NGORO – Ketika banyak Taman Kanak-kanak (TK) yang mengeluh karena jumlah pendaftar anak didik berkurang sebagai efek dari pandemi Korona, hal tersebut tidak dirasakan oleh TK Ainul Huda Ngoro. Lembaga yang berdiri sejak 2011 ini justru mengalami peningkatan jumlah anak didik saat penerimaan anak didik baru tahun ajaran 2020/2021 Juli lalu.

Kepala TK Ainul Huda Ngoro, Hj. Siti Maunatul Chasanah, S.Psi tidak menampik bahwa ada masyarakat yang menyatakan dan memilih untuk menunda keikuteserataan buah hatinya untuk bersekolah hingga kegiatan pembelajaran kembali normal masuk ke sekolah.

Namun dirinya juga bersyukur bahwa masih banyak wali anak didik yang tetap percaya dan mendaftarkan anak didiknya untuk bersekolah di lembaga yang dibinanya, meski proses pembelajaran masih dilaksanakan secara daring.

Sesuai dengan prinsip yang telah diarahkan pemerintah untuk tidak memberatkan wali dan anak didik dalam proses pembelajaran daring, memberikan keleluasaan pada wali dan anak didik dalam memproses dan melaporkan perkembangan pembelajaran.

“Dari evaluasi sederhana dan pembicaraan dengan wali anak didik, mereka merasa senang dan puas dengan metode pembelajaran daring yang diterapkan. Selama proses pembelajaran daring, guru tidak sekadar memberikan materi dan tugas, melainkan tetap mendampingi secara intens proses pembelajaran, bahkan dengan memberikan langkah-langkah yang mendetail,” jelas Hj. Siti Maunatul Chasanah.

Guru Kelompok B, TK Ainul Huda Ngoro, Dewi Masulun, S.Pd menambahkan, materi atau tugas pembelajaran dibutuhkan penjelasan yang lebih detail, guru akan membuatkan rekaman suara atau video yang kemudian dikirimkan melalui grup pesan yang sudah dibuat.

Baca Juga: Cangkruk’an Punokawan Virtual Campursari dan Diskusi Wacanakan Pelestarian Seni dan Budaya

“Jika ada kesulitan, wali anak didik bisa langsung berkonsultasi. Guru selalu siap dan akan selalu mendampingi. Secara berkala guru juga melakukan telepon video kepada anak didik. Tujuannya untuk menyapa, memberi semangat, sekaligus memantau perkembangan pembelajaran yang sudah dicapai anak didik,” ujar Dewi Masulun.


Sesuai dengan prinsip yang telah diarahkan pemerintah untuk tidak memberatkan wali dan anak didik dalam proses pembelajaran daring, memberikan keleluasaan pada wali dan anak didik dalam memproses dan melaporkan perkembangan pembelajaran.



“Contohnya, pada kegiatan melipat. Jika wali dan anak didik tidak memiliki kertas lipat berwarna, boleh diganti dengan kertas atau benda lain yang bisa dilipat atau dibentuk seperti yang diintruksikan,” tambah Dewi Masulun.

“Langkah lain guru di sekolah adalah membuat video bersama kemudian dikirimkan ke grup, selanjutnya anak didik menirukan. Intinya semuanya dibuat tetap seru dan menyenangkan,” tutup Hj. Siti Maunatul Chasanah.

Reporter/Foto: Fitrotul Aini

Sebelumnya Berikutnya