JOMBANG – Masa anak-anak disebut sebagai masa emas atau golden age. Jamak yang menyebut sebagai masa pertumbuhan dan perkembangan. Masa-masa semua hal yang dilihat, didengar, bahkan dirasakan menjadi sumber pengetahuan yang bisa mempengaruhi sikap atau bahkan sifatnya di masa mendatang. Untuk itu diperlukan asupan pengetahuan yang penting dan bermanfaat pada anak-anak.

Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi salah satu bagian yang memegang penting masa perkembangan anak. Untuk itu, para pendidik PAUD diharapkan terus menambah pengetahuannya.

Kepala Seksi Peserta Didik dan Pendidikan Karakter PAUD dan PNF, Bidang Pembinaan PAUD dan PNF, Hari Supriadi, S.Pd mengemukakan, “Kami sudah mengagendakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Pendidikan Literasi Dasar untuk para pendidik PAUD. Materinya mengenai Pendidikan Sosial Finansial (PSF) dan Pendidikan Kemaritiman.”

Dengan adanya Bimtek dan pendampingan intensif selama tiga minggu mengenai PSF. Hasil dari kegiatan tersebut anak didik di PAUD Terpadu Permata Bunda SKB Mojoagung menjadi lebih menghargai uang jajan yang dimilikinya. 

Saat ditanya mengenai alasan Pendidikan Kemaritiman terpilih menjadi materi yang akan disampaikan dalam Bimtek padahal wilayah Jombang tidak termasuk agraris, Hari Supriadi menjelaskan, selain itu menjadi materi yang sudah dipilihkan oleh pemerintah pusat (Direktorat PAUD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia) materi Pendidikan Kemaritiman tetap cocok untuk diajarkan di daerah manapun. Hal tersebut mengingat kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar terdiri atas laut hingga mendapat julukan negara maritim.

“Untuk itu, meski secara geografis tidak dekat dengan laut anak didik di Jombang masih perlu untuk diberi pengetahuan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kelautan,” tambah Hari Supriadi.

Sementara itu PSF akan lebih mengarah kepada memampukan dan mengajari anak untuk bisa memahami kegiatan atau aktivitas mengelola keuangan sehari-hari yang sederhana. Karena ilmu dalam pengelolaan keuangan penting untung diajarkan sedari dini.

Baca Juga: Masa Pendemi Korona Pembelajaran Tetap di Rumah

Diharapkan setelah mengikuti Bimtek, para pendidik yang terpilih menjadi peserta bisa menerapkan materi yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah. Pendidik mampu mengenalkan dan membiasakan kegiatan positif diajarkan selama Bimtek pada anak didik.

Gambaran Materi dan Pelaksanaan

Perlu diketahui ternyata pada 2019 sudah ada tiga lembaga di Kabupaten Jombang sudah telah lebih dulu menjadi pilot project Bimtek materi PSF. Selama tiga hari perwakilan dari tiga lembaga yang ditunjuk itu mendapatkan pelatihan mengenai PSF dari Balai Pengembangan (BP) PAUD Jawa Timur. Setelahnya selama sepuluh minggu dilakukan pendampingan dalam pengaplikasian materi yang telah diberikan dalam kegiatan pembelajaran pada anak didik.

Salah seorang peserta Bimtek PSF 2019 yang juga sekaligus pengelola PAUD Terpadu Permata Bunda SKB Mojoagung, Muzan Darul Hikmah, S.Pd mengatakan, “Dalam praktik PSF anak didik diajarkan pengelolaan keuangan menggunakan konsep membagi sumber keuangan dalam tiga pos utama. Tiga pos itu adalah keinginan atau kebutuhan, berbagi, dan tabungan.”

Perempuan yang akrab disapa Muzan itu lebih detail menjelaskan pembagian sumber keuangan ke dalam tiga pos itu mengajarkan anak didik untuk tidak menghabiskan uang yang dimilikinya dalam sekali waktu. Mereka harus menyisihkan uang yang mereka miliki untuk keperluan yang lainnya.

Agar penyampaian materi dan pembiasaan terhadap kegiatan PSF berjalan menarik dan menyenangkan, guru bisa menggunakan metode bercerita atau menonton video edukasi. Tokoh bernama ‘Aflatoun’ juga dihadirkan sebagai teman anak didik selama menjalankan proses pembiasaan kegiatan PSF.

Kepala SKB Mojoagung, Mundiamah, S.Pd., M.MPd merasa bersyukur dengan adanya Bimtek dan pendampingan intensif selama tiga minggu mengenai PSF. Hasil dari kegiatan tersebut anak didik di PAUD Terpadu Permata Bunda SKB Mojoagung menjadi lebih menghargai uang jajan yang dimilikinya.

“Setiap ada keinginan untuk jajan yang berlebihan mereka akan menimbangnya kembali. Mengingat ada pos berbagi dan menabung yang harus mereka isi juga dari uang saku yang dimiliki,” urai Mundiamah.

Tidak hanya mengajarkan proses pengelolaan uang yang dimiliki dengan memasukkannya dalam tiga pos yang berbeda, PSF juga mengajarkan guru dan anak didik untuk mengatur perputaran uang agar lebih bermanfaat dan berguna. Langkahnya dengan mengajarkan anak didik untuk berwirausaha.

“Di akhir proses kegiatan PSF, bersamaan dengan puncak tema kami mengadakan kegiatan Market Day. Pada acara ini anak didik belajar menjadi wirausaha penjual beragam barang. Ada yang berjualan makanan dan mainan. Saat ada penjual tentu ada pembeli pula. Anak didik belajar kegiatan jual beli. Di sisi lain, mereka juga ditantang apakah masih ingat dengan tiga pos yang sudah diajarkan dan dibiasakan untuk tetap ditaati pengisiannya ketika di hadapan mereka banyak barang yang disukai,” tutur Muzan Darul Hikmah.

Meski yang diajarkan dan dibiasakan mengenai PSF di sekolah adalah anak didik, namun program ini tidak akan berjalan sukses jika tanpa bantuan wali anak didik. Wali anak didik menjadi mitra guru dalam meneruskan pembiasaan-pembiasaan PSF dari sekolah ke rumah. Sehingga pembiasaan pada anak didik berjalan berkesinambungan.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa

Sebelumnya Berikutnya