segala macam perihal yang menghantui, tak ayal menjadi tekanan tersendiri. Demikian ketika proses pelaksanaan pembelajaran, guru dan peserta didik sebagai instrumen utamanya tidak berada titik yang membahagiakan. Jelas akan menjadi sebuah proses yang tidak sehat, sehingga dalam mode trasnformasi keilmuan terdapat hambatan. Kalaupun hasil yang di tuai bagus di atas standar rata-rata, sekedar sekilas saja. Tidak sampai menimbulkan kepuasan yang hakiki lantaran dari segi mencapainya dibebani dengan segala problematikanya.

Diungkapkan oleh Ed Diener seorang Profesor Psikologi di University of Utah dan peneliti senior di Organisasi Gallup mengatakan kebahagiaan merupakan evaluasi seseorang terhadap hidupnya, mencakup kognitif dan afektif. Evaluasi kognitif sebagai komponen kebahagiaan yang diarahkan pada kepuasan individu dalam pelbagai aspek kehidupan. Sedangkan evaluasi afektif evaluasi mengenai seberapa sering seseorang mengalami emosi positif dan negatif.

Jika ditarik benang merahnya jelas kebahagiaan itu sendiri sebenarnya terlahir dalam diri seseorang itu sendiri. Kalau direpresentasikan dalam pendidikan tentu kebahagiaan itu harus dirasakan oleh semua komponen yang terlibat mulai dari kepala sekolah, guru, peserta didik, orangtua, dan stakeholder lainnya.

Baca Juga: TK Al-Husaini Jujur Membuahkan Keuntungan

Konsep dasar dari MB adalah kebebasan dalam berpikir. Andaikan seperti yang biasa terjadi dengan dipatok pada angka-angka dalam penilaian saja, jelas hal itu akan menimbulkan dekotomi. Lebih jauh akan terjadi tekanan sangat besar ketika tidak mencapai pada nilai standar yang dikatakan baik atau memuaskan.

MB bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pembelajaran. Penganut ideologi humanistik dalam pembelajaran telah mendiskusikan secara mendalam lebih dari setengah abad yang lalu. Pada tahun 1969 Carl Rogers mempublikasikan sebuah buku berjudul Freedom to Learn. Pada pengantar buku tersebut, Lima puluh tahun lalu, ia mengatakan, “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis dan resisten terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini adalah melalui kemerdekaan belajar”.

Positifnya dalam MB kali tidaklah serumit perubahan yang terjadi sebelumnya. Secara hakikatnya guru telah memiliki besik itu tinggal mengolah secara strategis cara berpikir dan mengaktualisasikan dalam pembelajaran. Sementara peserta didik dengan sendirinya akan mengikuti sesuai dengan konsepsi dan arahan yang diberikan oleh guru.

Bagaimana pun guru tetap menjadi juru kunci daripada keberhasilan MB ini, apalagi setiap peserta didik dilahirkan memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Saat kondisi itulah guru mesti menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadarannya sendiri dan merdeka terhadap pilihannya.

Memang butuh waktu yang cukup serta kesabaran lebih dalam memfasilitasi. Hal itu tak lepas dari cara peserta didik sendiri dalam mengenali potensinya. Di tengah peserta didik mengidentifikasi potensinya sebagai upaya yang pas cara pembelajaran yang di pilih, guru juga perlu memiliki kemampuan mendengar dengan baik. Akhirnya akan bermuara pada formulasi pembelajaran yang tepat, sudah bukan eranya guru sekedar sebagai konjungtor atau fasilitator. Bahkan mendekte seperti dahulu yang terjadi di pendidikan bangsa ini.

Strategi pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan diarahkan untuk meneladani segala dinamika yang terjadi. Mulai dari pandangan hingga pertanyaan yang terlontar dari peserta didik. Dengan demikian MB mampu mengasah keterampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, hingga menyusun hipotesis. Begitupun saat pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran, MB menekankan pada cara penyusunan makna secara aktif. Melibatkan keterampilan mengintervensi dengan menggunakan masalah dalam konteks sebenarnya. Dengan kata lain, tahap evaluasi menggali kemunculan berpikir divergen, pemecahan masalah secara ganda, dan tidak menuntut jawaban yang benar. Terjadilah penilaian secara utuh dari proses pembelajaran yang bermakna.

Proses adaptasi ini tidak akan sulit selagi semua memiliki pandangan dan komitmen serupa. Tidak semata proses pembelajarannya yang menggembirakan, suasana yang tercipta serta tindaklanjut pembelajaran ketika di rumah terhubung dengan pun harus baik. Artinya, pembelajaran yang terjadi sangat terintegrasi satu dengan lainnya serta membahagiakan di tiap fasenya.

Peserta didik datang ke sekolah sudah dengan perasaan yang gembira. Suasana yang mendukung dan lingkungan terbangun dengan baik. Membuat menjadi habitat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. Tidak lagi sebagai momok yang menakutkan seperti kebanyakan terjadi, ke sekolah seakan menjumpai sesuatu yang mengkhawatirkan. Sebaliknya juga dengan kepala sekolah, guru, orangtua pun mempunyai perasaan yang sama terhadap sekolah.

Semoga MB menjadi jawaban atas keresahan selama ini.

*) Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pendidikan
Sebelumnya Berikutnya