NGUSIKAN – Kesenian tradisional di Indonesia sangat beragam macamnya. Menjadi tugas generasi muda untuk mengenal, mempelajari, bahkan melestarikannya agar tidak punah di masa mendatang.

Berawal dari niat untuk turut melestarikan kesenian daerah sekaligus upaya dalam pembentukan karakter peserta didik, SDN Kedungbogo Ngusikan menginisiasi hadirnya aneka ekstrakurikuler kesenian. Salah satu yang mashur dan menjadi unggulan adalah reog dan jaranan.

Kepala SDN Kedungbogo Ngusikan, Abdul Manan, S.Pd.SD menjelaskan pemilihan reog dan jaranan sebagai salah satu jenis ekstrakurikuler merupakan hasil dari permintaan dari peserta didik dan masyarakat.

Berawal dari niat untuk turut melestarikan kesenian daerah sekaligus upaya dalam pembentukan karakter peserta didik, SDN Kedungbogo Ngusikan menginisiasi hadirnya aneka ekstrakurikuler kesenian.

“Kebetulan beberapa warga sekitar ada yang berkecimpung dan bergabung di kelompok kesenian serupa. Sehingga ketika mereka tampil, peserta didik langsung melihat sehingga tertarik untuk mempelajarinya. Ditunjang kami juga memiliki guru yang piawai dalam dunia kesenian,” tutur Abdul Manan.

Pria berkumis tipis itu menambahkan untuk mendukung pelaksanaan ekstrakurikuler berjalan maksimal, secara bertahap sekolah melengkapi peralatan yang diperlukan. Dimulai dari pembelian satu set gamelan kemudian dilanjutkan dengan perlengkapan lain seperti kostum dan dadak merak yang menjadi item utama pertunjukan reog. Saat ini SD yang beralamat di Jl. Margo Utomo No. 2 Desa Kedungbogo, Ngusikan itu sudah memiliki dua set gamelan yang siap digunakan.

Pelatih Ekstrakurikuler reog dan jaranan SDN Kedungbogo Ngusikan, Subekti Utomo, S.Pd.SD mengemukakan, peserta didik dari kelas empat hingga enam yang diizinkan mengikuti ekstrakurikuler reog dan jaranan. Alasannya lebih kepada fisik serta mental yang lebih siap. Juga lebih kuat ketika melakukan pementasan di depan banyak orang.

Baca Juga: Nenik, S.Pd Keterbatasan Mengantarkan Jadi Juara

“Untuk awal, peserta didik dibebaskan untuk mencoba segala bagian dalam pementasan reog. Entah itu menjadi pengrawit atau penari. Dari situ kemudian dilihat, peserta didik itu lebih bagus kemana. Jika lebih bagus ke pengrawit maka akan difokuskan kesana. Begitu pula untuk penari-penarinya seperti Warok, Jathil, Bujang Ganong, Klono Sewandono, dan Singo Barong. Khusus untuk Singo Barong yang membawa dadak merak, selain menguasai tariannya juga dipilihkan peserta didik yang memiliki badan kuat dan kekar,” urai Subekti Utomo.

Sejak dirintis pada 2018, Kelompok Reog dan Jaranan SDN Kedungbogo Ngusikan yang diberi nama Putro Singo Manggolo ini sudah tampil di banyak kegiatan. Mereka biasa tampil di kegiatan Agustusan atau karnaval desa. Tidak jarang mereka juga mendapatkan undangan untuk tampil saat warga mengadakan hajatan.



Meski Reog dan Jaranan menjadi ekstrakurikuler unggulan, ekstrakurikuler lain seperti Tari Remo, Drumben, Banjari, dan Pramuka juga tak ingin kalah pamor. Tari Remo dan Drumben secara berkala ikut ditampilkan di hadapan masyarakat.

Begitu pula Banjari yang ditampilkan kala perayaan hari besar Islam atau kegiatan sejenis. Sedangkan untuk Pramuka, baru saja terpilih untuk mewakili Kecamatan Ngusikan untuk mengikuti seleksi Gugus Depan Unggulan di tingkat kabupaten.

“Kedepannya saya juga ingin menjadikan SD ini sebagai Sekolah Adiwiyata, agar visi sekolah yakni terwujudnya sekolah yang unggul, berkarakter serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dapat terwujud,” harap Abdul Manan.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini/Istimewa

Sebelumnya Berikutnya