JOMBANG - Berawal dari ketidaksengajaan, Mislan Fauzi akhirnya jatuh hati dengan keindahan alam, juga mendaki gunung. Padahal saat awal mendaki hunung, tak ada persiapan berarti selain perbekalan yang diperlukan. Itupun sebagian besar meminjam. Saat itu dia diajak oleh sahabatnya.

“Kalau tidak salah sekitar tahun 2012 saya memulainya. Dari ajakan itu tidak mempersiapkan kondisi fisik. Apalagi bagi saya yang masih pemula,” ungkap lelaki kelahiran Lamongan ini.

Sepulang pendakian pertama itu, rasa lelah menghajar seluruh tubuhnya. Namun demikian, hal itu tidak membuatnya surut untuk menjajal kembali. Seakan ada kerinduan yang disampaikan oleh gunung. Lebih-lebih kalau sudah di puncak, selain merasakan kemenangan yang diraih, hamparan pemandangan indah bisa mengobati semua keletihan.

Selain pendakian pun ada pelajaran hidup yang tersirat untuk menjadi manusia seutuhnya. Saling mengerti, menolong, dan menjaga kelestarian alam. Walaupun belum kenal pun, karena menempuh perjalanan yang sama, akhirnya timbul kepedulian. Andaikan ada kesulitan, tidak ragu mengulurkan tangan guna membantu.

Baca Juga: Tak Ada yang Sukar dalam Meneliti

Mislan Fauzi berkelakar, “Tahun 2018 pernah mendaki ke Gunung Argopuro, Probolinggo dan turun di wilayah Situbondo. Pendakian tersebut membutuhkan waktu empat hari. Selama perjalanan, banyak bertemu kawanan binatang buas khas hutan. Saya dan keempat teman takut kalau dimangsa.”



Hampir semua gunung di Jawa Timur sudah pernah didaki oleh Mislan Fauzi. Bahkan mendaki Gunung Semeru sampai delapan kali. Selain keinginan sendiri, juga kerap diminta jadi pemandu. Paling jauh ke Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Oleh sebab itu dia berpesan selain persiapan fisik, perbekalan yang dibawa harus memadai. “Mental pun harus terbangun, jangan biasakan berpikir negatif. Menyatu dengan alam, maka alam akan membantu,” pungkasnya berfalsafah.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya