![]() |
Pelajaran outdoor mengamati tanaman mangga. (ist) |
MEGALUH – Menjadi guru pada Kelompok Bermain (KB) yang notebene masih usia dini serta menjadi pijakan awal dalam merengkuh pendidikan formal bukanlah sesuatu yang mudah. Selain guru harus mampu menjadi jembatan anak didik dari lingkungan sebelumnya di rumah, guru pun wajib membawakan materi pembelajaran dengan baik. Serta memberikan pemahaman secara perlahan apabila terdapat anak didik yang sukar dalam melakukan pemahaman.
Pembelajaran di KB (Kelompok Bermain) tidaklah semudah di jenjang lainnya yang lebih tinggi. Selain harus mengikuti dunia anak didik yang cenderung bermain, guru pun harus mampu menjadi sosok orangtua sesungguhnya. Membantu segala macam kesulitan yang dihadapi oleh anak didik dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.
Hal ini pula yang dirasakan oleh KB Tunas Harapan Megaluh. Walaupun begitu setiap guru telah dibekali pola mendidik anak yang tak ubahnya seperti buah hatinya sendiri. Kalau pun ada yang kurang memahami, guru dengan suka cita mendampingi pembelajaran anak didik tersebut.
Baca Juga: Rp 2,6 Miliar Untuk Media Pembelajaran
Diuraikan oleh Kepala KB Tunas Harapan Megaluh, Lilik Nur Hidayati bahwa kesulitan pembelajaran anak didik biasanya ketika dalam tahapan pengembangan materi pada suatu tema. Kalau diterlusuri maka banyak penyebab. Menariknya di KB yang terletak di Dusun Bungkil, Desa Kedungrejo, Kecamatan Megaluh ini tidak menjadikan itu sebagai permasalahan utama. Andai kata ada kesulitan yang dihadapi peserta didik, maka guru bak mengasuh anaknya sendiri. Mereka dengan lembut memberikan penjelasan kembali.
![]() |
Kepala dan Guru Yayasan Tunas Harapan, Megaluh. (ist) |
![]() |
Cooking class. (ist) |
![]() |
Berkunjung ke Kantor Pos. (ist) |
Reporter/Foto: Chicilia Risca Y./Istimewa