MOJOAGUNG – Di belakang sebuah rumah yang sangat sederhana, seorang pria paruh baya terlihat sibuk memberi makan beberapa ekor kambing. Upah memelihara kambing itulah yang digunakannya untuk menyambung hidupnya sehari-hari, ketika untuk sementara dia tidak bisa menerima panggilan mementaskan Pencak Dor.

Pria itu adalah Sudiqno atau yang oleh warga Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung lebih akrab disapa Sodiq. Pria 61 tahun itu dikenal sebagai laki-laki serba bisa. Salah satu pelaku kesenian Pencak Dor. Diajak oleh Mbah Bodro yang juga pelaku senior Pencak Dor di Desa Kademangan, Sudiqno pernah menggeluti dan mengurus Kelompok Kesenian Pencak Dor dan Jaran Kepang Pegon yang diberi nama Mastru Laras.

“Kala itu sekitar tahun 1991-an. Pak Bodro yang mengajak. Saya kemudian kebagian untuk melatih anak-anak gerakan pencak yang sederhana. Karena saat itu juga kelompok yang didirikan sudah tidak Pencak Dor saja, tapi dipadukan dengan Jaran Kepang Pegon,” cerita Sudiqno saat ditemui di kediamannya.

Belajar mengenai Pencak Dor tidak hanya belajar tentang sisi keseniannya tetapi juga ilmu mempertahankan atau membekali diri. Sesuai dengan wejangan dari orangtua bahwa sebagai orang harus memiliki pegangan untuk menjaga diri.

Bersama dengan Mastru Laras, Sudiqno sering ikut tampil saat ada undangan hajatan seperti pernikahan, tasyakuran sunat, atau malam perayaan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sayangnya, kelompok Mastru Laras harus mengalami padam bara api di usianya yang ke-14. Di tahun 2005, kelompok itu terpaksa berhenti beroperasi karena anggota-anggotanya satu persatu sudah berumah tangga dan tak ada lagi generasi yang bersedia meneruskan.

“Saya pertama kali belajar mengenai Pencak Dor kira-kira di usia 15 tahun. Belajar dan berguru pada orang yang memang menggeluti Pencak Dor di daerah Dusun Kemiri. Di sana saya diajarkan mulai gerakan dasar, seperti gerakan hormat pada penonton hingga gerakan-gerakan seperti yang rumit seperti jurus,” ujar Sudiqno.

Baca Juga: KB Al Amin, Brodot, Bandar Kedungmulyo Agama Bekal Utama


Bapak dua putra itu menyebut, saat proses belajar dia tak hanya diajarkan untuk menguasai gerakan pencak. Tapi juga belajar mengenai ketertiban dan kesopanan. Sudiqno menyebut meski Pencak Dor belajar mengenai ilmu bela diri, namun ketertiban dan kesopanan tetap dipegang dengan teguh.

“Belajar mengenai Pencak Dor tidak hanya belajar tentang sisi keseniannya tetapi juga ilmu mempertahankan atau membekali diri. Sesuai dengan wejangan dari orangtua bahwa sebagai orang harus memiliki pegangan untuk menjaga diri,” ujar Sudiqno.

Di usianya yang sudah tak lagi muda ini Sudiqno berharap, suatu saat akan ada generasi muda yang tergerak untuk mau mempelajari Pencak Dor. Karen jika dibiarkan tidak ada penerus, bukan tidak mungkin Pencak Dor menjadi salah satu jenis kesenian yang punah.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini

Sebelumnya Berikutnya