JOMBANG – Melestarikan seni tradisi dengan cara mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan ketika melakoninya ternyata dapat membuahkan hasil yang membanggakan. Selaiknya yang dilakukan di TK PKK Tunggorono Jombang, ketika menggalakkan Tari Remo sebagai salah satu pilihan kegiatan yang dilakukan oleh anak didiknya.

Dijelaskan oleh Kepala TK PKK Tunggorono Jombang Susilowati, S.Pd. melalui Tari Remo anak didik tidak saja diajak untuk melestraikan kesenian teradisi asli Kota Santri. Karena secara tidak langsung melatih karakter anak didik lebih matang dengan nilai-nilai positif yang tersirat di dalamnya.

Mesti melarut dalam dunia mereka sehingga mampu menimbulkan kepercayaannya sebagai teman sebayanya di pembelajaran.

“Menari, menggambar, mewarnai, dan menyanyi adalah kegiatan yang lekat sekali dengan anak didik. Tinggal pengemasannya dibuat sesederhana mungkin supaya dapat cepat mengenal dan akhirnya mencintainya. Sehingga dalam melatih gerakan Tari Remo misalnya, tak bisa dipaksakan dengan standar orang dewasa. Melainkan sebagaimana cakupan dan kemampuan anak didik, selanjutnya digembleng rutih agar masih dalam tatanan pakemnya,” ujar Susilowati.

Berikutnya yang menjadi garapan adalah kepercayaan diri. Tidak mudah dalam tahap ini, oleh karena itu bukan anak didik yang masuk dalam dunia Tari Remo, namun sebaliknya. Sehingga memiliki keteguhan kepercayaan diri ketika menampilkan di luar lingkungan kesehariannya. Misalnya saat ada kegiatan di sekolah maupun pentas dalam rangka kegiatan tertentu.


Baca Juga: Jalan Panjang Kurikulum Kondisi Khusus


Hal itu dibenarkan oleh Guru Kelas A2, Chusniyah, S.Pd bahwa dunia anak sangatlah luas dan beragam. Untuk itu dirinya tak menampik ketika mengajari anak didik di TK PKK Tunggorono Jombang mesti melarut dalam dunia mereka, sehingga mampu menimbulkan kepercayaan sebagai teman sebayanya di pembelajaran tersebut. Akhirnya ketika melatih Tari Remo, anak didik bisa luwes tanpa merasakan ada batasan dimensi dalam pembelajaran.



Chusniyah, S.Pd., mengatakan, “Kerap saya memberikan contoh kepada mereka seperti temannya bermain. Kemudian mereka menirukan gerakan maupun pelafalan yang diajarkan. Dengan demikian, pengetahuan materi yang disampaikan akan terekam secara alami.”

Susilowati menambahkan, metode ini diterapkan pula dalam pembelajaran yang lain. Ternyata anak didik lebih cepat menerima dengan pemahaman yang utuh walaupun awalnya menangkap maknanya dari pembelajaran berbeda-beda.

Reporter/Foto: Chicilia Risca Y.

Sebelumnya Berikutnya