BANDAR KEDUNGMULYO - Untuk manarik simpatik penuh, lembaga pendidikan harus tanggap terhadap keinginan masyarakat. Selain itu bisa memahami kondisi lingkungan sekitar kemudian dituangkan dalam beragam program pendidikannya.

Berada di lingkungan yang agamis, membuat Kelompok Bermain (KB) Al Amin, Brodot, Bandar Kedungmulyo memfokuskan muatan keagamaan pada kegiatan pembelajaran anak didik. Setiap pagi selain diajak untuk melafalkan doa sehari-hari, surat-surat pendek, dan Asmaul Husna.

“Bahkan untuk hafalan Asmaul Husna kami gunakan sebagai salah satu standar kelulusan bagi anak didik. Alhamdulillah melalui pembiasaan setiap harinya, anak didik bisa menguasai semuanya,” jelas Kepala KB Al Amin, Brodot, Bandar Kedungmulyo, Niswam Rahmawati, S.Pd.

Berada di lingkungan yang agamis, membuat Kelompok Bermain (KB) Al Amin, Brodot, Bandar Kedungmulyo memfokuskan muatan keagamaan pada kegiatan pembelajaran anak didik.

Terkait kegiatan praktik, seperti wudu dan salat, lembaga yang berdiri sejak 2003 ini mengagendakan kegiatannya di setiap Senin. Khusus Senin pertama di setiap bulan, anak didik diajak mengunjungi masjid atau musala.

Baca Juga: Program Mitigasi Percepat Pertumbuhan Ekonomi

“Selain praktik wudu dan salat, saat kunjungan masjid atau musala anak didik juga diajarkan untuk berinfaq. Menumbuhkan jiwa sosialnya,” ungkap Niswam Rahmawati.

Sementara itu untuk pembelajaran baca tulis juga dimulai melalui pengenalan huruf hijaiyah. Menggunakan metode At Tartil anak didik dikenalkan pada huruf hijaiyah. Pelaksanaannya saat jam istirahat. Di sela-sela anak didik bermain. Sifatnya juga tidak memaksa. Jika mereka tidak mau, dibiarkan saja.

Perempuan berhijab itu menyebut, metode tersebut juga membantu memudahkan anak didik saat dikenalkan pada huruf-huruf alfabet. Anak didik lebih mudah mengerti. Sehingga tanpa paksaan yang berlebih, sebelum masuk SD anak didik sudah banyak yang sudah bisa membaca.

Sinergitas Antar Lembaga

Sedikit berbeda dengan lembaga KB pada umumnya, anak didik di KB Al Amin, Brodot, Bandar Kedungmulyo hanya menempuh pendidikan selama satu tahun. Hal ini disebabkan karena minat masyarakat untuk memasukkan anaknya ke jenjang pendidikan KB masih terbilang rendah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk 'menyekolahkan' anaknya ketika berusia 3,5 tahun yang mana usia tersebut sebenarnya sudah masuk di tahun kedua anak belajar di KB.



“Selain itu di desa juga ada Taman Posyandu (Tapos). Kebanyakan wali anak didik lebih memilih anaknya belajar lebih lama di Tapos hingga usia 3,5 tahun, baru setelahnya dimasukkan ke KB dan lanjut ke TK,” urai Niswam Rohmawati.

Beruntungnya, pengasuh yang ada di Tapos diambilkan dari guru-guru KB dan TK yang ada di Desa Brodot. Sehingga tingkat perkembangan anak tetap terpantau dengan berkesinambungan.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa 

VISI
Terwujudnya Generasi yang Sholeh, Mandiri, Cerdas, dan Sehat

MISI
1. Menyiapkan generasi penerus sebagai Kholifah Fil Ardli (pemimpin di atas bumi);

2. Menyelenggarakan pendidikan yang akan melahirkan peserta didik mengarah pada pembentukan kemandirian;

3. Menyelenggarakan pendidikan yang akan melahirkan peserta didik mengarah pada pembentukan kecerdasan;

4. Mengadakan pendidikan yang mengandung unsur holistik guna membentuk siswa yang sehat secara jasmani dan rohani.

Sebelumnya Berikutnya