Achmad Fathoni, S.Pd.SD *)

Rencana kembali masuk sekolah pada pertegahan Juli nanti, sebagai bagian dari skenario New Normal Life banyak menuai kritik. Pasalnya hingga saat ini wabah belum mereda. Grafik kasus Korona kian meningkat, pada Senin (2/6/2020) menjadi 27.549 kasus. Di antaranya termasuk korban anak-anak. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia cukup tinggi, bahkan tertinggi di ASEAN. Di Surabaya saja terdapat 127 kasus anak-anak terinfeksi Covid-19 dengan rentang usia 0-14 tahun. (sumber: www.kumparan.com 1/6/2020).

Memang, sebagian besar peserta didik sudah jenuh belajar di rumah. Mengeluhkan susahnya sinyal, tak mampu membeli kuota internet, susah memahami pelajaran menjadi masalah dalam pembelajaran daring. Demikian juga para guru, juga sudah mengalami jenuh dengan kebijakan home learning (pembelajaran dari rumah). Karena, bagaimanapun pembelajaran jarak jauh antara guru dan peserta didik jauh lebih berat secara psikis maupun teknis. Namun, memaksakan kembali belajar di sekolah dalam kondisi wabah belum reda juga menjadi ancaman keselamatan anak-anak dan tenaga pendidikan dari intaian Korona yang sangat mematikan tersebut.

Keselamatan Jiwa Harus Diutamakan

Secara faktual dampak yang ditimbulkan dengan adanya pandemik Covid-19 ini menyasar ke segala bidang kehidupan baik kesehatan, ekonomi, dan yang pasti dampak dalam dunia pendidikan juga cukup signifikan. Namun demikian, negara merupakan institusi terbesar yang bertanggungjawab atas segala urusan rakyatnya. Sebagaimana dalam hadist Nabi Muhammad SAW, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah SWT dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR. Nasa’i dan Tirmidzi). Artinya para pemimpin sebagai pemegang kebijakan itu harus bertanggung jawab untuk mencegah bahaya yang akan menimpa rakyatnya.Oleh karenanya, prioritas urusan rakyat saat pandemi Covid-19 adalah penjagaan jiwa harus didahulukan daripada kepentingan yang lain termasuk kepentingan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya.

Dalam sejarah Islam, wabah penyakit terjadi pada masa Rasulullah SAW berupa penyakit kusta yang menular dan mematikan dan belum diketahui obatnya. Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat bahkan mengisolasi penderita agar tidak menyebar. Bahkan dibuatkan tembok di sekitar daerah wabah tersebut. Demikian pula di masa Khalifah Umar bin Khattab r.a, beliau melakukan upaya maksimal untuk menghadapi wabah tha’un yang menyerang wilayah Syam.

Agar pembelajaran berlangsung optimal, semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan sebaiknya menggunakan pendekatan dan teknik pembelajaran yang variatif.

Fakta sejarah yang lain, telah menunjukkan kepada semua umat manusia, bahwa pandemi terparah dalam sejarah adalah Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918. Flu ini berlangsung selama dua tahun dalam tiga gelombang serangan. Tercacat 500 juta orang terinfeksi dan 50-100 juta kematian. Namun, sebagian besar kematian terjadi di gelombang kedua. Ketika masyarakat sudah sangat merasa tidak nyaman dengan karantina dan jarak sosial. Ketika mereka diperbolehkan lagi hidup normal, masyarakat berbondong-bondong merayakan dengan suka cita di jalan-jalan. Beberapa pekan kemudian, serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan juta kematian (Sumber: Data Wikiped).

Kebijakan yang Bijaksana

Memperhatikan perkembangan penyebaran pandemi Covid-19 yang belum mengalami penurunan bahkan cenderung meningkat, maka para pemegang kebijakan bidang pendidikan di negeri ini hendaknya memperhatikan beberapa hal penting berikut.

Baca Juga: Tahun Pelajaran 2019/2020 PKn Integrasikan Pendidikan Antikorupsi

Pertama, hendaknya menunda hari masuk sekolah. Patut untuk di apresiasi Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahwa tahun ajaran baru tetap 13 Juli 2020, tetapi peserta didik tetap belajar di rumah sampai akhir tahun. Sebagaimana telah dilansir di laman www.belajardirumah.org (Sabtu, 2/5/2020) menyatakan sebagai antisipasi andai wabah virus Korona (Covid-19) masih belum berakhir di Indonesia hingga akhir tahun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah menyiapkan skenario belajar dari rumah hingga akhir tahun 2020.

