JOMBANG – Deru pemilihan presiden telah berlalu. Namun PR terbesar di dunia pendidikan tentang pemerataan akses, kesejahteraan guru, serta partisipasi yang berasas keadilan masih menyisakan benang kusut.

Oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang, potret kusutnya kondisi pendidikan ini digulirkan ke publik, lewat diskusi bertajuk “Glosarium Pendidikan, Kapitalisme Pendidikan Benarkah ?”. Digelar melalui Zoom Meeting pada Minggu malam (11/2) lalu, serta diikuti oleh 42 peserta yang hadir dari pelbagai latar belakang, pendiskusian berlangsung selama ± 90 menit.

Baca Juga : Jamu Warisan Lampau Yang Mendunia


Pada kurun waktu tersebut Alfian Bahri, seorang guru yang juga aktivis Perhimpunan Pendidikan dan Guru Surabaya, yang didapuk menjadi pembicara, banyak membahas kasuistik dari maksud kapitalisme pendidikan. Imbasnya pun banyak, mulai dari minimnya akses serta kesetaraan kualitas pendidikan yang tidak merata.

Flyer Diskusi (ist)


“Isu ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Karena pada dasarnya memahami kapitalisme pendidikan adalah, ketika hak bersekolah yang seharusnya sudah dijamin oleh negara tetapi malah diserahkan laiknya barang dagangan di pasar. Akhirnya, akses pendidikan ini disegala jenjang mulai dari PAUD sampai Peguruan Tinggi ditentukan oleh banyaknya uang pembelinya,” tegas Alfian Bahri.

Founder Guru Amatiran ini melanjutkan, dalam melihat, menilai, menelisik kapitalisme pendidikan, pisau analisisnya harus ke persoalan yang substansial. Artinya, melihat ketimpangan akses pendidikan serta minimnya partisipatif kebijakan dari negara ini, maka wacana kapitalisme pendidikan ini akan menjadi persoalan publik. Bukan persoalan individu.


“Ambil contoh saat PPDB, yang dilihat pertama kali oleh orangtua itu apa ? brosur pembiayaan, berapa sppnya ? berapa uang gedungnya ? uang pangkal dan segala tentang berapa yang harus dibayar orang tua agar anaknya mendapat sekolah yang baik dan sesuai modal. Ini jelas menjadi hambatan cita-cita pendidikan untuk memperbaiki kualitas hidup,” imbuh Alfian Bahri.


Alfian Bahri saat menyampaikan materinya. (Donny)

Terakhir, sebagai penutup pemaparan materi Alfian Bahri juga menuturkan bahwa solusi yang dapat ditempuh dalam mengikis kapitalisasi pendidikan ialah, dengan mendorong pemerintah membuka akses yang setara. Tak lupa juga dibarengi kesetaraan atribut pendidikan, mulai kelayakan sarana prasaranam hingga kesejahteraan para pendidik.

Dihubungi via WhatsApp, Ketua PMII Komisariat Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang, Amirul Mirza Ghulam, membeberkan, latar belakang pendiskusian ini memang berangkat dari fenomena banyaknya perguruan tinggi yang makin tinggi pembiayaannya. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi inflasi pendidikan, dikarenakan biaya pendidikan meninggi tapi tidak sebanding dengan kesejahteraan masyarakat.


Materi Diskusi. (Donny)

“Lalu untuk tujuannya, supaya isu pendidikan yang masih timpang dari segi akses dan pemerataannya dapat membuka pemahaman publik. Bahwa, memang ini persoalan bersama, dimana pendidikan harus menjadi hak warga negara tanpa terkecuali. Wajib adil dan merata, ini menjadi kata kuncinya,” tandas Amirul Mirza Ghulam. ■ donny darmawan 

Lebih baru Lebih lama