NGORO – Jombang masih memiliki beragam tempat yang menjadi saksi bersejarah dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Siapa sangka bangunan SDN Banyuarang I Ngoro menjadi salah satu tempat yang dijadikan situs bersejarah. Dahulu sekolah tersebut pernah menjadi markas pertahanan Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia atau sering disingkat Korps Brimob Polri. Yakni pada tahun 1948 ketika Agresi Militer Belanda II.

Kepala SDN Banyuarang I, Slamet Riyadi, S.Pd. menjelaskan, “Bangunan SDN Banyuarang I menjadi salah satu situs bersejarah yang dimiliki Jombang. Lokasi yang masuk di Dusun Plemahan ini dahulunya tempat pertahanan dan perlindungan Korps Brimob Polri dari serangan Belanda. Berdasarkan ulasan sejarahnya, bangunan sekolah ini bentuk perwujudan rasa terima kasih Korps Brimob Polri saat itu kepada Mbah Harjo Utomo dan masyarakat sekitar Dusun Plemahan yang membantunya dari serangan Belanda.”

Kepala Dusun Plemahan, Sudarsono menceritakan bahwa bangunan fasilitas pendidikan ini berdiri di atas tanah milik Mbah Harjo Utomo dan Mbah Sirin. Berdasarkan latarbelakang statusnya, Mbah Harjo Utomo merupakan kerabat dari kepala desa saat itu dan juga petani desa dengan kekayaan melimpah. Selain itu, dibantu juga oleh Mbah Sirin yang saat itu mengerahkan kemampuan spiritual dengan menutup pandangan tentara Belanda saat mencari anggota Korps Brimob Polri di Dusun Plemahan. Ketika itu yang terlihat hanya bentangan tanamanan di area hutan. Tetapi sebenarnya anggota Korps Brimob Polri sedang berada di tempat tersebut.

Nuansa bangunan tempo dulu begitu terasa dan tampak dari bangunan kelas. Seperti atap yang berbentuk joglo. Ditambah struktur peletakan jendela bergaya kupu-kupu yang memenuhi setengah dari tinggi tembok kelas. Serta lorong ruangan yang dipertegas penyangga kayu jati untuk menopang teras sekolah.

“Luas lahan SDN Banyuarang I Ngoro lebih kurang satu hektare ini dibangun tahun 1960 dan mulai dioperasionalkan pada 1961 dengan membuka pendaftaran peserta didik. Sejarah menulis bahwa ada tiga tokoh sentral dari pihak kepolisian diantaranya Cipto Danu Kusumo, Cipta Wardoyo, dan Cipto Yudho Negoro. Cipto Yudho Negoro menjadi saksi sekaligus peletak batu pertama bangunan SDN Banyuarang I Ngoro,” terang Sudarsono.



Nuansa bangunan tempo dulu begitu terasa dan tampak dari bangunan kelas. Seperti atap yang berbentuk joglo. Ditambah struktur peletakan jendela bergaya kupu-kupu yang memenuhi setengah dari tinggi tembok kelas. Serta lorong ruangan yang dipertegas penyangga kayu jati untuk menopang teras sekolah.

“Bangunan sekolah masih terawat baik. Hanya sedikit renovasi dengan mengganti beberapa kayu yang sudah rapuh, namun tak meninggalkan bentuk aslinya. Selain itu, kami juga menjaga simbol patung polisi istimewa yang berada pada sisi tengah pintu masuk gerbang sekolah. Keberadaan tanda tersebut menjadi salah satu kebanggaan kami warga SDN Banyuarang I Ngoro dalam melestarikan situs bersejarah milik negara,” imbuh Slamet Riyadi.

Baca Juga: Katon Dermawan Menemukan Peluang Bisnis dari Hobi

Slamet Riyadi menuturkan, jika sekolah lain mendapatkan bantuan rehab atau bangun baru kelas, akan mengubah struktur bangunan awal, namun tidak demikian untuk SDN Banyuarang I Ngoro. Selain ingin menjaga bangunan dengan ciri khasnya, masyarakat Dusun Plemahan memegang teguh keaslian bangunan klasik dan melihat nilai sejarahnya.

“Setiap satu tahun sekali, SDN Banyuarang I Ngoro menjadi tempat napak tilas dari Korps Brimob Polri dari berbagai wilayah, utamanya dari Jakarta. Selain itu tempat kami selalu dijadikan perayaan HUT Brimob pada 14 November untuk mengenang perjuangan dan memupuk rasa bangga atas peninggalan sejarah yang diharapkan tak terhapus zaman,” tutup Slamet Riyadi.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y. 
Sebelumnya Berikutnya