Hal senada juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Jombang Jombang dalam waktu dekat masih belum akan menerapkan new normal atau tatanan kehidupan normal baru di tengah pandemik Covid-19 ini. Sebagaimana telah dilansir di laman www.jatimtimes.com (pada Sabtu, 6/6/2020) bahwa new normal belum bisa diterapkan lantaran kasus Covid-19 di kota santri ini belum menunjukkan tren penurunan.

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Jombang, Mundjidah Wahab. Menurutnya, tatanan kehidupan normal baru atau new normal bisa dilakukan ketika angka kasus positif di Jombang terdapat penurunan 50 persen. Sebagaimana diketahui, dalam beberapa hari terakhir kasus pasien positif Covid-19 tidak beranjak turun malah semakin meningkat setiap harinya.

Kedua, tetap menerapkan home learning (belajar dari rumah) yang lebih variatif. Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan 66 persen orangtua peserta didik tak setuju sekolah di buka bulan Juli 2020. Pihak guru dan peserta didik cenderung setuju karena diduga kuat murid dan guru sudah megalami kejenuhan dengan pembelajaran daring dan home learning (belajar dari rumah), ingin segera bertemu kembali.

Memang sangat riskan jika kebijakan pembukaan sekolah di saat kasus positif Korona masih sangat tinggi. Karena hal itu akan menjadi rentan penularan terhadap peserta didik dan guru. Sebagai contoh, negara-negara yang sudah mulai turun kasusnya, bahkan zero kasus, kemudian membuka sekolah dengan protokol kesehatan, seperti Korea Selatan dan beberapa negara Eropa seperti Prancis, Finlandia, dan Inggris yang dikenal memiliki sistem kesehatan terbaik di dunia, namun ternyata ditemukan kasus baru karena peserta didik dan guru tertular Covid-19.

Sekolah bahkan menjadi cluster baru, yang berimplikasi grafik kasus Korona kembali meningkat. Akhirnya pemerintahnya mencabut kembali kebijakan membuka sekolah tersebut.

Agar pembelajaran berlangsung optimal, semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan sebaiknya menggunakan pendekatan dan teknik pembelajaran yang variatif. Misalnya, pembelajaran dengan menerapkan Pembelajaran teleconference (Pertemuan Jarak Jauh dua arah) dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi untuk pertemuan dua arah, semisal: aplikasi Zoom Claoud Meeting, Google Meet, dan Video Call WA.

Pembelajaran lebih bermakna, menarik, dan meminimalkan kendala jarak. Selain itu guru juga bisa menerapkan memberi tugas kepada peserta didik melalui pembuat video singkat (Vlog), sehingga bisa menumbuhkan kreatifitas serta memberikan suasana yang menarik dan menyenangkan. Di samping itu guru hendaknya menyuasanakan religiusitas (suasana keagamaan) pada pembelajaran jarak-jauh tersebut.

Ketiga, mengoptimalkan pendidikan keluarga (informal). Dengan perpanjangan kebijakan home learning (belajar dari rumah) meniscayakan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua peserta didik. Untuk mewujudkan kerjasama yang baik dengan pihak orang tua peserta didik, sekolah bisa mengadakan program parenting untuk orang tua Peserta Didik dengan daring secara berkala.

Hal-hal yang bisa disampaikan kepada orang tua, misal: pentingnya menuntut ilmu, mendampingi anak melaksanakan ibadah di rumah, membersamai mengaji, cara mendampingi anak-anak belajar di rumah, dll. Dengan begitu pembelajaran dari rumah bisa berjalan optimal, menyenangkan, dan bisa memenuhi target pembelajaran.

Saat ini masih dibutuhkan upaya lebih maksimal lagi guna menghadapi wabah Korona, sebelum diberlakukannya kebijakan sekolah dibuka kembali. Masukan yang disampaikan oleh para pakar dan respon dari masyarakat patut dijadikan pertimbangan oleh pemegang kebijakan pendidikan di negeri ini, agar menunda pembukaan sekolah, hingga situasi dan kondisi pasca pandemi Korona benar-benar sudah kondusif. Semuanya demi kebaikan seluruh warga negara dan masa depan generasi penerus kepemimpinan negeri ini. Wallahu a’lam.

*) Guru SDN Pulorejo Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang
Sebelumnya Berikutnya