KUDU – Menjelajahi kuliner Jombang seolah tak berbatas. Selalu menemukan hal yang baru dan patut dinikmati.

Sejatinya menilai kuliner yang sedap dan laik untuk dicoba itu sederhana. Selain telah bertahan cukup lama hingga puluhan tahun, tentunya juga antrean pembeli mengular. Mereka adalah para pelanggan setia kuliner tersebut. Selain itu pamungkas penilaian itu adalah soal rasa. Harus benar-benar menggugah lidah, biarpun pengelolanya sudah berganti generasi.

Salah satu yang patut dicicipi adalah olahan dendeng sapi di Warung Mbak Ti Pinut. Tak sulit menemukannya karena letaknya tak jauh dari Utara Pasar Tapen, Kecamatan Kudu. Kalau pun akan bertanya, hampir seluruh pedagang ataupun penduduk setempat sudah mengenal warung tersebut.

Boleh dibilang gurihnya pas, tak berlebihan. Membuat lidah melayang menikmati tiap kecapan. Perpaduan rawon pun menjadi kombinasi yang apik. Menarik hasrat untuk menambah lagi, apalagi saat disuap bersamaan dengan dendeng sapi.

Buka sudah lebih dari dua dekade, warung milik Suwarti ini menjadikan dendeng sapi sebagai lauk tambahan menu utama yakni pecel dan rawon. Buka hampir tiap hari dari pukul 05.30 WIB hingga 16.00 WIB. Setiap hari, sajian di warung tersebut mesti ludes. Kalau pun menyisakan, itu jarang dan sedikit saja.

Ketika memasuki warung legendaris itu, aroma olahan dendeng sapi sangat kuat menyambut. Hal itu tak pelak semakin mendorong keinginan saya untuk lekas menjajalnya sendiri. Apakah benar penuturan banyak orang bahwa kuliner yang disajikan benar-benar enak?

Dendeng sapi racikan Suwarti ini memang digoreng langsung ketika ada pembeli. Jadi saat disajikan masih hangat dan membuat pembeli segera ingin menyantap. Baik memesan pecel maupun rawon pasti disertakan dendeng sapi.



Tiap harinya Suwarti setidaknya menghabiskan 3 kilogram daging sapi dan 5 buah kelapa yang agak tua. Itu merupakan bahan dasarnya dan dilengkapi segenap bumbu penuh rempah yang masih diproses dengan cara tradisonal. Setelah bumbu tercampur dengan daging, kemudian dibalut serutan kelapa dan digoreng hingga matang.

Clesssss... sensasi pada gigitan pertama. Bumbunya seakan merasuk rata di seluruh serat daging. Rasa rempah yang khas memenuhi rongga pengecap dan rasanya tak ingin berhenti mengecap. Apalagi saat itu saya memesan rawon, makin menambah kenikmatan dengan kuah yang diseruput membasahi tenggorokan.

Baca Juga: SDN Banyuarang I Ngoro Pertahanan Agresi Militer Belanda II

Boleh dibilang gurihnya pas, tak berlebihan. Membuat lidah melayang menikmati tiap kecapan. Perpaduan rawon pun menjadi kombinasi yang apik. Menarik hasrat untuk menambah lagi, apalagi saat disuap bersamaan dengan dendeng sapi.

Meskipun bentuknya tak beraturan, namun dendeng sapi di Warung Mbak Ti Panut ini laik anda coba. Harganya pun sangat terjangkau, seporsi nasi rawon plus dendeng sapi hanya Rp 10 ribu. Minuman baik es atau hangat berupa teh, kopi, dan jeruk cukup Rp 3 ribu. Jadi tunggu apalagi? Rasakan dan buktikan sendiri.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.

Sebelumnya Berikutnya